Now Loading

Gedung Angker

Dengan tubuh rapat tertutup jaket dan helm full face, Saiman melarikan motornya di tengah dinginnya hawa musim kemarau. Sesekali ia membuka kaca penutup helm ketika jalanan gelap. Namun begitu sampai di tengah kota, Saiman kembali menutup kaca helm. Ia tidak ingin ada yang mengenali. Gedung apartemen itu terletak di tengah kota, dekat tol Cikampek. Saiman hafal karena dulu sering mengambil sampah di sekitar tempat itu. Bahkan ia pernah masuk ke apartemen.

Siapa sebenarnya perempuan yang mengaku bernama Tinah? Saiman bingung apakah dirinya penasaran dengan perempuan itu atau karena dorongan ingin mengetahui misteri di balik kereta bayi yang sudah merenggut korban. Ia merasa aneh, setelah kejadian di rumah Darmi, bayi dalam stroller tidak pernah muncul lagi. Hanya muncul sekali waktu hendak ia bongkar. Setelah itu sama sekali tidak menampakkan wujudnya. Apakah dia sudah hilang karena tidak lagi mempunyai rumah? Ah, biar saja, pikir Saiman.

Setelah menyusuri jalan kecil di sisi tol, Saiman lantas mematikan lampu motor dan langsung masuk ke ke halaman apartemen melalui pintu kecil. Gerbang utamanya sudah lama tidak dibuka. Sejak peristiwa pembunuhan yang menggemparkan warga, nyaris tidak pernah ada yang datang ke apartemen tiga lantai ini. Saiman sempat heran, mengapa seluruh penghuni apartemen bisa kompak takut. Mengapa tidak ada yang berupaya untuk mengusir hantunya?   

Suasana di halaman apartemen begitu lengang. Satu-satunya penerangan berasal dari lampu sorot di pinggir tol. Cahayanya cukup terang sehingga membantu Saiman menemukan tangga menuju lantai 1. Ia tidak yakin lift yang ada di bagian tengah, masih bisa digunakan. Sepertinya listrik ke apartemen ini sudah lama dicabut oleh pihak PLN. Bahkan lampu kecil di pojok halaman juga sudah mati. Padahal dulunya pojok halaman itu berupa taman yang indah. Tetapi sekarang tamannya sudah tidak ada, berganti semak-semak.

Saiman berhenti ketika kakinya sudah melewati tiga anak tangga. Tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Lorong tangga di depannya sangat gelap. Saiman mendongak untuk mencoba melihat ruangan lantai 1. Namun ia tidak bisa melihat apapun. Pendar cahaya dari luar yang menerobos masuk lewat kaca tidak mampu menerangi isi ruangan. Di mana Tinah? Apakah dia sudah melihat kedatanganku? Saiman meyakini Tinah bukan makhluk gaib atau sejenisnya. Dia perempuan biasa yang sedang iseng, pikir Saiman menguatkan hatinya.

Setelah berhasil mengatur debaran jantungnya, Saiman kembali menapaki anak tangga. Lantai 1 sudah di depan mata, tinggal dua langkah lagi. Namun seperti tadi, matanya tidak mampu mengenali isi ruangan yang berada di depan tangga. Mungkin dulunya ruangan ini berfungsi sebagai front office. Minimal tempat nongkrong penghuni apartemen. Entahlah, keluh Saiman.  Kini bukan hanya bulu kuduknya yang berdiri, namun juga bulu tangan dan kakinya. Sesaat ia ragu-ragu. Terlebih ketika matanya menangkap sebuah bayangan melintas di depannya tanpa suara.

Saiman terpaku sejenak. Langkahnya terhenti pada anak tangga terakhir. Matanya nyalang, mencoba menyusuri setiap sudut ruangan di depannya. Perlahan matanya mulai beradaptasi dengan kegelapan. Tidak ada siapa-siapa, gumannya. Rasa takutnya mulai mendekati sempurna. Mungkin apartemen ini benar-benar ada hantunya. Kini Saiman mulai ragu-ragu. Tekadnya untuk membongkar misteri kereta bayi tertahan oleh rasa takut yang menjalari tubuhnya.

“Masuk saja, Mas Saiman!”

Saiman terkesiap mendengar perintah itu. Pasti suara Tinah, pikirnya. Ragu-ragu Saiman melangkah, menaiki tangga terakhir. Kini dirinya benar-benar sudah berada di ruangan terbuka yang gelap. Apapun yang akan terjadi, aku tidak boleh mundur, tekadnya sambil kembali melangkah.

“Belok ke lorong sebelah kiri!”

Glek. Saiman menelan ludah yang terasa pahit. Sendirian di tempat gelap dan berhantu saja sudah membuat dirinya ketakutan. Kini ditambah perintah yang harus dituruti tanpa ia tahu siapa yang memberi perintah. Bagaimana kalau saya melawan? tanyanya di tengah keraguan. Keinginannya untuk kabur dari tempat itu mulai mengumpal, meski hatinya melarang. Akhirnya Saiman berbelok ke kiri, menyusuri lorong sepi dan gelap. Namun itu merupakan siksa yang sangat panjang. Lorong tersebut seolah tanpa tepi. Saiman pun berhenti untuk memastikan dirinya tidak sedang berjalan menuju alam gaib.

“Sedikit lagi, Mas Saiman. Tinggal beberapa langkah!”

