Now Loading

Malam Pengantin

Seperti pengantin sunat, Marni dan Turip langsung diarak. Marni dibawa ke rumahnya, sedangkan Turip dibawa ke rumah Mbah Diklik. Turip harus menjalani ritual kungkum atau berendam di sungai sebagai simbol pengukuhan menjadi warga Lembah Kematian. Ritual tersebut wajib dilaksanakan bagi laki-laki dari luar yang hendak mempersunting perempuan kampung itu. Selain menyediakan kembang setaman dan dupa, syarat lain yang wajib dilakukan adalah melarung potongan kuku dan rambutnya.

Sementara pengantin perempuan dimandikan dengan air kembang melati, kembang kesukaan Mbah Bahuga. Sehabis mandi, tubuh Marni menjadi harum. Dukun pengantin memberi tujuh bunga kantil pada sanggul palsu yang dikenakan Marni. Kini Marni benar-benar sudah siap naik pelamin.

Di makam Mbah Bahuga terjadi kesibukan yang sama meski dilakukan lebih khidmat tanpa ada yang bersuara. Di bawah komando Mbah Diklik, mereka membersihkan ruangan di dalam cungkup. Dihiasi dengan aneka bunga dan disemprot minyak japaron. Kasur tipis terhampar lengkap dengan sprei dan bantal. 

“Semoga Mbah Bahuga senang dan mengakhiri kutukan,” ujar Mbah Diklik.

Meski tidak menggunakan panggung, namun dua kursi pengantin yang dipasang di pojok ruang tamu beralas terpal hijau, tetap terlihat mewah. Di belakangnya, dua janur dan batang bambu yang masih ada daunnya, dipasang melengkung. Tepat pada pertemuan kedua ujungnya, diikat dan diberi hiasan dari kertas warna-warni.

Meski semua serba mendadak, namun karena sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya, persiapan berjalan lancar. Bahkan alat musik sederhana telah dimainkan sebagai pembuka acara pernikahan. Turip datang dengan mengenakan baju surjan dan kain sarung warna hitam milik Mbah Diklik. Turip hampir muntah ketika mencium wangi minyak wangi yang entah kapan disemprotkan sehingga telah berubah menjadi sengak. Turip sempat usul beli baju di Kalianget. Namun ditolak karena tidak ada waktu. Turip pun pasrah. Semua sudah diatur dan dirinya tidak berhak untuk memilih.

Turip lebih banyak mengalah karena tidak warga kampung berubah pikiran sehingga melarang menikahi Marni. Turip sudah punya rencana sendiri. Itu sebabnya Turip berusaha memendam semua ketidaksukaannya pada warga kampung dengan segala ritualnya, sampai resepsi selesai.

“Apakah Turip bin Mahmud sudah siap untuk ijab qobul?”  tanya penghulu desa.

Mereka dinikahkan secara Islam- seperti juga semua warga Lembah Kematian, meski sehari-hari tidak pernah melaksanakan sholat. Ada tiga ritual yang memakai sarana keagamaan yakni kelahiran, perkawinan dan kematian. Khusus untuk laki-laki ditambah satu l saat disunat. Di luar hal itu, mereka menyerahkan sepenuhnya pada Mbah Bahuga. Mereka percaya Mbah Bahuga yang menentukan apakah mereka akan panen besar atau gagal panen. Apakah tambang batu di Gumuk Mayit akan runtuh atau tidak. Itu semua berkaitan dengan suasana hati Mbah Bahuga.

“Siap!” jawab Turip mantap.

Pamo yang duduk di sebelah Marni,  di belakang meja kecil yang menjadi altar ijab qobul, menolak menikahkan Marni dan menyerahkan prosesinya  kepada sang penghulu. Sebagai laki-laki Lembah Kematian, Pamo selalu memilih jalan paling aman. Menghafal kalimat pernikahan merupakan beban berat melebihi apapun. Takut salah, begitu selalu alasan yang dikemukan para bapak saat menolak untuk menikahkan putrinya.   

