Now Loading

Pabrik Tekstil

Pagi masih menyisakan embun ketika Saniyem bergegas menuju pabrik tekstil yang terletak di daerah Ungaran Jawa Tengah. Meski jarak antara bedeng kontrakannya dengan pabrik hanya sekitar 300 meter, namun pada hari-hari tertentu- seperti sekarang, Saniyem merasa jarak itu sangat jauh. Jalannya sedikit limbung dan kakinya terasa sangat berat. Matanya masih sembab karena kurang tidur. Deru kendaraan yang lalu-lalang di sebelahnya, serta teriakkan serak kondektur bis yang tengah mencari penumpang, seperti tidak didengar. Juga klakson genit yang sesekali menggodanya. Jika suasana hatinya sedang riang, Saniyem suka juga melempar senyum pada mereka. Jujur saja, di usianya yang sudah kepala tiga, godaan orang-orang iseng kadang dinikmati. Berarti aku masih terlihat muda dan cantik sehingga mereka mau menggodaku, hibur Saniyem.

Apalagi suaminya sudah tidak pernah menggoda. Jangankan untuk mencandainya dengan kata-kata mesra, sekedar memberi perhatian ketika dirinya pulang kerja pun tidak pernah dilakukan lagi. Entah kapan terakhir ia mendengar pujian atau godaan Mas Yanto- suaminya. Mungkin sebelum menikah dulu. Entahlah, Saniyem sudah lupa. Berbagai persoalan yang terjadi belakangan ini menguras pikirannya. Tidak tersisa ruang dalam otaknya untuk mengingat masa lalu. Situasinya kini bertambah ruwet setelah ia mendapat kabar jika ayahnya yang tinggal di Semarang sakit keras. Pikirannya terbagi ke mana-mana. Bahkan Saniyem tidak bisa konsentrasi ketika bekerja. Beberapa kali mandornya menegur dan sempat mengancam akan memindahkannya dari bagian produksi ke bagian lain yang lebih berat.  

Ya, ayahnya memerlukan biaya untuk berobat. Padahal sudah seminggu ini Saniyem tidak punya uang lebih. Uang yang ada hanya cukup untuk makan sampai sehari-hari. Ia sudah cermat menghemat uang sehingga bisa cukup sampai uang makan dari pabrik keluar. Namun uang makan yang nanti sore akan diterimanya, juga tidak cukup kalau untuk dikirim ke orang tuanya. Ada tunggakan cicil baju lebaran yang harus ia bayar. Kalau sisanya kemudian dikirim ke Semarang, anak-anakku mau makan apa? Sebab gajian masih dua minggu lagi. Tidak mungkin juga kasbon ke kantor karena masih punya tunggakan hutang yang dibayar dengan cara mengangsur dalam jangka waktu setahun. Saat ini baru tiga bulan mengangsur. Kasir perusahaan pasti akan menolak mentah-mentah jika ia nekad mengajukan pinjaman baru.

Berharap dari Mas Yanto, juga rasanya sangat mustahil. Sebagai buruh serabutan di pasar- terkadang nyambi sebagai tukang parkir, penghasilan suaminya tidak menentu. Bahkan seringkali pulang tanpa membawa hasil. Saniyem pernah mendengar selentingan Mas Yanto ada main dengan penjual nasi rames di pasar. Tapi Saniyem tidak punya waktu untuk membuktikan. Lagi pula Saniyem tidak mau bertengkar. Tidak ada gunanya. Apalagi jika mengingat dua anaknya yang masih kecil-kecil: Tumi dan Tono. Ia butuh Mas Yanto untuk menjaga mereka ketika dirinya bekerja.  

Begitu rutinitas kehidupan yang dijalaninya Saniyem. Memang membosankan, namun ia tidak punya pilihan lain. Mau berkeluh-kesah pun tidak ada gunanya. Toh tidak ada orang yang mau mendengar apalagi peduli pada penderitaan kita? Paling-paling dapat kata-kata simpati, dan saat ini Saniyem tidak membutuhkan itu.

“Mba Saniyem, tunggu!” teriak Yuni.

Pada panggilan ketiga, Saniyem baru mendengar. Ia menoleh lalu berhenti untuk menunggu Yuni yang baru keluar dari gang. Gadis muda itu setengah berlari ketika menyeberang jalan yang selalu ramai di pagi hari.

“Serius sekali jalannya!” canda Yuni setelah tiba di samping Saniyem. “Mentang-mentang mau dapat uang makan!”

“Cuma numpang lewat di tangan,” sahut Saniyem sambil kembali berjalan.

“Masih mending, Mbak. Meski uang makan dan gaji kita hanya cukup untuk bayar hutang, setidaknya masih punya harapan. Ada juga loh yang banyak hutang tapi tidak punya penghasilan.”

Saniyem tidak menjawab. Ia justru mempercepat langkahnya sehingga Yuni hampir tertinggal.

“Jangan buru-buru sih, Mbak!”

