Now Loading

Pertemuan Pertama

Pertemuan Pertama

Pagi masih belum secerlang biasa
Sinar matahari nakal hanya menerobos di antara dedaunan
Dari saringan cahya bak diarama
Memercik sinar di antara noktah-noktah air yang menghiasi kening dan pucuk hidung berwarna dadu

Bagus Alit memandang terpana tak berdaya. Sepasang tangannya yang kekar bertelekan pada batang besi hitam berkilat pagar jembatan.

Sepasang matanya yang tajam berkilat tak lepas dari pusat pandangannya.

Dikucek-kucek matanya hampir tak percaya melihat seorang bidadari jelita bermain air sungai Wiso di dusun Margo Mulyo kali ini.

Sebagian pakaian bawahnya telah basah yang mencetak ketat tubuh bagian bawah bidadari yang semakin nyata memperlihatkan lekak-lekuk tubuh yang aduhai mempesona.

Bagus Alit menggigit tangannya yang kanan sendiri untuk menyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

"Aaww... !."
Ia terpekik merasakan gigi-giginya menghujam cepat ke tangannya menimbulkan rasa sakit.

Ah... benar nyata. Ia tidak bermimpi. Bukan halusinasi, sambil berkerut mukanya menahan rasa sakit tangannya.

Jeritan Bagus Alit ternyata terdengar jelas di kerimbunan dan kesejukan pagi yang terus merambat lambat. Seketika, semua suara seperti berhenti. Hanya suara jerit spontanitas itu yang merambat cepat di udara yang masih beraroma embun menyergap sepasang pendengaran gadis jelita yang asyik bermain air.

Hanya dalam hitungan detik, si jelita telah palingkan sepenuh wajahnya merentang tatap ke arah munculnya suara jerit kesakitan itu.

*

Dua pasang mata saling bertemu. Saling bertaut. Saling menjajaki. Saling menilai.

Sepasang mata bening itu cepat membuang pandang, dengan semu merah di dua belah pipinya yang berlesung indah.
Secepat bisa dirapikan sikap dan pakaiannya. Rupanya ia merasa malu beradu pandang dengan pemuda asing yang tiba-tiba muncul di seberang sana.

Pemuda tampan yang tidak berhenti menjerat pandang karena terpesona.

*

Tanpa sadar Bagus bergeser ke ujung besi jembatan dan dengan buru-buru turun ke arah sungai yang berkecipak suara airnya membelah bebatuan.

Diloncatinya rerumputan liar yang banyak tumbuh di pinggir sungai.
Sepasang kakinya yang bersepatu kain terayun mencari pijakan di antara bebatuan sungai yang bertebaran di sana.

*

Apa yang dilakukan Bagus Alit membuat gadis dusun itu membelalakan mata terkejut dan sedikit ketakutan.

Ia segera keluar dari sungai menjauhi arah pemuda " aneh " itu datang.
Dengan buru-buru ia menaiki tebing rendah berbatu dan bersemak untuk secepat mungkin meninggalkan sungai Wiso, tanpa menoleh lagi.
Sehingga ia tidak mendengar teriakan Bagus Alit mencegah kepergiannya.

"Hai... tunggu. Jangan lari!" teriak Bagus Alit mendapat respon di luar dugaannya dari si jelita itu.

Langkah kakinya yang bersepatu menciptakan suara di atas pasir dan bebatuan kecil kali yang berserakan.

Kemudian suara berubah ketika dengan nekat Bagus Alit meloncat masuk ke tepian kali.

Sekali lagi, ia berteriak sambil terus berlari mengejar.

"Tunggu...!"

Gadis itu bukannya berhenti, malah mempercepat larinya.
Lari menghindar dengan ketakutan, sampai di ujung sebuah pohon Nangka besar yang berada di tikungan kemudian, menghilang!

*

Bagus Alit hampir tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Ia tidak percaya bahwa gadis seperti bidadari itu begitu ketakutan melihat kemunculannya.

Sepasang pipa celananya sudah basah sampai di betis, apalagi sepasang sepatu kainnya basah dan terkena lumpur sungai. Nafas sedikit memburu, raut wajahnya yang tampan nampak sedikit kecewa.

Sepasang mata tajamnya tetap intens memandang ke arah mana si bidadari jelita tadi menghilang.

*
Ia mengacak-acak rambutnya sendiri karena gemas. Tanpa sengaja ia melihat bayangan wajahnya yang tercetak di atas permukaan air bagaikan cermin bening.

"Apakah wajahku begitu mengerikan.
Hingga membuat bidadari itu lari terbirit-birit ke takutan," batinnya galau.

Pertemuan pertama dalam kecewa.
Adakah ada pertemuan selanjutnya?

Bersambung..