Tidak sampai 10 menit acara ijab qobul itu selesai. Kini Marni sudah resmi menjadi istri Turip. Gelak-tawa para tamu yang menyaksikan acara menghapus sejenak bayang-bayang malam pengantin yang mendebarkan. Meski diperbolehkan untuk duduk bersanding, namun keduanya dilarang masuk ke kamar pengantin.

“Nanti malam Mas Turip tidur di kamar pengantin sendirian, karena Marni harus tidur di kamar pengantin yang satunya lagi,” pesan Yu Dinem, dukun manten untuk urusan di luar ijab qobul..

Turip mengangguk. Namun pikirannya sedang mencari cara yang tepat untuk melaksanakan rencananya. Menjelang sore, ketika tamu-tamu sudah pulang, kesempatan pun datang. Turip menghampiri Marni yang tengah duduk sendirian di kamar orang tuanya.

“Kita harus kabur,” bisik Turip.

“Kabur? Kabur ke mana?”

“Ke Jakarta. Sekarang kita sudah sah menjadi suami istri. Saya berhak untuk membawamu ke mana saja,” ujar Turip.

Marni terkesiap. Baru kali ini ia melihat Turip begitu serius. Bahkan memaksa. Apakah karena aku sudah menjadi istrinya sehingga dia mulai berani mengatur hidupku?

“Kamu dulu yang pergi..”

“Bagaimana caranya?” tanya Marni.

“Kamu pura-pura ke sungai. Nanti saya menyusul.”

“Tidak!” sambar Marni dengan cepat membuat Turip kaget. “Aku harus mengikuti seluruh tahapan yang sudah disepakati. Aku tidak mau orang tuaku dicemooh warga kampung dan terkena kutukan Mbah Bahuga akibat ulahku!”

“Itu bohong, Mar. TIdak ada Mbah Bahuga.”

“Terserah apa anggapanmu,” potong Marni lagi. “Tadi pagi kamu sudah bilang tidak apa-apa kalau Mbah Bahuga mendahuluimu…”

“Karena saya pikir kamu tidak serius soal setan itu!” Kali ini gantian Turip yang memotong dengan nada meninggi. Namun buru-buru ia menutup mulutnya.

“Kita harus kabur dari sini. Saya mohon.”

“TIdak bisa,” jawab Marni sambil menggelengkan kepala. “Kita harus menepati apa yang sudah kita ucapankan.”

“Rupanya kamu  penasaran bersetubuh dengan setan!”

Plak..! Tangan Marni berkelebat dan mendarat telak di pipi kanan Turip yang tidak menduganya. Sesaat Turip merasa pusing. Namun ia berusaha untuk tidak terpengaruh. Tekadnya untuk membawa Marni justru semakin berkobar.

“Kalau tahu kamu punya maksud tersembunyi, aku tidak sudi menikah denganmu!” kata Marni dengan suara tertahan. Nafasnya memburu menahan amarah.

“Saya tidak menyembunyikan maksud apa-apa. Sebagai suami, tentunya saya berhak untuk menyelamatkan istri saya dari ritual mistis yang tidak masuk akal,” balas Turip. “Lain halnya jika memang kamu menginginkannya!” 

“Jangan kamu hina aku seperti itu, Mas!” jerit Marni. “Aku pun merasa jijik. Tidak ada yang lebih hina bagiku selain melayani nafsu Mbah Bahuga, sosok yang tidak aku kenal. Bahkan wujudnya seperti apa, aku pun tidak tahu. Namun semuanya harus kita lalui karena kita menikah di sini, di Lembah Kematian!“

Turip merasa eksistensinya sebagai suami mulai goyah. Semburan kata-kata Marni merupakan penegas jika ia tidak mau diatur- seperti juga selama ini. Tadinya Turip berharap, setelah menjadi istrinya, sifat Marni yang keras akan berubah. Setidaknya mau mendengarkan kata-katanya. Tapi kini harapannya sia-sia.

