Now Loading

Rumah Darmi Terbakar

Setelah keluar dari komplek kuburan dan hendak berbelok ke gang yang menuju rumah Darmi, Saiman langsung menghentikan motornya. Banyak sekali orang berkerumun di situ sehingga motornya tidak mungkin bisa masuk ke dalam gang.

“Ada apa?” tanya Saiman pada salah seorang pemuda bertelanjang dada.

“Kebakaran!”

Saiman langsung tercekat. Dari atas motor ia melihat pemandangan yang mengerikan. Sejumlah orang tampak sedang menggotong tubuh yang nyaris gosong.

“Ru...rumah siapa yang terbakar?” tanyanya lagi, lirih.

“Pak Sutar!”

“Te...terus si... siapa yang tadi..tadi digotong?”

“Darmi. Dia terjebak di kamarnya! Ayo bantuin! Di dalam masih ada bayi.”

Tubuh Saiman langsung ambruk seperti pohon tumbang. Beruntung kaki Sutinah sigap menjejak ke tanah sehingga motor yang dinaikinya tidak menimpa Saiman.

“Oalah Man, kamu ini kenapa?!” jerit Sutinah.

Beberapa orang yang tengah sibuk menolong korban kebakaran dan memadamkan api agar tidak menjalar ke rumah lainnya, terpaksa beralih menolong Saiman. Mereka menggotong tubuh Saiman ke emperan toko yang belum buka, lalu membaringkannya di sebelah penjual nasi uduk.

“Aku tidak apa-apa,” ujar Saiman lirih sambil berusaha bangun.

“Sudah, tiduran dulu saja,” cegah Sutinah. “Kamu ini kurang tidur. Kamu masuk angin.”

Namun Saiman tidak mau mendengarkan kata-kata ibunya. Ia memaksa bangun lalu berjalan masuk ke dalam gang menuju rumah Darmi. Sutinah hanya bisa membuntutinya dengan tergopoh-gopoh. Karena dikira saudaranya, beberapa orang memberi jalan pada Saiman. Dengan cepat ia sampai di depan rumah yang masih terbakar. Saiman tertegun melihat pemandangan di depannya. Rumah Darmi sudah nyaris rata dengan tanah. namun kobaran api belum juga padam, bahkan terlihat semakin membesar.

Tiba-tiba Saiman melihat perempuan gendut bermake up tebal seperti yang pernah ditemuinya. Saiman mendekati lalu menegurnya. Namun beberapa kali disapa, perempuan itu tidak menoleh. Saiman lantas menepuk lengannya. Perempuan itu menoleh. Spontan Saiman terlonjak. Wajah perempuan itu sangat mengerikan. Hidungnya tidak ada. Tinggal lubang bernanah, penuh belatung. Bola matanya tinggal sebelah, persis bola mata yang dilihatnya tadi pagi di papan penanda kuburan. Sementara giginya besar-besar sehingga mulutnya nyaris tidak muat.

“Tolong!” jerit Saiman sambil menunjuk wajah perempuan itu.

“Ada apa?” tanya laki-laki di sebelahnya.

“Hantu…hantu!” teriak Saiman histeris.

“Hantu?”

Hampir semua orang yang ada di situ, termasuk mereka yang tengah berusaha memadamkan kobaran api, ikut menoleh.

“Ada apa lagi, Man?” tanya Sutinah sambil terisak.

“Ada hantu, Bu. Itu hantunya. Dia yang semalam menuduhku hendak mencuri di rumah Darmi,” ujar Saiman. Bibirnya menggigil.

“Mana hantunya?” tanya laki-laki di sebelahnya.

“Itu!” jawab Saiman sambil kembali menunjuk perempuan berwajah mengerikan.

“Enak saja kamu menuduh saya hantu!” maki perempuan cantik dengan pakaian rapi. Sepertinya dia hendak berangkat kerja.

“Bukan Mbak, tapi dia,” jawab Saiman terbata. Namun telunjuknya tetap terarah pada perempuan cantik itu.

“Gila kamu!” teriak perempuan itu sambil melayangkan tasnya. Saiman tidak sempat mengelak. Alhasil, tas coklat berukuran lumayan besar mendarat dengan mulus di pipi Saiman. “Kamu tidak punya otak ya?! Dipakai dong! Ini sudah siang, mana mungkin ada hantu! Dasar orang gila! Cantik-cantik begini dibilang hantu! Memangnya saya hantu kesiangan yang terlambat pulang ke makam?” lanjut perempuan itu sambil berlalu.

Namun Saiman tidak memperdulikan hantaman tas perempuan itu. Ia kembali berteriak-teriak dan menujuk ke arah yang sama. “Hantu..hantu!”

“Aku hantunya?” tiba-tiba laki bertubuh kekar mendekat karena ia merasa tadi Saiman menuding dirinya.

“Iya…kamu hantu!” teriak Saiman. Ia semakin ketakutan ketika wajah perempuan buruk rupa terus mendekat. Saiman hendak lari ketika laki-laki bertubuh kekar menangkap lengannya.

“Katakan sekali lagi, apa aku hantu?!” bentaknya.

“Sudah Nak, sudah!” teriak Sutinah sambil memegangi tangan Saiman. Ia mulai ketakutan anaknya akan menjadi bulan-bulan warga yang terlihat mulai emosi dengan tingkah Saiman.

“Iya…kamu hantu!” jerit  Saiman.

Tanpa ampun kepalan laki-laki bertubuh hampir dua kali lipat dari badan Saiman itu meluncur deras mencari sasaran.

