Angkot Misterius

Ilustrasi

Mendapat jatah shift siang, membuatku agak santai di pagi hari. Biasanya, aku harus mengerjakan rutinitas dengan terburu-buru. Belum lagi antre masuk kamar mandi dengan penghuni kos yang lain.

Sambil menyiapkan tas kerja, aku teringat tentang desas-desus angkot misterius 105. Angkot yang sehari-hari kutumpangi pergi dan pulang kerja. Selama ini aku tak khawatir karena pulang jam 4 sore. Sedangkan angkot misterius itu muncul menjelang tengah malam. Tapi hari ini, aku akan pulan malam kan?

***

Sampai di gedung pusat perbelanjaan bergengsi di kota Depok, aku bergegas menuju lantai 2 di mana aku bekerja. Lumayan, aku tidak harus merapikan ruangan seperti jika masuk pagi. Semuanya sudah dikerjakan temanku. Aku hanya perlu merapikan diri di ruang ganti dan langsung bekerja. 
Sebenarnya, tidak masalah masuk pagi atau siang. Semua ada enak dan enggaknya. Kalau masuk pagi, aku harus bangun sangat pagi dan melakukan rutinitas dengan tergesa-gesa. Sesampai tempat kerja, masih harus merapikan dan menyiapkan semua perlengkapan terlebih dahulu. Sedangkan kalau masuk siang,  aku harus rela kepanasan di dalam angkot. Jarak kos dengan tempat kerja lumayan jauh. Gaji karyawan kelas bawah sepertiku, tak akan cukup untuk membayar ongkos taksi yang ber-AC. Tahun 2010, belum ada ojek online.

Hal yang paling tak mengenakkan saat masuk siang adalah pulang terlalu malam. Aku harus memastikan sudah tidak ada barang yang diletakkan sembarangan lalu mengecek semua hal. Mulai dari nota, komputer, lampu, kabel-kabel dan sampah sisa jajan tadi sore. Terakhir mengunci pintu dengan keamanan ganda. 

Tak terasa, jam menunjukkan pukul 22.15.
Turun dari angkot pertama, halte sudah lengang. Jalanan yang berada di area gedung perkantoran, hanya menyisakan cahaya remang-remang. Bank dan kantor-kantor itu sudah tutup sore tadi. Angkot yang biasa mangkal, sudah tidak terlihat. Aku tidak pernah menyangka, tempat yang ketika aku berangkat kerja begitu ramai itu akan selengang ini saat malam. Aku jadi membayangkan angkot misterius itu. Samar-samar bulu kudukku meremang. Jantung jadi berdegup tak karuan. Yang paling kutakutkan, bukan hantu melainkan tindak kejahatan. Aku terus merapal doa agar dijauhkan dari mara bahaya. 

Kilatan lampu menimpa tubuhku. 
Itu pasti kendaraan umum yang kutunggu. Benar saja, mobil berwarna biru itu berhenti di depanku.

"Ke mana, Neng?"

"Tanah Baru, Bang."

"Naik aja!"

Tapi angkot itu bertuliskan angka yang lain. Bukan nomor yang menuju kawasan kosku.

"Nggak, Bang. Nggak lewat sana kan,"

"Dah malem, di belakang nggak ada angkot lagi. Naik aja, nanti dianterin."

Seperti terhipnotis kata-katanya, aku hanya menurut. Memutar ke arah pintu dan masuk. Aku hanya duduk dekat pintu karena dalam angkot itu sangat gelap. Angkot mulai bergerak. Saat melewati fly over, lampu menyala dengan nyala yang sangat kecil. Namun cukup membuatku bisa melihat isi dalam angkot. Aku diam-diam mengontrol diri. Berusaha untuk tetap tenang saat melihat beberapa orang pria berpakaian hitam duduk di kedua sisi. Pandangan mereka serempak tertuju padaku. Wajah-wajah dingin itu entah memiliki makna apa.

Aku menoleh ke arah sopir. 
Jika tadi, yang kulihat adalah wajah pemuda biasa seperti sopir angkot pada umumnya, kini tampak misterius. Mengemudi dengan diam dan berwajah dingin.

"Bang, turun sini aja." kataku setenang mungkin. Seperti tak mendengarku, dia tetap mengemudi, "kiri, Bang!" ulangku lebih keras. Dia hanya melirik dingin.

Kali ini aku benar-benar gemetar. Sebentar lagi ada persimpangan. Jika dia menuju arah lain, dapat dipastikan aku akan tersesat. Ini lah saatnya, aku harus mengambil keputusan nekat. Jika harus mati, biar aku mati dalam keadaan bersih. Tekadku saat itu.

Tanpa pikir panjang, aku melompat ke luar selagi angkot masih berjalan. Tubuhku membentur aspal, menghadiahkan luka gores dan tangan terkilir. Untung saja,  laju angkot tidak terlalu kencang. Kalau tidak, aku pasti TV patah tulang. Aku ditolong oleh beberapa warga yang sedang nongkrong di warung kopi. Salah satu dari mereka, mengantarku pulang ke kosan. Besok-besok, kalau aku tidak mendapat ijin shift pagi, lebih baik resign saja.


Depok, 2010.


[SWD]