Now Loading

Tragedi Pertama

Yanto sedikit terkejut ketika melihat Saniyem pulang lebih awal dari biasanya. Terlebih wajah istrinya begitu pucat.

“Kamu sakit?” tegur Yanto.

Belum sempat Saniyem menjawab, kedua anaknya menyerbu dengan riang.

“Ibu sudah pulang!” teriak Tumi kegirangan. Tono, adiknya, ikut menyerbu ibunya. Mereka menggelayut di kedua kaki Saniyem. Tingkah mereka begitu riang, tidak seperti biasanya, keluh Saniyem. Ia segera memeluk mereka dan tanpa sadar air matanya menetes.

“Ada apa, Yem?” tanya Yanto makin terheran-heran melihat tingkah istrinya.

“Nih, aku dapat arisan,” kata Saniyem tanpa menghiraukan keheranan suaminya.

“Kamu menangis karena senang dapat arisan, to?” sahut Yanto sambil tertawa. Diraihnya tas plastik warna hitam berisi uang, “Kebetulan sekali, Yem. Lik Darmo mau menjual motornya. Aku sudah sempat mencobanya. Tidak rugi kalau kita beli karena mesin dan bodynya masih tokcer.”

“Berapa harganya, Mas?”

“Lik Darmo minta delapan juta. Nanti aku tawar, siapa tahu bisa tujuh juta setengah,” sahut Yanto tanpa menoleh.

“Mas…” panggil Saniyem lirih. “Boleh tidak aku pakai satu juta?”

Kali ini Yanto menoleh dengan cepat sambil menatap lurus ke arah wajah istrinya. “Buat apa? Bukankah sesuai rencana uang arisan ini mau buat beli motor?”

“Iya, aku tahu. Tapi bapak sakit…”

Wajah sumringah Yanto sontak hilang. Urat wajahnya menonjol menahan geram. “Tidak bisa!” katanya.

“Tapi bapak sakit keras. Dia butuh biaya untuk berobat,” kata Saniyem.

“Aku bilang tidak bisa karena aku sudah janji sama Lik Darmo!”

“Nanti saya carikan kekurangannya. Yang penting sekarang kita bisa kirim dulu buat berobat …”

Belum selesai Saniyem berbicara, Yanto sudah bereaksi. Tas plastik berisi uang itu dilemparkan ke muka Saniyem. Isinya berhamburan di lantai. “Kirim sana semuanya untuk orang tuamu!” teriaknya.

Tidak berhenti sampai di situ. Yanto mengambil gelas di atas meja dan melemparkan ke jendela. Praang….! Kedua anaknya ketakutan. Mereka mendekap tubuh ibunya sedemikian kuat.  Saniyem diam saja. Namun sejenak kemudian ia memekik tertahan. Tiba-tiba Saniyem melihat wajah Pak Mardi berkelebat sambil menyeringai di belakang suaminya. Matanya melotot. Kepalanya bertanduk. Ia menghunus golok dan siap mencincang tubuh Yanto.

“Awas, Mas!” pekik Saniyem.

Yanto tidak mengetahui apa yang terjadi sehingga tidak menghiraukan jerit istrinya. Dia memang beranjak, tapi bukan karena Saniyem. Yanto masuk ke kamar, berganti celana lalu bergegas keluar rumah.

Saniyem mengejarnya. “Tunggu, Mas! Pulang dulu. Pakai saja uang itu untuk beli motor!” teriak Saniyem.

Namun Yanto tidak menghiraukan teriakan istrinya. Dia terus berjalan. Bahkan langkahnya semakin cepat. Di seberang jalan, Saniyem melihat Pak Mardi sudah menunggu Yanto dengan pedang terhunus. Berulang-ulang Saniyem berteriak mengingatkan suaminya. Namun Yanto terus berjalan, menyeberangi jalan besar. Kini jarak Yanto dengan Pak Mardi sudah sedemikian dekat. Merasa jiwa suaminya terancam, Saniyem melepas pelukan pada kedua anaknya dan berlari mengejar suaminya.

“Braakkk…!”

Moncong truk besar yang datang dari kanan menghantam telak tubuh Saniyem. Sopir truk itu tidak bisa lagi menghindar karena Saniyem muncul tiba-tiba. Tubuh Saniyem terpental hingga 5 meter. Naas baginya. Sebelum tubuhnya jatuh di aspal, mobil pribadi warna hitam yang melaju kencang dari arah berlawanan, menghajarnya. Tubuh Saniyem kembali terpental. Ketika akhrnya jatuh di aspal, tubuhnya sudah tidak utuh. Sebagian jatuh di dekat Yanto yang masih terpaku melihat pemandangan di depannya.

