Now Loading

Cerita Pak Sutar

Setelah ijin dua hari, Saiman kembali bekerja seperti biasa. Namun sekarang Saiman bukan lagi pribadi yang periang. Rekan-rekan kerjanya sering memergoki Saiman tengah melamun. Meski tangannya sibuk bekerja, menyapu jalanan, tapi tatapan matanya kosong. Pikirannya mengembara jauh meninggalkan lokasi kerja.

Ya, Saiman masih terkenang pada Darmi. Bahkan Saiman sempat menabur bunga di atas pusara kekasihnya itu meski hatinya masih sakit. Ia tidak pernah menduga Darmi yang kalem dan terlihat baik, tega berpaling pada laki-laki lain.

Hati Saiman bertambah sakit setelah mengetahui sosok Rizal, laki-laki yang akan membawa Darmi ke Palembang. Ternyata Rizal bekerja sebagai security di pasar tempat ayah Darmi membuka kios jahit. Darmi memang sering membantu ayahnya. Di tempat itu juga dulu Saiman mengenalnya.  Yang  ia sesalkan, mengapa Darmi lebih memilih duda dibanding dirinya yang masih bujangan. Ya, Rizal duda parobaya dengan dua anak.

Rizal tidak bersalah karena dia tidak tahu Darmi sudah punya pacar, pikir Saiman. Yang keterlaluan tentunya Darmi. Mengapa dia bisa tergoda pada rayuan Rizal. Apa kelebihan Rizal? Kalau dari sisi penghasilan, mungkin lebih besar gajiku. Tampan? Saiman pernah melihat sosoknya dan ia rasanya Rizal biasa-biasa saja. Mungkin jenis pekerjaannya yang membuat Darmi kesengsem. Rizal selalu berpakaian rapi dan bersih. Sepatunya mengkilap. Kulitnya agak putih karena nyaris tidak pernah terkena panas. Rizal juga ditakuti para pedagang karena dia akrab dengan preman-preman pasar. Dengan menjadi pacar Rizal, tentu kios Pak Sutar aman dari gangguan preman. Mungkin itu juga yang membuat Darmi mau berlabuh dalam pelukan satpam pasar.

Tapi mungkin juga salahku, bantah hati Saiman. Sejak pacaran sekitar enam bulan lalu, aku belum pernah  memberikan kepastian kapan akan melamar. Padahal usia Darmi sudah 23 tahun dan tidak bekerja sehingga mungkin ingin segera berumah tangga. Ya, aku yang salah, simpul Saiman.

“Sampah itu mau dibawa kemana, Man?” tanya Yu Tini ketika dilihatnya Saiman menyapu tanpa arah sehingga sampahnya justru berserak, bukan dikumpulkan di satu tempat untuk kemudian dimasukan dalam bak.

“Eh, Yu Tini…” guman Saiman sambil terus menyapu.

“Sudah, Man, jangan dipikirkan terus. Yang sudah pergi, jangan disesali. Doakan saja supaya arwahnya tenang di alam sana,” nasehat Yu Tini. “Cari gantinya. Masih banyak perawan di dunia ini!”

“Jadi mantunya Yu Tini saja, Man,” ledek rekan kerja lainnya.

“Benar banget, Man. Tuti sekarang sudah besar lho…” 

Saiman tersenyum mendengar ledekan rekan-rekan kerjanya, meski hambar. Mereka tidak tahu kisah sebenarnya. Mereka hanya tahu Darmi meninggal dalam kamar rumahnya yang kebakaran. Andai mereka tahu kejadian sebenarnya, pasti mereka akan lebih mengasihaniku. Tapi aku tidak mau dikasihani. Kalau pun diceritakan, belum tentu juga mereka percaya. Mungkin malah pada kebingungan, pikir Saiman.

“Kalau jadi menantuku, kerjanya aku suruh duduk saja. Biar aku yang nyapu dari Bekasi sampai ke Jakarta,” sahut Yu Tini menjawab ledekan teman-teman kerjanya. Terdengar tawa yang riuh. Tawa khas orang-orang pinggiran. Tawa tulus untuk sejenak mengurangi beban pekerjaan yang menjemukan.

