Kamboja di Rambut Ningsih

Ilustrasi

Selina merasa aneh dengan temuan beberapa helai rambut  di lantai ruang tamu. Seingatnya, tak ada tamu yang datang ke apartemen kecilnya, beberapa hari terakhir. Dia juga selalu membersihkan ruangan dengan penyedot debu. Selain itu, rambut miliknya tidak sepanjang itu.  Siapa yang sudah menyelinap masuk saat dia sedang pergi? Selina adalah satu-satunya yang memiliki akses untuk masuk. Jika ada orang lain, tentu itu adalah pihak manajemen apartemen dan pemilik kamar yang disewanya ini. Tetapi mereka tidak mungkin masuk begitu saja tanpa alasan.

Tak ingin banyak berpikir, Selina segera menyalakan penyedot debu untuk menghilangkan rambut-rambut itu dari lantai. Namun, daya benda elektronik itu melemah sehingga rambut-rambut tidak tersedot. Mungkin sudah terlalu banyak sampah di dalam kantong filter. Selina berinisiatif menggantinya dengan kantong baru. Seketika ia terkejut. Jantungnya berdegup mendapati begitu banyak rambut menggumpal di dalam kantong filter penghisap debunya. Selina benar-benar tidak ingin memikirkannya. Dia segera membuang benda itu ke tempat sampah di koridor. Setelah itu kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan menulis naskah cerpen horor yang harus segera rampung.

Selina adalah penulis cerita misteri untuk sebuah website. Biasanya dia lancar menuangkan ide. Entah kenapa kali ini begitu lamban. Padahal kisah yang ditulis ini merupakan kisah nyata di kampung halamannya. Kisah kematian tragis gadis desa cantik bernama Ningsih. Konon, Ningsih menjalin hubungan asmara lurah desa sebelah yang sudah beristri. Istri lurah itu tak terima dan mengirim algojo untuk melenyapkan Ningsih secara sadis setelah menggunduli rambut indah gadis perebut suami orang itu. Karena itu lah hantu Ningsih bergentayangan untuk mencari rambutnya. Meski dia mendengarnya dari mulut ke mulut penduduk saat usia belasan tahun, sampai hari ini dirinya masih ingat betul. Dan baru kali ini juga dia berniat untuk menuliskan kembali cerita yang beredar masyarakat tersebut.

Konsentrasinya kembali terusik oleh suara gemericik air dari kamar mandi. Seingatnya, dia tidak menyalakan air. Biasanya dia memang mengisi bath tub dan meninggalkannya ke luar sampai bak hampir penuh. Tapi ini sudah terlalu malam untuk bersiap mandi, kan? Selina meninggalkan laptopnya menuju kamar mandi. Air di bath tub sudah  luber menggenang ke lantai. Selina segera mematikan kran. Sialnya, air tidak mau turun ke lubang pembuangan. Mungkin tersumbat sesuatu. Selina mengambil kawat yang biasa dia pakai mengorek sink wastafel bila tersumbat. Dia melakukan hal yang sama pada lubang itu setelah membuka penutupnya yang juga berfungsi sebagai penyaring air buangan. Ketika Selina merasa kawatnya mengenai sesuatu, dia segera menariknya. Gumpalan rambut yang cukup banyak dan panjang tersangkut di kawat, terhunus dari lubang dan berhenti di tengah-tengah. Sebelum Selina tenang dari dugup jantungnya, mendadak rambut itu masuk kembali ke lubang seolah ditarik dari dalam. Karena efek kuatnya tarikan itu, refleks tubuh Selina terjerembab membentur dinding di depannya. Air di lantai sudah mengalir ke lubang pembuangan. Selina berdiri bermaksud membuka penutup sink bath  tub. Namun tubuhnya mematung seolah tersengat listrik. Lututnya terasa layu untuk berjalan melihat benda hitam mengapung memenuhi bak mandi di depannya.

***

"Menurut Abang, aku harus gimana?" tanya Selina pada Renand. Pria yang dipanggilnya abang itu juga merupakan penulis senior yang sering membimbingnya.

"Sepertinya, kamu harus mencari informasi baru, Sel. Kamu harus pergi ke kampung halamanmu itu dan mendapatkan fakta yang mungkin disembunyikan atau tidak diketahui oleh masyarakat selama ini."

"Caranya gimana?"

"Tanya pada orang yang pernah memiliki hubungan baik dengan Ningsih. Mungkin saja kamu akan mendapatkan cerita yang berbeda dari versi yang beredar selama ini."

Selina manggut.
Dia ingat kejadian horor di kamar mandi malam itu. Tulisan misterius berbunyi 'tidak adil' di cermin dan bayangan dirinya yang menjelma menjadi wanita berambut panjang dengan hiasan bunga kamboja di dekat telinga. Apa maksud semua itu? Apa kah ada hubungannya dengan hal yang sama menimpa anak lurah, kekasih Ningsih dulu? Kasus pembunuhan terhadap Ningsih menjadi rahasia umum dan statusnya di dalam hukum menguap begitu saja. Pria mantan kekasih Ningsih itu kini sudah tua dan tak lagi menjabat sebagai lurah. Namun sejarah terulang pada anaknya yang seorang pejabat pemerintah. Dia mengalami skandal yang sama dengan gadis desa bernama Nova. Kematian Nova yang dilatar belakangi konflik asmara dan membuatnya bunuh diri, seolah tidak ditangani dengan serius oleh pihak yang berwajib. Renand benar, dia harus kembali ke kampungnya untuk mencari informasi.

***

Renand sendiri yang mengantar Selina, pulang ke kampung  yang jauh di pelosok daerah. Dengan mengendarai jeep, mereka melintasi jalan tak beraspal kiloan meter  yang kanan kirinya diapit hutan jati dan bukit bersemak. Hamparan ladang jagung menandakan mereka hampir  sampai di pemukiman. Senja sudah hampir berakhir, menyisakan suasana redup. Ningsih yang sedari tadi menikmati pemandangan melalui jendela, mulai membuka suara.

"Rumah pertama itu adalah ...," jarinya menunjuk sebuah rumah agak jauh dari jalan dan pandangan mengarah ke sana. Di teras rumah itu samar-samar terlihat sosok perempuan melambai ke arahnya. Meski suasana  tak begitu terang, ia dapat melihat wanita berambut tergerai dengan hiasan jepit kamboja terselip di atas telinga tersenyum. Padahal Selina tahu, sejak kematian Ningsih rumah tua itu dibiarkan kosong tidak pernah dihuni lagi. Hanya sesekali dibersihkan secara gotong royong oleh penduduk desa.

"Rumah siapa?"

" Ningsih," sahut Selina masih dengan wajah bengong.

"Oh, yang itu tadi Ningsih?" Ternyata Renand juga melihatnya.

 

WNG 151221

[SWD]

 

 

#Lomba Menulis Cerpen Akhir Tahun 2021