Siapa yang Tidur Denganku?

Kesenyapan di Rumah Sakit

Cengkraman itu makin erat, seakan menusuk perut. Perut terus menegang, dan hatiku berdebar-debar. Dada ikut sesak karena udara malam yang dingin. Aku teringat, tadi saat pergi ke toilet di rest area, ada bercak darah di CD. Apakah ini saatnya melahirkan? Padahal usia kandunganku baru 7 bulan.

“Sakit, Mas!” Ketika rasa nyeri makin tak tertahankan, akhirnya aku mengeluhkannya ke suamiku. Ia lalu membelokkan mobil ke sebuah Rumah Sakit. RS Moegi Waras, itu yang tertulis pada plangnya. Setelah mobil berhenti, kuraih tangan putri mungilku, Lila. Mungkin ia kebingungan, mengapa kami berhenti di sini, bukan di rumah neneknya? Kami memang akan pergi ke rumah ibuku, karena akan melahirkan di kota ini. Tujuannya agar ada yang merawatku pasca bersalin, dan membantu menjaga Lila yang baru berusia 7 tahun.

Nanti saja aku jelaskan kepada Lila, mengapa ibunya harus masuk RS. Walau hanya anak angkatku, namun aku menganggapnya sebagai anak kandungku. Entah mengapa di sini rasanya aku tidak mood untuk bicara. Padahal di rumah, aku selalu dianggap sebagai Nyonya Nanis Sumarnis yang cerewet, oleh Mas Agus, suamiku.

Kami masuk lalu kebingungan mencari poli kandungan. Rumah Sakit ini sepertinya sudah cukup tua, tampak dari desain interiornya yan tampak seperti bangunan kuno. Tembok putih dan tegel warna abu-abu kusam, serta bangku kayu seakan menyapa kami.

Hawa dingin menyergap saat aku, suamiku, dan Lila melangkah di koridor. Ada perasaan janggal saat aku berada di sini, dan bulu kudukku merinding. Kubaca doa dalam hati, semoga tidak akan terjadi apa-apa di sini.

Aneh, bukankah biasanya RS tetap ramai walau tengah malam? Sepertinya di kota kecil seperti ini, pasiennya hanya sedikit, sehingga suasana sangat lengang. Akhirnya kami temukan poli kandungan. Sambil menunggu bidan datang, aku tengok kanan-kiri. Mengapa tidak ada yang menjaga?

“Aku lapar!”

Ah, putriku ternyata kelaparan. Spontan suamiku membawanya mencari makanan di kantin. Semoga masih buka. Tangan Mas Agus menggenggam Lila erat-erat. Mereka meninggalkanku sendirian di sini, dan aku harus memberanikan diri. Namun Aku lega, sepertinya kemarahan suamiku pada Lila sudah mereda.

Dua tahun lalu aku keguguran karena tak sengaja terjatuh saat bermain dengan Lila. Sejak saat itu Mas Agus menganggap Lila sebagai penyebab aku keguguran. Padahal aku yakin, itu sudah takdir yang harus diterima.

“Jangan marahi Lila, Mas! Apalagi berani memukulnya! Bukankah ia kita asuh dengan harapan akan dianggap sebagai anak kandung, bukan sekadar pancingan?” sentakku.

Masih kuingat kata-kataku saat Mas Agus menahan tangannya untuk tak menampar Lila. Ambisinya untuk punya anak sendiri, membuatnya hampir gila. Untung saja peristiwa 2 tahun lalu tidak terulang lagi, setidaknya di depanku. Semoga di belakangku Lila mendapat perlakuan yang sama dari ayahnya, yang seharusnya lemah lembut terhadapnya.

Mengapa bidannya lama sekali? Saat melihat di papan berisi jadwal dokter, sepertinya di sini tidak ada dokter spesialis kandungan. Apes! Yah minimal ada alat USG agar aku bisa melihat kondisi janinku.

Entah sekarang pukul berapa, baterai HP-ku habis dan aku tak bisa mengecek waktu. Aku tak suka mengenakan arloji. Namun kurasa sudah hampir jam 12 malam. Suasana RS makin terasa aneh. Selain hawa dingin yang menyelusup sampai ke tulang sumsum, ada desiran aneh yang terdengar. Kupegang tasku erat-erat. Di dalamnya ada gunting dan bawang putih. Aku hanya menuruti kata Mbah. Menurut beliau, gunting bisa menghindarkan wanita hamil dari makhluk tak kasat mata. Sedangkan bawang putih berfungsi sama.

Aku agak menyesal tidak ikut Mas Agus dan Lila. Mengapa mau-maunya duduk sendirian di bangku yang dingin? Angin berdesir-desir. Di luar, terlihat awan menggelayut di langit malam yang kelam. Bulu kudukku makin merinding. Lampu ruangan berpendar tetapi makin meredup.

Pyar! Kegelapan meraja, lampunya mati! Spontan aku menjerit meminta tolong. Untungnya semenit kemudian, cahayanya kembali bersinar. Aku putuskan untuk mencari Mas Agus dan Lila, karena bidan atau dokter tak kunjung datang. Namun ke mana mereka pergi? Kira-kira di mana kantinnya?

Kulihat seseorang berpakaian batik. Ah, mungkin dia tahu di mana lokasi kantin. “Bu, maaf mau tanya. Di mana ya kantinnya?” Ia hanya meringis, tak menjawab atau mengiyakan. Aneh sekali?

Wanita tua itu langsung berjalan dengan cepat dan menjauhiku. Belum sempat aku menyusulnya, namun kusadari bahwa di belakang tubuhnya tak memiliki bayangan. Apakah ia tak menjejak tanah?

Berarti dia adalah? Bulu kudukku berdiri, tapi aku tak bisa meninggalkan tempat ini.