Ketika mereka tengah asyik bercanda, tiba-tiba terdengar bunyi ban mobil beradu dengan aspal dari kendaraan yang direm mendadak.  Spontan mereka menoleh pada sedan putih di belakangnya. Sebelum menyadari apa yang terjadi, sedan itu sudah berguling-guling. Saiman dan teman-temannya yang tadi sempat tertegun, langsung berhamburan naik ke trotoar. Namun malang bagi Yu Tini. Dia terlambat menghindar. Tak ayal, mobil sedang itu menghantam Yu Tini. Tubuh perempuan kurus itu terpental sebelum kemudian tertindih sedan.

Saiman dan rekan-rekannya spontan berhamburan menuju mobil yang menindih tubuh Yu Tini. Namun langkah mereka terhenti ketika terlihat percikan api dan seketika membesar, menyambar tanki bensin mobil yang bocor. Beberapa orang langsung mencari air untuk memadamkan api. Warga yang melihat kejadian itu juga ikut memadamkan api. Namun ketika terjadi ledakan hebat dari tanki bensin, mereka pun berlarian menjauh.  Api baru dapat dipadamkan setelah satu unit mobil pemadan kebakaran tiba di lokasi. Namun nyawa Yu Tini sudah tidak tertolong. Kondisi mayatnya sangat mengenaskan. Polisi juga menemukan satu mayat pemuda di dalam mobil. Tubuhnya sudah gosong.

Mungkin pemuda itu baru pulang dari diskotik, pikir Saiman. Kecelakaan seperti itu sudah sering dilihatnya. Bahkan bukan baru pertama ini ada tukang sapu jalan yang menjadi korban kecelakaan seperti yang dialami Yu Tini. Saiman juga pernah hampir ditabrak pengendara motor yang mabuk. Mungkin hal ini juga yang menjadi pertimbangan Darmi meninggalkan aku karena pekerjaannya sangat beresiko, ujar hati Saiman ketika tiduran sendirian di kamar.

Bayangan Yu Tini tidak juga pergi dari langit-langit pikiran Saiman. Bergantian dengan wajah Darmi. Mengapa keduanya meninggal dengan cara yang begitu mengenaskan? Tubuh mereka gosong terbakar. Bahkan tubuh Yu Tini bukan hanya gosong tapi juga remuk. Kepalanya pecah dan beberapa bagian kulit kepalanya menempel di badan mobil, bercampur cat. Sementara tangan kirinya harus dipotong karena melekat pada ban mobil yang meleleh.

Mengapa kedua peristiwa tragis ini berurutan dan terjadi di depan mataku? tanya hati Saiman. Apakah ada hubungannya dengan kereta bayi yang aku temukan? Saiman percaya, kasus Darmi memang ada hubungannya. Menurut pengakuan Pak Sutar kepada polisi dan juga tetangganya, pagi itu tiba-tiba Darmi membawa kereta bayi.  Katanya Darmi mendengar tangisan bayi dan ketika menemukan di depan, di dalam stroller, Darmi mengira ada orang yang sengaja membuangnya.

Karena bayi itu terus menangis, Darmi bermaksud membuat air manis. Namun ketika menyalakan kompor, tabung gasnya meledak dan apinya langsung menyambar dinding dan atap. Di tengah kepanikannya Darmi berlari ke kamar dengan maksud mengambil bayinya. Namun dia malah terjebak dan meninggal dunia.

 “Lalu di mana sekarang bayi itu? Karena sudah saya cari ke mana-mana tidak ada. Di kamar depan cuma ada Darmi,” tanya warga yang mendengar kisahnya.

Pak Sutar menggeleng.

“Mungkin sudah jadi abu,” simpul seseorang.  

Jadi Darmi memang meninggal karena ulah bayi misterius dalam stroller. Tetapi bagaimana dengan Yu Tini? Apa salah Yu Tini? Saiman menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. Dadanya kian sesak setiap kali ingat kejadian tragis yang merenggut nyawa Darmi dan Yu Tini. Mungkin saran ibu benar. Aku harus membuang kereta bayi itu. Tapi kemana? Kalau dibuang ke tempat sampah, nanti akan ditemukan oleh orang lain. Kalau bukan oleh penyapu jalan, mungkin oleh pemulung. Bagaimana kalau penemunya nanti mengalami kejadian tragis seperti aku?

Tidak! Aku tidak akan membuang kereta bayi itu. Aku tidak mau ada korban baru, ujar Saiman.