Menjemput Kematian

MenjemputKematian

Danu sudah berkali-kali mengingatkan orang-orang yang ingin masuk Hutan Erebos agar tidak membuat keputusan implusif. Ia bukan penguasa hutan atau semacamnya yang berhak melarang. Tapi karena Danu sudah banyak melihat kehilangan. Terakhir kali ia mencegah seorang perempuan patah hati dengan wajah seputih kapas. Barangkali energinya sudah habis menerima konsekuensi dari tindakannya sendiri.

 

Perempuan itu mengandung bayi sebulan. Bukan menjadi suka cita, justru menjadi duka di dada. Matanya sembap menunjukkan ia banyak menangis belakangan ini.

 

“Kamu tidak akan mengerti rasanya hidup dengan kepedihan,” ujarnya dengan suara bergetar. “Dia berjanji menikahiku sebelum kami melakukan itu. Sayangnya saat sudah terlambat, seorang perempuan bertekuk lutut di hadapanku. Ia mengucapkan kebenaran paling menyakitkan, bahwa ia sedang mengandung bayi hasil hubungan dengan tunanganku yang bahkan aku sendiri tidak tahu.”

 

“Hidupmu masih berharga. Keluargamu akan menerimamu apa adanya!” bantah Danu keras.

 

Perempuan itu bangkit berdiri, langkahnya cepat berjalan memasuki hutan. “Andai semua ucapanmu benar, maka aku tak mungkin sampai sini.”

 

“Aku yakin seseorang akan mencarimu dan orang itu pasti mencintaimu!”

 

Teriakan Danu tak digubris. Sosok perempuan itu lenyap di balik tingginya batang pohon. Lalu, dua hari kemudian Danu lagi-lagi melihat seorang berjalan tergesa-gesa ingin sampai ke dalam hutan. Tapi sebelum itu, Danu selalu melakukan tugasnya; mengingatkan meski sering diabaikan. Memberitahu meski orang tersebut mungkin tidak ingin tahu.

 

“Kamu tidak akan mengerti, aku sudah melakukan kesalahan besar sebagai seorang pria.”

 

Sekeras apa pun Danu berusaha, ia tidak bisa menghentikan perempuan itu, atau pria tersebut dan juga semua orang yang ingin menjemput kematian. Pernah ia berpikir bahwa mungkin orang-orang tak mendengarnya karena Danu cuma lulusan SD. Pekerjaannya memulung dan mengubahnya menjadi uang yang bisa dibarter dengan sepiring nasi di warung pecel lele. Jelas kehidupan yang seiring dianggap sebelah mata oleh banyak orang. Tapi dugaannya salah, bahwa memang orang-orang tersebut menolak dinasehati.

 

Maka setiap ada orang yang menjemput kematian, Danu bersujud lebih lama dari biasanya di jam dua dini hari. Ia meminta kekuatan kepada Maha Kuasa. Danu takut kehidupannya akan berakhir masuk ke dalam Hutan Erebos karena keputusasaan. Ia juga sering mendoakan orang yang sudah berjalan masuk ke hutan itu tanpa kembali.

 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Hutan Erebos adalah hutan untuk mengakhiri hidup. Jika kematian tidak segera menjemputmu, maka kamu bisa menjemputnya di dalam Hutan Erebos. Begitu kalimat tragis yang sering Danu dengar dari masyarakat sekitar.

 

Danu tidak pernah tahu pasti penyebab seseorang meninggal di Hutan Erebos. Dugaannya bahwa karena orang mati kelaparan di dalam hutan. Pendapat orang lain yang membuat Danu ketakutan bahwa ada penunggu. Tidak pernah ada yang tahu secara jelas, karena Danu atau pun orang lain enggan untuk mencoba mencari tahu dengan memasuki hutan.

 

Danu sendiri tinggal di rumah beranyam bambu yang berada sepuluh meter dari Hutan Erebos. Baru kali ini, Danu melihat dari jarak dekat, pepohonan yang rata-rata memiliki tinggi sepuluh kaki. Pepohonan tersebut mempunyai daun-daun yang penuh dan padat. Bahkan cahaya matahari tidak bisa menerobos memasuki celah dahan saking rimbunnya. Di hadapan Hutan Erebos, ketenangan dan aura mencekam menjadi satu. Danu merasakan sesuatu di dalam sana memanggil dan mengajaknya masuk ke dalam.

 

“Hidupmu akan damai di dalam hutan.”

 

“Di sini, kamu tidak lagi perlu memulung.”

 

“Hanya di dalam Hutan Erebos, kamu bisa hidup lebih bahagia.”

 

Bisikan-bisikan itu memasuki telinga Danu membuat tubuhnya bergetar menggigil. Ia tidak tahu dari mana asal suara tersebut. Tapi bisikannya tepat mengenai titik kelemahan yang ada di benak Danu. Seolah hutan itu mengetahui keterpurukannya meski belum diucapkan secara lantang. Apakah itu suara yang juga di dengar orang lain sebelum memutuskan memasuki hutan ini? Danu tak puas karena tidak ada yang bisa menjawab pertanyaannya.

 

Mata Danu beralih melihat tulisan kapital bertinta hitam pada papan berwarna putih kapri.

 

“Jika kamu menjelajahi Hutan Erebos, kamu tidak akan pernah bisa keluar.”

 

“Di luar sana, banyak orang yang ingin hidup sepertimu.”

 

“Hidup adalah karunia. Mengapa kamu mau membuang karunia itu ke hutan?”

 

Beberapa papan berisi peringatan untuk tidak mengakhiri hidup. Tapi sekarang Danu paham bahwa itu adalah tindakan yang sia-sia. Pemikiran untuk bunuh diri bukan jenis pemikiran yang dilakukan satu hari ataiu beberapa jam. Tapi memikirkan bunuh diri merupakan keputusan yang telah dipikirkan begitu dalam hingga kurun waktu lama.

 

Bahwa hidup tidak lagi berarti untuk dijalani.

 

Bahwa hidup lebih baik jika tanpanya.

 

Bahwa hidup atau mati sudah tidak ada bedanya.
 

Danu menghela napas. Hidupnya memang sulit dan sengsara tanpa punya banyak uang. Tinggal di rumah beranyam bambu yang lebih sering kebocoran ketika hujan. Tapi ia selalu semangat menanti pagi hari tiba. Ketika matahari terbit dari timur. Gemerisik dedaunan. Kicau burung yang saling bersautan merdu. Tidak ada waktu yang lebih indah dibanding pagi hari. Ketenangan. Kedamaian. Harapan. Tiga hal yang bisa dirasakan hanya dalam satu waktu: pagi hari. Kesenangan kecil itu yang membuat Danu ingin hidup setiap harinya.

 

Dengan perasaan yang lebih rileks, Danu berbalik badan. Ia nyaris melompat terkejut ketika melihat seorang Kakek berjalan ke arahnya. Keningnya berkerut-kerut melihat situasi sekitar.

 

“Ini Hutan Erebos yang terkenal itu, kan?”

 

Danu mengangguk dengan jeri.

 

“Akhirnya aku menemukan hutan ini. Aku membaca buku diari Cucuku, dia bilang ingin ke Hutan Erebos. Aku harus menyelamatkannya.”

 

“Jangan, Kakek. Di sana ….”

 

Ucapan Danu tak tuntas karena Kakek itu sudah melangkah memasuki hutan. Danu menahan nyeri di dada. Dini hari nanti, ia tahu akan bersujud lebih lama dari biasa untuk kesekian kalinya.

 

#CerpenMisteriRamadan