“Sudah kesiangan. Tahu sendiri bagaimana kejamnya kasir kita. Apalagi Pak Mardi. Huft..! Terlambat satu detik saja pasti sudah didamprat. Kalau sekedar diomeli sebenarnya saya terlalu peduli. Sampai mulutnya jontor juga terserah saja. Tapi ini pakai dipotong uang makan segala. Bikin saya kesel!” sungut Saniyem.

“Namanya juga buruh kecil. Tenaga kita yang dibayar. Jadi kalau ada karyawan yang terlambat masuk, perusahaan rugi…”

“Omonganmu sudah seperti Pak Mardi saja,” potong Saniyem, pura-pura sewot. Namun tak lama keduanya lantas tertawa. Getir. Mentertawakan nasib sendiri yang tak kunjung berubah meski sudah menjadi buruh pabrik yang rajin.

“Eh Mbak, aku punya feeling, hari ini Mbak Saniyem yang akan dapat arisan,” ujar Yuni ketika mereka sudah berada di depan gerbang pabrik. Nada bicara Yuni terdengar sangat serius. Arisan yang diadakan di pabrik dikocok dua kali sebulan yakni pada tanggal gajian dan pertengahan bulan saat uang makan keluar. 

“Masa? Dari mana kamu tahunya?”

 “Iya, Mbak. Tidak tahu mengapa aku sangat yakin. Tadi pagi, sewaktu mandi, aku seperti melihat wajah Mbak Saniyem di dalam sumur…”

“Apa?!” pekik Saniyem. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.

“Hush, kok jadi panik begitu,” kata Yuni keheranan. “Aku tidak bohong, Mbak. Serius. Dulu saat almarhum Mbak Pinah mau dapat arisan, paginya aku juga melihat wajahnya di sumur.”

Saniyem semakin ketakutan.

“Saat itu aku juga cerita sama Mbak Saniyem, kan? Dan benar saja, sorenya Mbak Pinah dapat arisan!”

Saniyem mengangguk. Terbayang wajah rekan kerjanya itu. Saking senangnya dapat arisan, dia sampai lupa mematikan mesin pintal. Tubuhnya tergulung benang. Meski berhasil dikeluarkan dari mesin, namun nyawanya tidak tertolong. Sampai sekarang teman-temannya yang kerja shift malam, sering mendengar jeritan Pinah. Jeritannya begitu pilu dan menyayat hati. Konon Pinah menjadi hantu. Arwahnya gentayangan karena masih banyak darah dan bagian tubuhnya yang hilang. Sewaktu tergencet mesin, tangan dan sebagian anggota tubuhnya terberai. Dagingnya tercecer ke mana-mana. Meski sudah dibersihkan, sampai sekarang, terutama pada malam Jumat, kadang masih tercium bau anyir darah di tempat itu.   

Saniyem sebenarnya tidak percaya pada hal-hal seperti itu. Bagaimana pun orang yang sudah mati, pasti tidak bisa kembali ke dunia fana karena sudah berpindah ke alam gaib. Tetapi tidak bisa dipungkiri, Saniyem sendiri pernah memergoki sosok Pinah tengah duduk di atas gulungan benang. Tubuhnya penuh darah. Mulut Pinah menyeringai ketika secara tidak sengaja Saniyem bersirobok pandangan. Saniyem sempat histeris dan ditenangkan oleh teman-temannya.

Namun satpam pabrik memarahinya karena pekerjaan jadi terganggu. Saniyem dibawa ke klinik dan diberi obat penenang.  Namun Saniyem terus merancau sehingga disuruh pulang. Konon gara-gara kejadian itu, perusahaan rugi besar karena mesin pintal sempat berhenti beberapa lama. Saniyem dihukum pemotongan uang makan selama seminggu.

“Jika benar dapat arisan, saya tidak mau mengalami kejadian seperti Pinah,” kata Saniyem lirih.

“Huh, itu kan kecelakaan kerja, Mbak. Tidak ada hubungannya dengan arisan. Masa gara-gara dapat arisan jadi mati? Jangan terbawa perasaan. Yang penting, kalau nanti benar dapat arisan, jangan terlalu gembira seperti Mbak Pinah,” pesan Yuni. “Dan jangan lupa traktir aku ya,” sambungnya diiringi tawa berderai.

Namun Saniyem tidak terpengaruh dengan tawa Yuni. Bagaimana mau gembira sementara kebutuhan sudah menumpuk. Bahkan sebenarnya uang arisan tidak tersisa karena sudah dijanjikan untuk membeli motor. Sudah lama Mas Yanto ingin jadi tukang ojek seperti teman-temannya.