“Uhhhukkk!” teriak Saiman ketika kepala tangan laki-laki itu menghantam telak ulu hatinya.

“Tolong hentikan! Jangan pukul anakku. Dia sedang stres!” teriak Sutinah sambil mendekap anaknya.

“Dasar gila!” seru beberapa orang.

Sebelum kerusuhan pecah, tiba-tiba seseorang menyeruak dan berusaha melerai. “Sudah…sudah…!” teriaknya. “Orang ini yang semalam aku lihat sedang berkeliaran di sini. Saya sempat menandai plat motornya karena takutnya dia pencuri.”

“Lalu apa hubungannya?”

“Saya sempat mendengar dia seperti tengah berbincang-bincang dengan seseorang. Tapi begitu saya amati, tidak ada siapa-siapa. Dia bicara sendiri. Karena saya kira orang gila, akhirnya saya tinggal ke masjid.”

“Iya, katanya semalam anak saya memang ke sini untuk mengantarkan kereta bayi,” dukung Sutinah.

“Kereta bayi?” potong laki-laki yang kini ikut melindungi Saiman dari amukan massa.

“Iya, kereta bayi. Kemarin dia nemu kereta bayi lalu dibawa pulang. Tetapi tadi malam diantar ke sini karena katanya saya yang menyuruh.”

“Ibu ini siapa?”

“Saya ibunya. Ini anak saya, Saiman,” ujar Sutinah gugup. “Padahal semalam saya tidak tidur di rumah. Sepertinya dia ditempeli setan.”

Terdengar dengungan panjang disusul celotehan. Ada yang percaya, namun lebih banyak yang tidak percaya.

Kini orang-orang yang merubung Saiman dan ibunya semakin banyak. Terlebih setelah api dapat dipadamkan. Beberapa di antaranya mulai menuduh Saiman sebagai penyebab kebakaran itu. Meski tuduhan itu belum ada buktinya, namun cukup untuk menjadi pemicu kemarahan warga.

“Benar, dia yang membakar rumah Darmi!”

“Mungkin karena cintanya ditolak!” timpal lainnya.

“Bikin susah orang saja. Untung apinya tidak menjalar ke rumah lain!”

"Dia pura-pura gila supaya tidak tidak dipenjara!"

“Maaf…maaf…” ujar Sutinah mencoba melerai caci-maki itu. “Anak saya tidak sejahat itu. Dia bukan preman. Dia pegawai negeri.”

“Memangnya ada jaminan kalau pegawai negeri tidak jahat?”

“Tapi dia tidak membakar rumah siapapun!” jerit Sutinah.

“Lalu untuk apa tadi malam ke sini?”

“Mengantar kereta bayi.”

“Mana kereta bayinya?“ tanya seseorang dengan keringat mengucur. Tubuhnya mirip pantat panci; hitam penuh jelaga. “Saya tidak melihat ada kereta bayi di dalam rumah Darmi.”

“Mungkin…” Sutinah mulai tergagap.

“Jangan mungkin-mungkin. Kita butuh kepastian. Kalau begitu kita bawa ke kantor polisi saja!”

Sutinah terdiam. Sejak awal ia sendiri sudah ragu dengan penjelasan Saiman. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres. Sejak pulang membawa kereta bayi, tingkah Saiman mulai aneh-aneh. Namun saat itu ia tidak terlalu risau karena mengira hanya bawaan Saiman yang ingin menikah dan memiliki anak. Apalagi usia Saiman memang sudah cukup matang untuk menikah. Ia mulai curiga setelah tadi Saiman cerita dirinya kesurupan dan menyuruh Saiman mengantar stroller itu ke rumah Darmi. Pasti ada yang tidak beres!

“Ayo kita bawa oarng ini ke kantor polisi!” seru seseorang.

“Tolong, jangan! Anak saya tidak bersalah,” cegah Sutinah sambil memeluk anaknya.

“Biar nanti pihak kepolisian yang menentukan apakah dia salah atau tidak.”

“Apa ini kereta bayinya?” sela seseorang dari atas tumpukan puing rumah Darmi.

Saiman yang sejak tadi menggigil ketakutan, kini lebih shock lagi setelah melihat kereta bayi itu. Namun tak urung mulutnya berucap, “Be...benar.”

“Kereta bayi ini ada di kamar Darmi.”

“Darmi? Darmi ada di…di rumah Pak?” tanya Saiman kian gagap.

“Iya.”

“Bu..bukan…bukannya dia ke Palembang?”

“Palembang?” kali ini dahi orang itu yang berkerut. “Dari mana kamu tahu Darmi mau ke Palembang? Saya pamannya dan soal ke Palembang belum diputuskan. Baru rencana.”

“Ke...ke rumah pacarnya?” desak Saiman.

“Iya, , ke rumah orang tua Rizal di Palembang,” ujar orang itu, lirih.

Namun jawaban itu sudah cukup untuk mengembalikan semua kesadaran Saiman.  Beberapa orang yang semula bernafsu untuk membawa Saiman ke kantor polisi, kini terdiam.

 “Ayo kita pulang,” ajak Sutinah pada anaknya.

“Eh, tunggu,” kata Pak Sutar. “Ini kereta bayinya, tolong dibawa.”

Saiman dan juga warga yang berkumpul di situ merasa takjub karena kereta bayi yang tengah mereka perbincangkan ternyata masih utuh tanpa terbakar sedikit pun.