Raja Ini yang Mengeluarkan Wangsit Siliwangi

Situs Kerajaan Pajajaran. Foto: ist

Dari mana asal muasal nama Siliwangi? Dari silsilah raja-raja Sunda baik saat masih di Kawali (Ciamis, Jawa Barat bagian Timur ) maupun di Pakuan Pajajaran (Bogor) tidak ada satu pun yang bernama atau bergelar Siliwangi.

Menurut pemahaman umum Siliwangi berasal dari silih dan wawangi. Dengan demikian secara harfiah Siliwangi berarti ”pengganti yang harum (wangi)”. Jika dikaitkan dengan Uga Wangsit Siliwangi, maka sangat mungkin Siliwangi diberikan sebagai nama pengganti pembuat wangsit dengan tujuan untuk menyembunyikan identitasnya karena alasan keamaman .

Ingat, Uga Wangsit Siliwangi ditulis oleh seseorang, mungkin abdi dalem atau orang kepercayaan pembuat wangsit. Sebab kata uga bisa diartikan sebagai tafisr atau ramalan, sedang wangsit dalam konteks ini bermakna petuah. Dengan demikian Uga Wangsit Siliwangi bermakna tafsir terhadap petuah dari seseorang yang disamarkan dengan nama Siliwangi.

Lalu siapa orang? Dari lima raja yang bertahta di Kerajaan Pakuan Pajajaran sesudah Prabu Sri Baduga Maharaja moksa di Gunung Halimun, nama Ratu Nilakendra dan Prabu Raga Mulya berada di urutan teratas.

Ratu Nilakendra memang yang memindahkan pusat pemerintahan ke luar Kota Pakuan (Bogor). Namun saat itu istana belum jatuh, benteng kota belum bisa ditembus oleh pasukan Banten di bawah komando Sultan Hasanuddin dan putranya Maulana Yusuf. Kepergiannya dari keraton lebih dimaksudkan sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu benteng runtuh karena pasukan Pajajaran di luar benteng sering kalah menghadapi pasukan Banten.

Tetapi kecil kemungkinan Ratu Nilakendra yang memberi wangsit dan mendapat julukan Siliwangi. Sebab meski menyukai seni dan tulisan indah, semisal membangun rumah keramat (bale bobot) yang dihiasi dengan bermacam-macam kisah, Sang Ratu tidak disukai rakyatnya. Bahkan Nilakendra yang juga dikenal dengan sebutan Tohaan di Majaya, dianggap sebagai raja yang gemar foya-foya dan penganut sekte Tantra- sekte yang mengagungkan persetubuhan laki-laki da perempuan.

Di bawah kekuasaannya, rakyat Pajajaran banyak yang kelaparan sebagaimana tertulis dalam naskah Carita Parahiyangan. Dari gambaran seperti itu, jelaslah Ratu Nilakendra tidak mungkin mendapat julukan wangi atau harum.

Dengan demikian tinggal satu raja yang sangat mungkin diberi julukan Siliwangi yakni Prabu Raga Mulya alias Suryakencana atau yang dalam naskah Carita Parahiyangan disebut dengan Nusya Mulya.

Apa alasannya? 

Saat itu Raga Mulya tidak bertahta di Istana Bogor. Keraton hanya dijaga oleh prajurit-prajurit pilihan. Namun demikian hingga Sultan Hasanudin wafat dan tampuk Kerajaan Banten dipegang Maulana Yusuf, benteng Pajajaran tetap kokoh. Dibutuhkan waktu selama 12 tahun bagi pasukan Maulana Yusuf untuk untuk menaklukkannya. Itu pun setelah adanya pengkhianatan dari perwira penjaga benteng.

Di masa akhir Kerajaan Pakuan Pajajaran, Prabu Raga Mulya bertahta di Pulasari Pandeglang. Itu sebabnya Raga Mulya juga dikenal dengan sebutan Pucuk Umun (Panembahan) Pulasari.

Setelah Pajajaran runtuh di tahun 1579, Raga Mulya yang tidak lagi menyandang gelar raja kemungkinan bermaksud meninggalkan keduniawian. Nah, di saat-saat itulah Raga Mulya mengeluarkan wangsit atau petuah kepada rakyatnya.

Mari kita simak Uga Wangsit Siliwangi secara utuh.

Di bagian pembuka disebutkan :

Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin.”

Dari kutipan itu jelaslah jika saat wangsit diucapkan, Kerajaan Pajajaran sudah runtuh. Prabu Raga Mulya yang namanya kemudian disamarkan dengan sebutan Siliwangi merasa tidak pantas tetap menjadi raja jika rakyatnya kelaparan.

Kalimat pembuka ini juga menjadi alas argumen jika Uga Wangsit Siliwangi tidak dibuat atau diucapkan oleh Prabu Sri Baduga Maharaja. Sebab saat Sri Baduga moksa, Kerajaan Pakuan masih berdiri kokoh. Bahkan penerusnya, Prabu Surawisesa mendapat julukan perwiira perkasa yang pemberani. Sebab selama 14 tahun berkuasa, Surawisesa a melakukan 15 kali pertempuran untuk memperluas Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Selanjutnya disebutkan dalam Uga Wangsit Siliwangi:

Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!”

Petuah ini sangat jelas ditujukan kepada rakyatnya yang sedang kebingungan. Prabu Siliwangi lantas mengelompokkan rakyatnya berdasarkan aspirasi dan polarisasi politik saat itu. Kalimat “kota yang ditinggalkan” sangat mungkin merujuk pada Pakuan Pajajaran yang sudah lama ditinggalkan.

Sedang ungkapan “raja yang sedang berkuasa” jelas ditujukan kepada Sultan Banten Maulana Yusuf, yang ditegaskan di alenia ketiga.

Baca juga : Urang Sunda Wajib Tahu! Wangsit Siliwangi Bukan Petuah Sri Baduga Maharaja