Terjebak di Masa Lampau

Terjebak

Nurdin dan Mamet senang sekali. Liburan sekolah nanti ini mereka akan menjenguk kakek dan nenek. Kakek dan nenek tinggal di desa, di sebuah rumah tua dengan halaman yang luas dan pemandangan pegunungan yang indah. Udaranya sejuk dan sangat cocok untuk beristirahat.

Liburan sekolah tiba, mereka berempat berkendara selama lebih 6 jam dari kota melewati jalan-jalan di pegunungan yang berkelok-kelok. Sore sudah menjelang ketika mereka tiba di rumah kakek dan kemudian mereka beristirahat.

Namun Nurdin yang berusia 11 tahun serta Mamet yang baru berusia 8 tahun segera bermain baik di dalam rumah maupun halaman rumah. Mereka senang dengan suasana di kampung ini.

“Nurdin, Mamet, kalau main jangan jauh-jauh dan pastikan sebelum magrib sudah pulang ke rumah,” kata kakek memberi nasehat. Nenek, dibantu ibu sedang sibuk menyiapkan makanan untuk malam nanti. 

Nurdin dan Mamet langsung bermain berlarian di halaman dan lapangan serta taman bunga di sekitar rumah. Di belakang rumah juga ada sebuah danau kecil yang lumayan indah dan tempat yang asyik untuk bersantai sambil menanti tenggelamnya matahari.

Bosan bermain di luar rumah, keduanya mulai menjelajah rumah kakek yang lumayan luas. Walau sebuah rumah tua, tetapi memiliki dua lantai dengan beberapa kamar. Mereka menjelajah dari satu ruangan ke ruangan lain di lantai atas. Kamar di lantai atas banyak yang kosong dan keduanya suka main petak umpet atau berlarian saja kesana kemari.

“Mamet, ayo kita main di sini,” kata Nurdin kepada adiknya dan mereka kemudian masuk ke sebuah kamar yang kebetulan tidak terkunci. Kamar ini lumayan besar dan di dindingnya banyak digantung foto-foto lama. Asyiknya lagi kamar ini mempunyai balkon di mana Nurdin dan Mamet bisa menikmati pemandangan halaman rumah dan gunung serta lembah di kejauhan.

“Nurdin, Mamet, ayo ikut kami,” sayup-sayup terdengar suara anak lelaki memanggil dari sudut kamar. Nurdin dan Mamet berlari ke arah asal suara tersebut. Dua anak lelaki sebaya mereka menyambut dengan gembira.

“Ayo ikut kami,” kata anak lelaki yang lebih besar, usianya mungkin sebaya dengan Nurdin dan adiknya yang seusia Mamet hanya bersorak gembira. Mereka menuju ke buah rak buku, membuka sebuah pintu kecil dan kemudian masuk ke dalamnya.

Nurdin dan Mamet, mengikuti dua anak lelaki tadi kemudian muncul dari balik sebuah pohon kapuk besar yang ada di semak-semak di antar pepohonan bambu. Mereka berada di sebuah tanah lapang dekat sebuah danau kecil. Banyak anak sedang bermain dengan gembira di sini.

Sebuah dunia baru membentang di hadapan Nurdin dan Mamet. Suasananya sekilas mirip di kampung kakek. Yang baru buat Nurdin dan Mamet adalah banyaknya anak-anak serta  jenis permainan yang dimainkan anak-anak itu. Permainan mereka umumnya jarang dikenal oleh Nurdin dan Mamet. Ada kelereng, gasing, egrang, dan lompat tali. Ada juga yang bermain layang-layang dan gobak sodor. Sementara anak perempuan bermain congklak, masak-masakan, bola bekel dan masih banyak lagi.

Sejenak, Nurdin dan Mamet asyik sekali bermain sampai lupa waktu. Ketika azan magrib menggema, mereka baru ingat pesan kakek dan minta kepada dua anak lelaki yang bernama Amin dan Amir untuk mengantar pulang.

“Nurdin, Mamet, Jangan bilang ke ayah atau kakek kalian kalau main bersama kami,” pesan Amin, anak yang lebih besar.

“Baik, Ini rahasia di antara kita, besok kita bermain lagi,” kata Nurdin.

Mereka diantar ke pohon kapok dekat rumpun bambu. Lalu secara ajaib muncul kembali di kamar di lantai dua rumah kakek.

“Nurdin, Mamet, di mana kalian?” terdengar suara ayah, ibu dan kakek memanggil-manggil. Mereka segera turun ke beranda dan bercerita bahwa sebenarnya mereka tidak ke mana-mana dan hanya bermain di lantai atas.

Esok pagi Nurdin dan Mamet bersama ayah, ibu, serta kakek dan nenek berwisata ke beberapa tempat menarik di sekitar desa mereka. Ada tempat pemandian air panas, dan juga situ atau danau yang indah. Singkatnya Nurdin dan Mamet sangat senang dan menikmati liburan di kampung kakek.

Menjelang sore, mereka sudah kembali di rumah. Setelah istirahat sebentar, Nurdin dan Mamet sudah tidak sabar untuk bermain bersama Amin dan Amir serta teman-temannya di dunia mereka yang mengasyikkan. Bahkan sebelum mereka naik ke lantai atas, suara panggilan Amin dan Amir juga sudah terdengar menggoda.

Mereka kembali naik ke kamar di lantai atas. Dan sebelum memasuki lemari buku, Mamet sempat melihat sebuah foto tua tergantung di dinding.

“Amin, Amir, apa itu foto kalian?” tanya Mamet sambil menunjuk ke sebuah foto di mana ada tiga orang anak, dua di antaranya adalah Amir dan Amin dan seorang anak lelaki lain yang lebih kecil usianya. Mungkin baru tiga atau empat tahun,

“Ya itu foto kami bertiga dengan adik bungsu kami,” jawab Amin.

Mereka berempat memasuki pintu di rak buku dan kemudian kembali tiba di pohon kapuk dekat rumpun bambu untuk bergabung dengan anak-anak lainnya bermain dengan gembira.

Nurdin dan Mamet kembali menikmati permainan anak-anak yang sudah jarang dijumpai di rumah mereka. Mereka berdua benar-benar merasa Bahagia ikut ke dunia anak-anak yang dimiliki Amin, Amir, dan teman-temannya.

Ketika mereka sedang asyik bermain, tiba-tiba cuaca berubah dengan cepat. Awan menjadi gelap dan hujan turun dengan lebatnya. Sebagian tempat sudah mulai tergenang air. Sungai di dekat lapangan mereka bermain mulai meluap.

Amin dan Amir segera mengajak Nurdin dan Mamet untuk pulang kembali ke pojok pohon kapuk. Namun seperti kata pepatah, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Baru saja selesai Mamet masuk ke lubang di pohon tersebut, pohon kapuk tersebut tumbang diterjang air dan angin ribut. Nurdin tertinggal di dunia Amir dan Amin. Sementara Mamet kembali ke dunia ayah dan kakek.

“Nurdin, Mamet,” kembali terdengar teriakan kakek, ayah dan ibu. Kali ini mereka lebih cemas karena sudah hampir waktu Isya, kedua anak tersebut belum kembali dari bermain. Tiba-tiba saja Mamet muncul dari balik pintu rak buku. Kakek segera memeluknya dan bertanya kenapa Nurdin belum pulang.

Sambil menangis, Mamet menceritakan semua yang telah terjadi.

Tiba-tiba saja Mamet menunjuk ke foto tiga anak yang kemarin sempat dilihat. Sekarang ada empat anak di foto tua itu. Salah satunya adalah foto Nurdin.

#CeritaMisteriRamadan