“Andai saja tahu akan begini, aku tidak akan pulang! Mungkin juga aku tidak mau menjadi istrimu karena kamu terlalu baik bagiku. Tetapi semua sudah terlanjur!”

“Belum sepenuhnya terlanjur, masih bisa kita perbaiki. Kali ini saja, tolong percaya pada saya, makhluk yang kamu khayalkan, yang dipercaya oleh semua warga kampung, tidak ada. Itu hanya ilusi, mitos!”

Marni mendelik mendengar ucapan suaminya. Tanpa mengendurkan suara, Marni berujar, “Jika kamu tidak percaya, mengapa tidak kamu biarkan aku menjalani ritual itu? Tidak bisakah kamu melewatkan waktu semalam tanpa aku?”   

“Bukan itu masalahnya,” sahut Turip berusaha tenang. “Saya takut setelah ini akan ada ritual lanjutannya sehingga akhirnya kita terkurung di sini.”

“Tidak ada, aku jamin tidak ada ritual lain,” tegas Marni.

Turip menghela nafas. Meski logikanya masih belum bisa menerima segala argumen Marni, namun akhirnya ia mengalah.

“Baiklah, terserah kamu saja,” pungkas Turip. “Tadi kamu sudah berjanji, setelah malam ini tidak akan ada ritual lain yang harus kita jalani. Artinya, jika sampai ada ritual lanjutan, kamu harus berani menolaknya!”

“Iya Mas. Aku janji!”

Senja merambat cepat, berganti malam. Marni sudah siap diantar oleh Yu Dinem menuju makam Mabh Bahuga. Bapak dan Emak berdiri di belakangnya. Surip memimpin memimpin barisan depan, sedang Darno di bagian belakang.

Turip sebanarnya ingin ikut, namun dilarang. Ia hanya bisa melihat rombongan itu berbaris mengantar istrinya untuk persembahan. Hatinya tersayat, namun ia tidak punya kuasa untuk menghentikan. Ketika liukan api obor sudah tidak terlihat, Turip memilih menjauh dari rumah dan duduk sendirian di bawah pohon.        

Rombongan berjalan agak lambat karena Marni kesulitan berjalanb dengan pakian pengantin. Ia taru tahu  ternyata ada jembatan kecil di bagian hilir. Setelah itu rombongan tiba di seberang  dan hanya satu kali tanjakan, mereka tiba di komplek pemakaman.

Mesmi sudah diberitahu sebelumnya, namun Marni hampir pingsan ketika masuk ke cungkup. “Jadi aku ditinggal sendirian?”

“Tidak apa-apa, banyak yang menunggu,” ujar Yu Dinem.  

Marni merasa jantungnya mau copot ketika Yu Dinem menutup pintu. Penerangan dari lampu minyak di atas kuburan Mbah Bahuga, menambah seram suasana. Saat kecil, Marni pernah mendengar ada pengantin yang kabur karena ketakutan. Apakah aku juga harus kabur?

Andai Marni tahu saat itu rombongan sudah meninggalkan makam, mungkin ia tidak perlu berpikir dua kali untuk meninggalkan tempat. Tetapi karea yakin rombongan, treutama Yu Dinem dan Emak masih di luar, Marni akhirnya duduk di atas kasur. Bau minyak japaron membuat pusing.

Kapan Mbah Bahuga akan keluar? pikir Marni sambil melirik makam  yang diplester semen dan dicat hitam. Kembang tujuh rupa di atasnya masih tampak segar. Tidak, tidak mungkin sosok itu keluar dari makam, bantah hati Marni.

Sesaat kemudian Marni mendengar  percakapan orang di balik cungkup. Suaranya agak samar-samar. Tapi Marni dapat mengenali. Ia suara Mbah Diklik, Mbah Jarot dan sais!. Rupanya mereka datang belakangan setelah rombongan.

Apa yang sedang mereka bahas? Mengapa menyebut-nyebut namaku? pikir Marni.  Marni berdiri lalu menempelkan telinganya pada pintu cungkup. Seketika dadanya bergemuruh.