Minai, 50 Tahun Sekali

picsart

Gadis delapan belas tahun itu menyusuri bibir jalan tanah yang sempit. Petang menyertainya, sementara dia terus mengepalkan tangan karena serangan dingin. Tubuh, hati, dan kemungkinan nasibnya dalam beberapa jam ke depan, semua itu terasa dingin menusuk. Dia menggigil dengan rahang terkatup rapat.

Akan tetapi, dia tetap melangkah tanpa menoleh ke belakang sama sekali.

Nama gadis berambut hitam sepunggung itu Timah. Posturnya tegap karena sering berolahraga, namun tetap menunjukkan sisi femininnya. Sore ini dia mengenakan setelan training gelap yang dilengkapi dengan sepatu kets usang berwarna serupa.

Timah makin jauh meninggalkan desa kecil tempat dia lahir dan dibesarkan, yaitu Minai.

Kurang lebih 900 orang tinggal di Minai. Desa kecil ini memiliki satu balai pengobatan dan satu lapangan olahraga yang sering panen pengunjung di akhir pekan atau liburan. Desa Minai dikelilingi hutan dengan deretan pohon yang tumbuh rapat.

Ada sejarah tidak nyaman yang dimiliki oleh salah satu desa di Kutai Kartanegara ini.

Dua ratus tahun yang lalu, hiduplah seorang gadis yatim-piatu, namun tumbuh besar tanpa kekurangan apa pun. Makanan, pakaian, hingga kasih sayang. Warga di desanya tidak pernah membiarkan anak itu menderita barang sedetik pun.

Dengan bertambahnya usia, dia akhirnya mulai mencium bau amis pada gelagat aneh orang-orang di sekitarnya. Mereka terlampau baik. Terlalu memperhatikannya. Sifat rendah hati membuatnya merasa tidak pantas menerima jamuan dan senyuman di setiap rumah yang dia datangi.

Saat dia mencapai usia Timah, gadis itu pun akhirnya dihadapkan pada kenyataan mengerikan di balik setiap makanan, dekapan, dan kenyamanan yang dia peroleh selama hidupnya.

Dia adalah tumbal pertama dan terakhir untuk menghentikan wabah di desanya.

Hantu Teluk menerima pengorbanan anak yatim-piatu tersebut. Wabah kolera mereda hanya sebulan setelah dia digantung dalam posisi terbalik, di dalam hutan. Tubuh disayat pisau tidak kasatmata, gendang telinga pecah oleh suara di dalam kepalanya, dan napasnya habis karena dia tidak berhenti menangis selama tiga hari berturut-turut. Ketakutan seorang diri.

Untuk menghargai pengorbanannya, warga menyebut desa mereka sesuai dengan nama sang gadis, yaitu Minai.

Manusia-manusia terkutuk! Mereka bilang Minai adalah tumbal terakhir. Lalu, aku ini apa? Dua orang sebelum aku itu apa?

Timah melampiaskan kemarahan dengan rangkaian makian. Air mata meleleh tanpa bisa ditahan. Apa pun yang dia pikirkan dan rasakan, semua itu tidak berguna. Warga hanya ingin anak tanpa keluarga yang pergi ke ambang maut. Timah sempat ingin menolak, namun dia dihadapkan pada dua pilihan berat.

Antara dirinya atau wanita tua yang membesarkannya, dia harus menyelamatkan salah satu.

“Kamu enggak mungkin membiarkan Nenek pergi ke sana, kan?” kata wanita tua yang dia panggil nenek, seminggu yang lalu.

Timah dibungkam hanya dalam hitungan detik. Kasih sayang yang dia terima menjelma menjadi hutang nyawa yang harus dia bayar dengan anggukan saat ini juga.

“Iya, Nek. Aku siap ke hutan.”

Sang nenek tersenyum, lalu menarik Timah ke dalam dekapan. “Sekarang kamu sudah paham kenapa Nenek selalu suruh kamu makan sayur, daging, dan buah. Olahraga dan pengobatan-pengobatan menjijikkan itu bukan candaan, tapi persiapan untukmu.”

Inilah alasan lain yang membuat Timah menilai nenek angkatnya itu jauh lebih baik daripada siapa pun di desanya.

