Urang Sunda Wajib Tahu! Wangsit Siliwangi Bukan Petuah Sri Baduga Maharaja

Ilustrasi/Ist

Pemahaman yang berkembang di tengah masyarakat Sunda saat ini, Prabu Siliwangi adalah nama lain dari Prabu Jayadewata Sri Baduga Maharaja dari Kerajaan Sunda atau yang lebih dikenal dengan nama Pakuan Pajajaran. Sebelum ngahiang (moksa atau menghilang ke alam gaib) Prabu Siliwangi menulis wasiat yang kemudian dikenal sebagai Uga Wangsit Siliwangi.

Padahal peristiwa ngahiang Sri Baduga dan Uga Wangsit Siliwangi adalah dua hal yang berbeda. Sebab nama atau sebutan Siliwangi sejatinya bukan untuk Sri Baduga. Mengapa demikian?
Silakan simak uraiannya secara tuntas agar tidak menimbulkan tafsir berbeda dan meneruskan “kesalahan” selama ini.

Mari kita mulai dengan peristiwa ngahiang-nya Sri Baduga, raja Sunda ke-35 yang sering dianggap sebagai Prabu Siliwangi tersebut. Ada banyak versi terkait peristiwa ini.

Versi pertama, Prabu Siiliwangi berubah wujud di hutan Sancang, di wilayah Garut, Jawa Barat bagian Timur.

Di sini pun ada dua pendapat di mana ada yang menyebut ketika Raden Kian Santang melakukan pengejaran untuk memaksa ayahnya memeluk agama Islam dan tiba hutan Sancang, Prabu Siliwangi dan seluruh prajuritnya berubah menjadi harimau yang dalam bahasa Sunda disebut maung dan masuk ke goa. Prabu Siliwangi berubah menjadi harimau putih sedang prajuritnya menjadi macan penjaga.

Kian Santang adalah putra Sri Baduga Maharaja dari istri keduanya, Nyai Subang Larang yang beragama Islam.

Pendapat lainnya menyebut Prabu siliwangi dan seluruh prajuritnya menjadi pohon kaboa di hutan Sancang. Namun nada juga yang meyakini Sri Baduga berubah menjadi pohon kaboa sementara prajuritnya menjadi macan.

Artinya di versi pertama, Prabu Siliwangi ngahiang menjadi harimau atau pohon kaboa di hutan Sancang.

Versi kedua, Sri Baduga meninggalkan keraton dan moksa di Gunung Salak di mana kiini di tempat itu beridri pura Parahyangan Agung Jagatkarta atau biasa disebut Pura Jagatkarta.

Versi ketiga, Sri Baduga moksa ke Gunung Halimun. Artinya tidak ada makamnya, selain makom (jejak).

Ingat, Gunung Salak dan Gunung Halimun adalah dua gunung berbeda meski kini berada dalam satu kawasan dengan nama Taman Nasional Gunung Halimun-Salak yang terletak di tiga kabupaten yakni Bogor dan Sukabumi yang berada di Provinsi Jawa Barat, serta Lebak yang masuk wilayah Banten.

Dari ketiga versi tersebut mana yang mendekati kebenarannya? Seperti diketahui sebelum menikahi Nyai Subang Larang, Sri Baduga sudah memiliki istri yang beragama Hindu Nyai Kentring Manik Mayang, yang melahirkan Prabu Sanghyang Surawisesa, penerus tahta kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran.

Sri Baduga adalah raja yang toleran dan egaliter, dicintai rakyatnya yang saat itu mayoritas masih beragama Hindu. Sri Baduga juga dikenal sebagai raja yang sakti mandraguna sehingga sangat mungkin memiliki maung putih yang selalu menjaganya.

Tetapi di akhir masa kejayaannya, Sri Baduga dihadapkan pada pilihan sulit. Ia sangat menyayangi Kian Santang yang telah diangkat sebagai Dalem Bogor, semacam panglima urusan dalam, di usia 22 tahun.

Tetapi di sisi lain, Sri Baduga tidak bisa memenuhi keinginan Kian Santang yang terus membujuknya untuk memeluk Islam karena akan mengubah status kerajaan yang bercorak Hindu. Keputusan untuk ngahiang sangat mungkin disebabkan karena pertentangan batin yang luar biasa ini.

Dari pemahaman ini maka mustahil Sri Baduga terlibat peperangan dengan Kian Santang. Mustahil juga Kian Santang mengejar ayahnya sampai masuk ke hutan hingga berubah wujud menjadi macan putih atau pohon kaboa.

Sebagai ulama besar, bahkan syech, kita meyakini Kian Santang tidak akan berbuat durhaka terhadap ayahnya sekali pun tidak mau di-Islam-kan. Kisah Kian Santang bertarung melawan ayahnya hingga melakukan pengejaran ke hutan Sancang, sangat mungkin didengungkan pihak-pihak yang suka dengan keinginan Kian Santang meng-Islam-kan Sri Baduga Mahaharaja.

Yang benar, Sri Baduga moksa dalam arti meninggalkan istana untuk menghindari perpecahan keluarga kerajaan. Sang Prabu tidak pernah kembali ke istana sehingga disebut moksa. Karena niatnya ingin menghilang, maka versi ketiga yang paling mendekati kebenarannya.

Sebab jika diketahui masih berada di suatu tempat hingga meninggal dunia, sesuai versi kedua, maka berarti Sri Baduga tidak ngahiang!

Lalu bagaimana dengan Uga Wangsit Siliwangi? Petuah ini jelas bukan dari Prabu Sri Baduga. Alasan utamanya terdapat di kalimat awal peragraf keempat dari Uga Wangsit Sliiwangi yang berbunyi : Kalian yang berada di sebelah Barat! Telusuri oleh kalian jejak Ki Santang!

Ki atau aki dalam bahasa Sunda adalah sebutan untuk kakek. Ki bisa juga dimaksudkan sebagai sebutan kehormatan kepada seseorang yang dianggap memiliki ilmu tinggi. Tetapi sangat tidak lazim ketika sebutan itu diucapkan bapak kepada anak, setinggi apa pun ilmu anaknya.

Demikian juga kata “telusuri”. Bagaimana mungkin Sri Baduga menyuruh rakyatnya menelusuri jejaknya padahal saat itu Kian Santang masih berada di istana. Kian Santang dan kedua saudaranya baru meninggalkan istana setelah ibunya meninggal dunia sebagai tertulis dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari yang ditulis tahun 1720 oleh Pangeran Aria Cirebon.

Ada juga yang menyebut setelah ibunya diusir dari istana karena ketahuan mengamalkan ajaran Islam. Versi dari Naskah Merrtasinga ini kurang tepat karena sejak kecil Kian Santang dan saudara-saudaranya sudah belajar agama Islam, bahkan dikirim ke ulama-ulama besar di masa itu.

Jadi jelaslah jika Uga Wangsit Siliwangi tidak ditulis atau diucapkan oleh Sri Baduga Maharaja. Secara logika, pembuat wangsit adalah raja sesudah Prabu Sri Baduga.

Siapakah dia dan apa alasannya?

Baca : Raja Ini yang Mengeluarkan Wangsit Siliwangi