Now Loading

Mendapat Arisan

Omongan Yuni ternyata membuat Saniyem gelisah. Di satu sisi merupakan kabar gembira, namun pada saat bersamaan Saniyem merasa nyawanya sedang terancam. Entah oleh siapa.   

“Melamun saja!” cubit Ningsih, karyawan yang bekerja di sebelah Saniyem.

“Siapa yang melamun,” sungut Saniyem. “Saya lagi mikirin omongan Yuni tadi. Katanya hari ini saya akan dapat arisan.”

 “Nah, bagus itu. Harusnya kamu gembira, dong!”

“Bukan itu,” sahut Saniyem tanpa menoleh. Pandangan matanya tetap fokus pada gerakan tuas mesin dan benang yang berjalan. Tangannya dengan terampil menata dan memilin benang. “Saya baru ingat, setiap ada karyawan yang mendapat arisan pasti besoknya meninggal dunia.”

Ningsih memicingkan mata dengan dahi berkerut. Dadanya berdesir. “Jangan berpikiran sempit. Kayak orang ngga beragama saja. Mati, rejeki dan jodoh sudah takdir yang kuasa.”

“Iya, saya percaya akan hal itu. Tetapi justru karena percaya maka saya jadi takut. Bukankah orang yang mati sebelum waktunya, arwahnya akan gentayangan; tidak diterima di bumi, namun juga ditolak di alam sana?” ujar Saniyem lirih. “Jika benar setiap orang yang menerima arisan kemudian mati, seperti Pinah dan beberapa teman lainnya, berarti kematian mereka disebabkan karena hal lain alias dipaksakan, seperti halnya bunuh diri, sehingga arwah mereka gentayangan.”

“Ah, sudahlah. Jangan ngomongin itu lagi,” sahut Ningsih. Bulu kuduknya tiba-tiba merinding. Meski siang hari, namun mereka bisa merasakan aura mistis di dalam ruang pabrik itu. Ningsih merasa ada yang tengah mengawasi dirinya. Bukan Tejo, si pengawas yang genit, tetapi arwah Pinah. Ia seperti melihat kembali wajah temannya yang mati digulung mesin pemintal di antara lajur-lajur benang. Wajah itu penuh darah. Meski diam, namun Ningsih mendengar rintihan Pinah yang begitu menyayat. Rintihan kesakitan ketika tubuhnya digulung mesin pemintal.

Buru-buru Ningsih membuang bayangan mengerikan itu dan kembali fokus pada pekerjaan hingga  jam  istirahat makan siang. Ningsih lega karena Saniyem tidak lagi menyiggung soal kematian teman-temannya.

Namun usai istirahat terjadi kegaduhan. Penyebabnya mesin -mesin di ruang kerja Ningsih dan Saniyem bergerak sendiri. Operatornya tidak mempu mengendalikan putarannya sehingga benangnya berhamburan kemana-mana. Meski hanya berlangsung setengah menit, namun ketakutan yang ditimbulkan tidak hilang hingga sore.

“Ada kerusakan pada system circuit breaker-nya. Jangan berpikir macam-macam,” ujar Tejo berusaha menenangkan karyawan yang ketakutan.

“Mungkin dijalankan oleh arwah Pinah dan temen-teman kita yang meninggal setelah mendapat arisan,” cetus Saniyem.

Ningsih tidak menyahut. Namun bulu kuduknya tiba-tiba merinding.

Meski akhirnya semua karyawan kembali bekerja, namun suasananya sudah berubah dratis. Mereka saling mengawasi satu sama lain seolah ingin memastikan jika mesin itu dioperasikan oleh temannya, oleh manusia, bukan oleh arwah karyawan yang penasaran. Mereka senang ketika tahu mesin di sebelahnya, atau di depannya, masih dioperasikan oleh temannya. Perlahan suasana mencair kembali sampai kemudian terdengar jerit Ningsih yang begitu menyayat.

Reflek Saniyem melompat dan bermaksud mendekap Ningsih untuk menenangkan. Namun Ningsih justru menghindar sambil menunjuk-nujuk wajah Saniyem. “Jangan mendekat!”

Saniyem berhenti dan terpaku di tempatnya. Beberapa karyawan langsung merubung dan berusaha menolong Ningsih. Setelah diberi air putih, perlahan Ningsih tenang kembali. Diam-diam Saniyem mendekat dan menepuk bahu NIngsih, “Ada apa, Ningsih?”

Ningsih menoleh dan spontan kembali menjerit, “Kamu bukan Saniyem. Kamu Pinah!”