Sejak dia berusia sebelas tahun, nenek memintanya jogging di sore dan pagi hari, berenang, makan hidangan seimbang, dan meminum beragam ramuan herbal. Selain itu, Ritual Tanggal 15 juga sempat menyiksanya selama dua tahun penuh.

Kalau ada yang bertanya-tanya soal apa yang terjadi pada pertengahan bulan tersebut, maka hati dan pencernaannya harus kuat saat mendengar jawaban.

Waktu itu, Timah baru saja berusia tiga belas tahun, ketika neneknya tiba-tiba memukul tulang keringnya hingga remuk. Timah meronta dan pingsan, lalu bangun dengan tubuh berbalur minyak kelapa beraroma gosong.

“Ini minyak dengan campuran kaki burung bubut bermata tiga,” kata neneknya sambil meratakan olesan minyak pada kaki Timah yang bengkak.

Timah bergeming karena demam, tapi dia cukup sadar untuk memahami perkataan wanita tua tersebut.

“Nangkap satu ekor burung bubut mata tiga itu enggak mudah. Kamu harus kenal sama bau kotorannya. Membuat minyak ini juga bukan main perjuangannya. Setiap malam Sabtu, Nenek harus mematahkan salah satu kaki bubut, memanggangnya sedikit, lalu mencampurkannya ke dalam botol minyak kelapa. Kita beruntung karena bubut itu baru mati setelah bulan kedua kakinya Nenek patahkan secara berulang-ulang.”

Timah kecil menangis. “Kakinya bisa tumbuh?”

Nenek mengangguk. “Iya, tapi bukan sembarang bubut yang bisa begitu.”

Kekejaman teknik pengobatan sang nenek tidak berhenti sampai di situ.

Suatu hari, Timah jatuh dari tangga rumah panggung setinggi empat meter mereka. Dia tidak terpeleset maupun mendadak pusing. Seseorang baru saja mendorongnya dari belakang. Iya, sang nenek adalah pelakunya. Bocah berusia empat belas tahun itu menangis kesakitan karena pergelangan kaki kanannya patah.

Bukannya langsung memeriksa kondisi Timah atau meminta pertolongan, wanita tua itu malah beranjak ke halaman belakang, lalu kembali dengan dua ekor anak ayam hidup di tangannya. Dia melirik alu besar berbahan kayu di bawah rumah.

Timah menjerit saat wanita itu membalut kakinya yang patah menggunakan anak ayam sebagai ramuan. Dia masih bisa menerima daun malam maupun kepiting biru, tapi unggas ….

“Ini adalah obat turun-menurun. Kakimu akan sekuat anak Hantu Teluk, Timah. Kamu pasti bisa berlari sejauh yang kamu mau, secepat yang kamu mau,” kata neneknya sore itu.

Dalam setahun, Timah mengalami patah tulang sebanyak dua belas kali. Walaupun kejam dan menjijikkan, ramuan milik neneknya adalah yang terbaik. Tidak ada yang tahu kalau dirinya pernah terluka parah karena dia mampu beregenerasi lebih cepat dari manusia kebanyakan.

“Nenek takut berhadapan langsung dengan Hantu Teluk, jadi hanya ini yang bisa kulakukan. Menambal lukamu dengan daging dan mencampur darahmu dengan kehidupan dari makhluk bernyawa yang langka adalah usaha terakhirku.”

Timah terdiam karena sepertinya tidak memiliki celah untuk berdoa.

“Kamu takut?” tanya neneknya.

Timah menggangguk dengan air mata berurai.

“Jangan takut. Kamu tidak sendirian di sana.”

Malam telah datang. Kalau saja hari ini tidak memiliki bulan purnama, Timah pasti kesulitan melihat karena dia tidak boleh menggunakan senter. Celah dedaunan sudah sedikit membantunya.

Aku tidak sendirian? Maksudnya, bukan cuma aku yang sudah menjadi tumbal. Apa bagusnya?

Angin berembus. Aroma basah menyerang penciuman. Suara hewan malam riuh ketika dia masuk semakin jauh ke kedalaman hutan. Soal serangan serangga, hal itu tidak perlu dibahas.