Tiba-tiba Saiman berbalik dengan cara mendadak. Ia merasa suara itu ada di belakangnya. Namun tidak ada siapa-siapa di situ. Di mana dia? tanyanya keheranan. Mengapa dia tahu semua yang aku lakukan. Bersamaan datangnya satu kesadaran, Saiman langsung mendongak. Namun lagi-lagi ia kecewa karena dugaannya meleset. Eternit di atas beku tanpa ada siapa-siapa. Bahkan tidak ada gerakkan yang menandakan ada seseorang atau makhluk lain tengah berada di balik eternit. Semua dingin dan bisu.

“Cepat Mas Saiman, waktunya sudah hampir habis!”

Kali ini perintahnya disertai tekanan. Apakah dia mulai marah karena aku tidak segera menuruti perintahnya?

“Saya tidak marah. Namun jika sampai waktunya habis, akan ada korban lagi! Mas Saiman harus bertanggung jawab!”

Dia mengancam? “Apa salahku?” tanya Saiman dengan bibir gemetar.

“Mas Saiman laki-laki terpilih!”

Terpilih? Terpilih untuk apa? Untuk dikorbankan? Gerutunya dalam hati.

“Teruslah berjalan. Tolong saya!”

Saiman menghela nafas lalu mengeluarkannya secara perlahan sebelum kemudian mengayunkan kaki kanannya, disusul kaki kiri. Namun langkahnya sangat pelan. Sangat berat rasanya untuk sekedar mengangkat telapak kaki. Untuk apa aku melakukan tindakan bodoh ini, sesalnya dalam hati.

Saiman menyeret langkahnya ketika perempuan itu kembali memberi perintah. Ada apa di depan sana? Suasananya cukup gelap meski sinar lampu dari pinggir tol bisa sedikit membantu- setidaknya  menjadi petunjuk jika dirinya masih berada di alam nyata. Tapi sesaat kemudian Saiman meralat kesimpulannya sendiri. Sebab ia juga tidak tahu apakah di alam gaib ada lampu atau tidak.

“Belok kiri, Mas saiman,” ujar perempuan itu. Kali ini suaranya sangat pelan, mirip desahan.

Saiman menoleh ke kiri dan spontan tertegun. Kini ia berdiri tepat di depan kamar apartemen yang menjadi tempat pembunuhan. Bahkan pintunya masih diberi police line meski sudah kusam. Bagaimana caranya masuk?

“Masuk saja!”

“Apa kamu tidak lihat pintunya tertutup!” teriak Saiman.

“Masuklah!”

Dahi Saiman berkerut. Ini pasti jebakan. Bisa saja suara itu berasal dari speaker dan orangnya ada di bawah sana. Atau bahkan mungkin ada di tempat lain yang jauh namun bisa memonitorku, pikir Saiman.

Ketika Saiman bermaksud mundur, tiba-tiba pintu di depannya terbuka. Terdengar suara hempasan ketika daun pintu itu beradu dengan tembok. Teorinya bahwa ada seseorang yang meremote suara perempuan itu dari kejauhan, gugur. Ada orang di dalam kamar sana. Tapi siapa? Mungkinkah itu Tinah?

“Masuklah!” perintah perempuan itu lagi.

“Aku tidak mau masuk!” kata Saiman. “Jika kamu memang manusia, keluarlah.”

“Saya tidak bisa keluar…”

“Kenapa?” potong Saiman.

“Makanya Mas Saiman masuk. Nanti saya ceritakan semuanya.”

“Tapi…”

“Cepatlah masuk!” kali ini perempuan itu yang memotong ucapan Saiman. “Waktunya semakin mepet!”

Ragu-ragu Saiman mendekati pintu di depannya. Meski gelap-gulita, namun Saiman bisa merasakan ada seseorang di dalam sana. Mungkin Tinah terjebak dalam ruangan ini dan dia tidak bisa keluar karena ada police line, pikir Saiman.

Sudah terlanjur, pikir Saiman sambil membungkuk agar badannya bisa masuk lewat sela-sela pita polisi berwarna kuning itu. Namun begitu ia bisa masuk, tiba-tiba daun pintu di belakanganya menutup. Kembali terdengar benturan yang cukup keras. Belum sempat Saiman menarik nafas, mendadak ruangan itu sangat terang. Rupanya ia berada di ruang tamu yang kecil dan sempit. Di seberangnya terlihat ruang bermain, lalu kamar dan di ujung ruang bermain ada pintu kamar kecil dan dapur. Semua tampak berantakan.

“Di mana kamu?” tanya Saiman dengan suara tercekat.

Wusss…! Terdengar desiran angin lumayan kencang. Telinga Saiman mendadak terasa dingin. TIba-tiba dari arah dapur keluar perempuan muda sambil membawa nampan berisi mangkuk bubur dan segelas susu. Hati Saiman berdebar-debar melihat senyum perempuan cantik dalam balutan baju suster itu.

“Maaf, apa kamu yang namanya Tinah?” tanya Saiman. Suaranya dibuat sewajar mungkin.

Perempuan itu tersenyum. Namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mungilnya. Dia terus berjalan, mendekati Saiman. Bahkan setelah dekat pun dia terus berjalan, seolah tidak melihat kehadiran Saiman. Karuan Saiman buru-buru menghindar ketika perempuan itu hampir menabraknya. Tapi terlambat. Perempuan itu melewati dirinya! Bukan lewat sebelah, tapi melewati tubuh Saiman. Karuan saja Saiman memekik saking terkejutnya.

“Ha…han…hantu!” pekik Saiman sambil meloncat ke atas sofa. Namun tubuhnya malah terhempas. Bukan di atas sofa tapi di atas lantai.