Sementara kedua anaknnya yang semula mengikuti, kini hanya bisa menangis melihat tubuh ibunya. Tangisnya melengking di atas derit roda-roda kendaraan yang berusaha menghindari kecelakaan beruntun. Tanpa menghiraukan bahaya di depannya, Tumid an Tono berlari ke tengah jalan. Mereka kebingungan begitu melihat bagian tubuh ibunya tercabik-cabik dan berserak di jalanan.

Yanto mendadak tersadar dan spontan berlari ke tengah jalan untuk menyelamatkan anaknya. Yanto menggendong keduanya dan berlari ke pinggir jalan tanpa menjawab berbagai pertanyaan dari orang-orang yang kini merubung tempat kecelakaan. Mereka hanya melihat-lihat. Tidak ada yang berani menyentuh tubuh Saniyem sampai polisi datang dan memanggil ambulans.  

Kematian tragis Saniyem menebarkan ketakutan yang luar biasa di benak seluruh karyawan. Kematiannya semakin meneguhkan jika arisan yang diadakan di pabrik merupakan arisan maut. Terlebih sampai beberapa hari kemudain, sejumlah karyawan pabrik mengaku pernah melihat arwah Saniyem yang tengah meneteskan air mata. Bukan hanya di dalam pabrik, namun juga di jalanan tempat tubuhnya tercerai-berai .

“Jangan percaya dengan isu. Cerita kematian akibat arisan itu tidak ada,” ujar Pak Mardi saat meeting dengan sejumlah kepala bagian dan supervisor. “Masa jaman sekarang masih ada yang percaya hantu!”

“Tapi cerita soal hantu di sekitar pabrik dan kematian karyawan yang mendapat arisan, sudah menjadi rahasia umum. Semua orang, termasuk penduduk sekitar pabrik, membicarakan hal ini. Coba kita urutan karyawan yang sudah mendapat arisan. Ternyata semuanya meninggal dunia dengan cara-cara yang tidak wajar,” ujar Jarwo, supervisor di bagian produksi.

“Mungkin karena terlalu gembira sehingga mereka lengah dengan keselamatan jiwanya,” sergah Pak Mardi.

“Bagaimana kalau untuk sementara waktu arisan itu kita tiadakan dulu?”

“Tidak bisa!” jawab Pak Mardi cepat. Bahkan jawaban itu terlalu cepat sehingga mengagetkan semua yang hadir dalam ruang rapat tersebut.

“Maksud saya, dampaknya akan menimbulkan kegelisahan di pabrik, terutama bagi mereka yang belum mendapat arisan. Mereka pasti akan protes. Bagaimana caranya kita mengembalikan uang mereka? Pasti nanti saya yang disalahkan,” lanjut Pak Mardi seolah tahu ucapannya tadi ada yang salah.

“Atau kita tunggu arisan besok. Jika yang mendapat arisan juga mati mendadak, kita harus menghentikan arisan ini!” usul Jarwo penuh tekanan.

Terdengar bisik-bisik di antara peserta rapat. Namun akhirnya semua menyetujui usulan Jarwo. Mereka juga sepakat keputusan itu tidak boleh diketahui seluruh karyawan. Sebab ketegangan dan ketakutan tengah menyelimuti suasana kerja di pabrik. Hampir tidak ada lagi karyawan yang berani datang sendirian. Jangankan malam hari, pagi dan siang hari pun suasana mistis tetap menggelayut di sekitar pabrik. Kini karyawan datang dan pulang saling bergerombol. Ketika kerja, mereka pun enggan berjauhan. Demikian juga ketika hendak ke kamar kecil. Bahkan ketika pergi ke kantin mereka selalu bersama-sama.

Ketakutan tidak hilang meski Karni, Hendrik dan Tuginem tidak mati setelah mereka mendapat arisan. Ketiga karyawan itu tetap sehat dan segar-bugar. Artinya Saniyem menjadi karyawan terakhir yang mati setelah mendapat arisan. Usulan agar arisan itu dihentikan kini juga tidak terdengar lagi. Posisi Pak Mardi yang sempat disorot dan dicurigai sebagai dalang dari tragedi arisan maut itu, menjadi aman. Bahkan sejumlah karyawan terang-terang berbalik mendukung Pak Mardi dan meminta agar arisan itu tetap dilanjutkan.

“Bila perlu dikocok seminggu sekali,” usul salah seorang karyawan.