Setelah mencolokkan kartu absen, Saniyem buru-buru menuju gedung di bagian belakang. Komplek pabrik itu sangat luas. Di bagian depan terdapat gedung dua lantai yang difungsikan sebagai perkantoran. Sementara pabrik utama berada dalam dua gedung besar seukuran stasiun kereta api. Letaknya di bagian belakang. Ada juga bengkel untuk servis alat tenu yang rusak. Gudang untuk packing kain yang sudah siap kirim berada di sisi kanan gedung perkantoran. Di sisi sebelah kiri- arah barat, terdapat dua perumahan berbentuk kopel. Dulu rumah itu ditempati oleh pemilik dan juga pembesar pabrik. Namun setelah Belanda hengkang  dan pabrik diambil-alih pemerintah, perrumahan itu tidak ada yang menempati. Konon tempatnya angker sehingga tidak ada yang berani menempati. Herannya, rumah itu tidak juga dibongkar meski saat ini pabriknya sudah diambil-alih oleh pihak swasta. Katanya sudah dianggap sebagai gedung bersejarah sehingga pemiliknya tidak bisa sembarangan merenovasi apalagi membongkar.

Seperti biasanya, Saniyem membereskan mesin pemintal dan memanaskannya. Beberapa temannya juga melakukan hal yang sama. Jika alarm berbunyi, maka otomatis benang akan berjalan dan seluruh mesin harus sudah dalam kondisi siap. Jika ada yang terlambat melakukan persiapan, maka seluruh mesin otomatis akan mati dan karyawan yang terlambat tadi akan mendapat sanksi keras berupa pemotongan gaji.

Nyrais semua hukuman terhadap karyawan selalu dikaitkan dengan pemotongan gaji atau uang makan. Meski sempat diprotes, namun pihak manajemen tetap keukeuh. Karyawan pun tidak berani protes lagi setelah keluar ancaman pemecatan.

“Puluhan ribu orang antri ingin bekerja di sini. Perusahaan tidak akan kekurangan karyawan jika kalian semua dipecat,” ujar Pek Ang, kepala personalia perusahaan, saat mengultimatum karyawan yang melakukan aksi mogok.

Dari keluh-kesah akibat kecilnya gaji dan juga banyaknya denda yang dibebankan kepada karyawan, Pak Mardi- kepala bagian keuangan, kemudian mengajak para karyawan untuk mengadakan arisan. Iuran arisan akan langsung dipotong dari uang gaji dan uang makan.

“Hasil arisan bisa digunakan untuk membeli keperluan yang kalian butuhkan seperti sepeda motor untuk alat transportasi atau juga TV dan kulkas. Bayarnya tidak terasa karena langsung dipotong gaji atau uang makan,” ujar Pak Mardi.

Saat itu hampir semua karyawan menolaknya. Namun ketika Pak Mardi mengatakan pihak perusahaan akan memberikan tambahan berupa bonus kepada setiap karyawan yang dapat arisan dengan jumlah yang lumayan besar, maka serempak seluruh karyawan, termasuk yang di bagian administrasi dan lain-lain, menyetujuinya.           

“Terkait denda berupa pemotongan gaji bagi karyawan yang terlambat masuk kerja, tidak bisa ditawar karena itu merupakan kebijakan perusahaan agar karyawan punya tanggung jawab. Sementara untuk menaikkan gaji seperti yang kalian tuntut, juga belum memungkinkan karena kondisi keuangan perusahaan sedang tidak sehat akibat resesi dunia. Namun perusahaan akan memberikan bonus kepada dua karyawan setiap bulannya. Jumlahnya Rp 1 juta per orang. Nah, karena hanya untuk dua orang per bulan, sementara jumlah seluruh karyawan di sini hampir 700 orang, maka yang paling adil harus dikocok. Jadi arisan ini sekaligus untuk menentukkan siapa yang berhak mendapatkan uang bonus tersebut.”

Akhirnya disepakati besarnya arisan hanya Rp 10 ribu per orang tapi dilakukan dua kali sebulan. Dengan karyawan sebanyak itu, jumlah uang arisan yang didapat sekitar Rp 7 juta. Ditambah dengan bonus Rp 1 juta, maka yang mendapat arisan akan membawa pulang uang kurang lebih Rp 8 juta. Cukup untuk beli sepeda motor bekas.        

“Pengocokkan arisan akan dilakukan setiap tanggal 1 dan tanggal 15 pukul 15.00 sore. Nanti saat pengocokkan diwakili oleh dua orang dari masing-masing bagian biar tidak ada kecurangan,” jelas Pak Mardi.

“Jika sebulan hanya dua orang yang dapat arisan, dengan jumlah karyawan sekitar 700 orang, maka arisan ini baru akan selesai 15 tahun mendatang. Bagaimana kalau kemudian ada karyawan yang tidak bekerja di sini lagi? Misalnya dia mengundurkan diri, dipecat atau meninggal dunia?” tanya salah seorang karyawan.

“Bagi yang mengundurkan diri atau dipecat oleh perusahaan sebelum mendapat arisan, maka uang arisannya hangus. Tapi bagi yang meninggal dunia sebelum mendapat arisan, dia akan terus diikutkan sampai selesai. Uang iurannya akan ditanggung perusahaan dan jika nanti dapat arisan, maka uangnya akan diserahkan kepada ahli warisnya.”

Penjelasan Pak Mardi disambut gembira karyawan. Sejak ada arisan karyawan punya harapan tambahan pada setiap awal dan pertengahan bulan. Tidak ada yang tahu bahwa sejak itu nyawa mereka tergadaikan!