Ningsih merasa sedang melihat Pinah yang berdiri di depannya dengan wajah memelas. Rambut panjangnya kusut masai. Darah menetes dari seluruh tubuhnya, membasahi kain mori yang dikenakannya. Bola matanya sudah hilang sehingga hanya menyisakan lubang hitam. Namun masih ada darah yang menetes dari lubang mata. Hal inilah yang paling membuat Ningsih ketakutan. Ia ingat betul, pada saat terjepit mesin pemintal itu tubuh Pinah remuk dan bola matanya hilang karena tertusuk tuas yang runcing.

“Saya Saniyem, bukan Pinah,” jawab Saniyem dengan suara serak.

“Bukan! Kamu bukan Saniyem! Kamu Pinah yang merasuk dalam tubuh Saniyem!”

Kegaduhan itu membuat aktifitas kerja terhenti. Beberapa pegawai dari bagian lain ikut merubung sehingga terjadi kehebohan. Tejo hanya bisa berteriak-teriak tanpa bisa memberi solusi. Sebagai pengawas, tugas Tejo hanya memastikan pekerjaan tetap berjalan meski ada gempa bumi atau pun wabah penyakit.

“Ada apa ini?!” tanya Pak Mardi. Tidak ada yang melihat kedatangan kepala bagian keuangan perusahaan itu. Tiba-tiba saja dia sudah ada di situ.

“Ningsih kerasukan…”

“Bukan aku yang kerasukan, tapi Saniyem,” potong Ningsih sambil berteriak.

“Sudah, diam! Bawa NIngsih ke klinik pengobatan,” ujar Pak Mardi.

Beberapa orang lantas membopong Ningsih keluar. Meski berontak dan terus berteriak-teriak, namun tenaga tiga laki-laki yang membopongnya terlalu kuat sehingga akhirnyua Ningsih berhasil dibawa ke ruang pengeobatan yang terletak di bagian belakang kompleks perkantoran.

“Sekarang semuanya kembali bekerja,” perintah Tejo.

Seluruh karyawan sudah bersiap kembali ke tempat kerja masing-masing ketika Pak Mardi menyuruh berkumpul kembali. “Tunggu dulu. Saya akan mengumumkan pemenang arisan yang tadi sudah dikocok di atas.”

“Siapa yang dapat Pak?” celetuk seorang karyawan tak sabar sambil menatap wajah Pak Mardi tanpa berkedip.

“Saniyem!”

Suara Pak Mardi terdengar bagai meriam di telinga Saniyem. Rentetan kejadian yang baru saja dialaminya, cerita Ningsih dan Yuni soal Pinah, membuat batinnya tertekan. Apakah ini pertanda ajal saya sudah tiba? bisik Saniyem dalam hati.

“Bukannya gembira, malah bengong!” goda Yuni yang sudah berdiri di sebelahnya. “Benarkan kataku? Feelingku memang kuat. Kelak aku mau jadi paranormal saja,” sambungnya diiringi derai tawa.

“Ini uangnya, sudah saya bawa. Tolong diterima dan dihitung lagi. Setelah saya pergi, tidak boleh ada komplain,” kata Pak Mardi bermaksud bercanda. Namun bagi Saniyem, senyum laki-laki berusia 50-an tahun itu seperti seringai seekor sringgala yang hendak menerkam mangsanya.

“Saya takut, Yun,” ujar Saniyem ketika semua karyawan, termasuk Pak Mardi, sudah kembali ke tempat kerjanya masing-masing. “Saya takut kejadian yang menimpa Pinah akan saya alami.”

Yuni sebenarnya ingin menghibur. Namun entah mengapa, jauh di dasar hatinya, Yuni pun melihat aura Saniyem sudah berubah. Sosoknya bukan lagi Saniyem yang dikenalnya selama ini, melainkan mayat yang tengah membeku. Bibir dan bola matanya nyaris putih semua. Mungkin ini yang dilihat Ningsih, kata Yuni dalam hati.

“Mbak Saniyem sepertinya kurang enak badan. Lebih baik minta ijin pulang duluan,” saran Yuni. “Lagipula sudah pegang uang jutaan, pasti pikirannya sudah ke mana-mana.”

“Iya, betul katamu Yun,” sahut Saniyem. “Bukankah Pinah mati karena dia tetap bekerja setelah menerima arisan? Baiklah, aku mau ijin untuk pulang dulu. Badan saya memang kurang fit.”

Saniyem urung menghidupkan mesin di depannya. Tanpa menunggu waktu, Saniyem langsung berkemas dan bergegas keluar area pabrik setelah meminta ijin pada Tejo.

“Mentang-mentang baru dapat arisan langsung sakit,” gerutu Tejo. Namun dia tetap memberi ijin ketika melihat wajah Saniyem. Tejo tidak ingin ada kehebohan lagi.