Langit Jakarta di awal Ramadan sedikit mendung ketika Martini baru saja tiba di apartemennya di kawasan Kali Bata, Jakarta Selatan.
Sambil nonton TV, Martini membuka hape dan melihat-lihat pesan yang masuk melalui media sosial. Selain pesan dari teman dan kolega kantor yang banyak berisikan selamat puasa, ada juga beberapa pesan dari ibunya di kampung, minta Martini untuk pulang kampung Lebaran nanti. Maklum sudah dua Lebaran dia tidak bisa pulang karena pandemi Covid 19.
Setelah menjawab pesan dari ibunya menyatakan bahwa beberapa hari lalu, Martini sukses membeli tiket kereta api untuk keberangkatan beberapa hari sebelum Lebaran, Martini melihat ada sebuah pesan baru dari nomor tidak dikenal.
“Saya tunggu di lobi sehabis Magrib,” demikian bunyi pesan itu.
Merasa tidak kenal dengan nomor itu, Martini tidak menghiraukan dan menganggap bisa saja pengirim pesan tersebut salah nomor. Dia kembali bersantai di sofa sambal menunggu azan Magrib yang kira-kira tinggal 15 menit lagi.
Lima menit kemudian, sebuah pesan nada pesan masuk kembali berbunyi. Dengan penasaran, Martini mengambil hape dan membuka pesan dari nomor tidak dikenal yang sama.
“Saya tunggu di lobi sehabis Magrib,” pesan dengan kata-kata yang sama kembali muncul.
“Maaf, siapa nih? Nomornya tidak dikenal,” jawab Martini sedikit kesal.
Sesudah itu sepi, sepuluh menit berlalu, dan azan Magrib di TV menggema. Martini segera berbuka puasa dengan takjil dan kolak yang sudah disiapkan. Untuk makan besar, biasanya Martini lakukan sehabis salat tarawih. Malam ini rencananya Martini akan salat tarawih di masjid di dekat mal.
Selepas berbuka dan ketika bersiap-siap hendak mengambil air wudu, hape kembali berbunyi nada pesan masuk.
“Saya tunggu di lobi sehabis Magrib,” pesan ketiga dengan kata dan urutan yang persis sama.
“Siapa kamu?” jawab Martini sedikit kasar dan kemudian mematikan hape. Dia segera menunaikan salat Magrib. Walau hatinya sedikit kesal, Martini mencoba salat lebih khusyuk dan melupakan pesan tidak dikenal tadi.
Rasa penasaran membuat Martini kembali menghidupkan hape seusai salat Magrib. Dua buah pesan dengan kata-kata yang sama masuk dari nomor yang sama.
Dengan kesal Martini langsung menelepon nomor tersebut. Mungkin saja ada teman yang iseng mengganggu.
Dering di seberang sana berbunyi lebih sembilan kali namun tetap tidak ada yang menjawab. Tiga kali Martini mencoba menelepon. Hasilnya sama. Nihil alias sia-sia. Dengan kesal Martini segera memblokir nomor itu dengan harapan tidak ada lagi pesan mengganggu yang masuk.
Mungkin hanya orang iseng , Martini bergumam, dan kemudian pintu apartemen terbuka. Yati, teman satu kantor dan apartemen, masuk dan ternyata baru pulang kerja sehabis lembur.
“Yati, untung kamu sudah pulang, ada yang meneror aku melalui pesan whats up,” curhat Tini sambal menceritakan kronologisnya.
“Bagus kamu sudah memblokir nomornya, mungkin hanya orang iseng lagi kurang kerjaan,” ujar Yati dengan yakin sambil menenangkan Martini.
Namun teror telepon tidak berhenti dengan diblokirnya nomor tersebut. Sehabis tarawih, Martini mampir ke food court untuk mencari makanan sekalian membelikan untuk Yati yang hanya tinggal di apartemen. Ketika sedang menunggu makanan ini, nada pesan di hape kembali berbunyi.