Lalu ….

“Awuuu!!”

Seruan mirip lolongan itu menggema dan mengisi seluk hutan. Timah sontak mematung. Matanya mendelik panik, sementara jantung memompa cepat.

“Eyaahhaa!!”

Seruan lainnya.

Timah berlari dan segera duduk meringkuk di dekat pangkal pohon raksasa berongga besar.    

“Awwuuu!!”

“Eyyaahhaa!!”

Seruan muncul berkali-kali hingga membuat Timah yakin kalau itu adalah suara dari pemilik yang berbeda. Dua orang, atau dua makhluk? Istilah mana yang harus dia pakai? Entahlah.

“Malam ini rasanya agak beda. Minai ketiga mungkin udah datang.”

“Kayaknya.”

Minai? Ketiga?

“Sial! Dia bentar lagi datang.”

“Ayo kita cari dia dulu. Kasihan kalau sendirian.”

 “Minai ketiga! Apa kamu di sini?” panggil si pemilik suara dalam.

“Jangan takut. Kita saudara,” tambah suara cempreng.

Timah akhirnya memahami maksud nenek angkatnya. Tanpa menunda, atau menduga kalau suara-suara itu hanyalah tipuan Hantu Teluk, dia keluar dari persembunyian.

“Aku Timah, bukan Minai.”

“Oh! Aku bisa dengar suaranya!”

 “Aku Anin, Minai pertama.”

“Aku Diana, Minai kedua. Kamu harus ngomong lebih kencang supaya kami bisa dengar.”

“Aku enggak paham,” balas Timah.  Dia hanya mendengar suara dari makhluk tak berwujud.

“Kalau begitu, kita harus kumpul di satu titik dulu.”

Walaupun tidak saling lihat, mereka memutuskan berkumpul di dekat rongga pangkal pohon raksasa.

Timah menangis saat mendengar cerita Anin dan Diana. Setelah kematian Minai yang asli, keluarga angkat mereka memutuskan untuk melatih calon tumbal selanjutnya. Pertemuan Timah dan neneknya bukanlah faktor kebetulan. Para pengasuh itu sudah mengabdikan diri kepada para calon tumbal.

“Nenek …,” desah Timah.

“Aku dulu kakek,” timpal Anin.

“Aku kakak laki-laki. Dia kejam betul,” tambah Diana.

“Aku harus berbuat apa sekarang?” Rasa takut membuat suara Timah goyah.

“Lari secepat mungkin sampai Minai ketujuh datang. Sekitar 200 tahun lagi, kita udah punya cukup tenaga buat menghabisi Hantu Teluk. Setelah 200 tahun, kita enggak cuma bisa menyelamatkan diri, tapi seluruh warga di desa,” kata Anin.

“Aku jadi semakin pengen pulang.” Diana terbatuk. “Hah! Bau busuk Hantu Teluk sudah tercium. Kita harus lari sekarang.”

“Jangan sebut namamu,” kata Anin. “Pakai suara hewan atau apa saja. Hantu Teluk harus memakan kita secara berurutan supaya usianya kekal. Dia cuma punya dua pilihan: makan satu-satu dari yang pertama, atau semuanya sekaligus. Kita harus sama-sama, tapi jangan terlalu berdekatan.”

“Tung-guk!” balas Timah.

“Itu punyamu?’ tanya Diana.

“Iya. Aku suka suara burung tungguk.”

Bersamaan dengan aroma busuk yang makin lekat, suara hewan-hewan dalam hutan juga berangsur raib. Dedaunan bergemerisik karena tiupan panik angin. Malam makin larut, namun semangat ketiganya malah membara.

Mereka berpencar.

“Aawwuu..” mulai Anin.

“Eyyaahaa..” sambut Diana.

Setelah merengut dalam waktu yang lama, senyum pertama Timah pun mengembang.

“Tung-guk!”

Pelarian mereka kembali dimulai.

_

Ditulis dan dipublis di Risalah Misteri di tahun 2021, lalu dihapus dan ditaroh kembali di sini setelah diperbaiki. Cerpen ini cuma permulaan (^_^)