“Mbak Tini, saya tunggu di meja di depan KFC,” pesannya kian jelas, dari nomor tidak dikenal yang lain karena nomor yang tadi sudah diblokir.
Martini menghela nafas panjang sebentar untuk menenangkan diri.
Orang ini pasti mengenal diriku dan bukan hanya iseng, tetapi mengapa dia tidak mau memperkenalkan diri? Apa aku ikuti saja kemauannya?
Jangan, bisa saja orang itu berniat jahat. Coba telepon dulu dan tanya siapa dia?
Rasa penasaran membuat Martini kembali menelepon nomor tersebut beberapa kali. Tetapi seperti nomor yang pertama, nomor ini juga tidak pernah menjawab panggilan telepon Martini.
Martini memutuskan untuk langsung kembali ke apartemen. Dia terlalu takut untuk menemui orang tidak dikenal di malam hari seperti itu. Bisa saja ada orang yang bermaksud jahat.
Dengan rasa waswas Martini berjalan menyusuri mal yang tidak terlalu ramai menuju apartemen. Terasa ada langkah kaki yang mengikutinya. Namun ketika dia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, tidak ada siapa- siapa. Setengah berlari, Martini berjalan menuju apartemen.
Suasana lantai dasar sudah sepi malam itu, hanya ada beberapa toko yang masih buka.
“Mbak Tini, Mbak Tini,” panggilan lirih seorang lelaki terdengar dari pojok lantai dasar dekat lapangan basket. Rasa takut Martini dikalahkan oleh rasa penasaran, secara tidak sadar kaki melangkah menuju asal suara itu.
Dalam suasana remang-remang, Martini melihat seorang lelaki muda, mungkin berusia tiga puluh tahunan memakai jaket seragam hijau ojek daring.
“Maaf, Mas siapa dan kenapa bisa kenal saya?”
“Saya Gatot, Mbak Tini pernah pesan ojek saya kira-kira dua bulan lalu,” jawab lelaki itu dengan suara sedikit parau. Dia tetap berada di sudut yang remang-remang sehingga Martini tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Lelaki itu kemudian melanjutkan:
“Maaf waktu itu saya tidak bisa menjemput Mbak Tini, motor saya ditabrak angkot di jembatan layang dekat Kali Bata Mal,”
Lelaki itu kemudian melanjutkan bahwa dia harus masuk rumah sakit dan besok Sudah boleh pulang. Karena itu dia ingin menyampaikan maaf yang selama ini terus mengganggu pikirannya.
Martini kemudian ingat bahwa sekitar dua bulan lalu pernah memesan ojek daring. Namun pengemudinya ditunggu-tunggu tidak pernah datang, sehingga Tini terpaksa membatalkan dan kemudian memesan ojek yang lain. Namun dia tidak pernah mengira bahwa pengemudinya sampai datang hanya untuk minta maaf setelah dirawat di rumah sakit sekian lama.
“Mbak Tini, saya pamit dulu, saya lega sudah minta maaf, datanglah besok ke alamat ini sehingga semuanya menjadi jelas,” tambah lelaki itu sambil memberikan sebuah kertas kecil. Martini mengambil kertas itu dan sebelum dia sadar, lelaki itu sudah menghilang entah ke mana.
Malam itu, di apartemen, Martini dengan rasa penasaran menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Yati. Pada secarik kertas, tertulis alamat di Kawasan Pejaten, tidak terlalu jauh dari apartemen dan tempat kerja.
Esok hari sewaktu istirahat siang, Yati dan Martini naik taksi daring ke alamat tersebut.
Di alamat itu, mereka mendapati bendera kuning, orang ramai, tenda, dan istri Mas Gatot yang sedang berduka. Jenazah Gatot sendiri masih berada di masjid untuk kemudian dibawa ke Taman Pemakaman Umum Pasar Minggu
“Mas Gatot meninggal tadi malam selepas Isya di rumah sakit setelah hampir dua bulan dirawat akibat kecelakaan,” ujar istrinya kepada Martini dan Yati.
4 April 2020
# CerpenMisteriRamadan