Now Loading

Terjebak Halusinasi

Sutinah keheranan melihat Saiman datang. Belum pernah jam segini Saiman masih di rumah. Bahkan seharusnya masuk kerja sejak Subuh tadi. Ibunya tahu persis, Saiman tidak pernah bolos kerja. Ia sering memuji di depan adik-adiknya agar mencontoh Saiman yang rajin bekerja, ulet dan tidak gampang menyerah.

“Kamu tidak dinas, Man?”

Saiman menggeleng sambil memarkir motornya. Setelah itu ia buru-buru masuk ke rumah. Tubuhnya menggigil. Bukan kedinginan, tapi karena bayangan serentetan kejadian dari semalam hingga pagi ini. Rasanya ia tidak percaya dengan semuanya. Tapi ini benar-benar terjadi. Aku tidak sedang bermimpi, kata Saiman sambil berulang-ulang mencubit lengan tangannya untuk memastikan dirinya masih sadar. Ini semua gara-gara kereta bayi sialan itu. Mengapa kemarin aku tidak memberikan pada Yu Tini saja? sesalnya dalam hati.

“Kamu sakit, Man?” tanya Sutinah sambil mengikuti Saiman masuk ke kamarnya.

 Kembali Saiman menggeleng.

“Lalu kenapa tidak dinas?”

“Aku ngantuk, Bu,” jawab Saiman cepat. Sekarang ia benar-benar ingin tidur dan membuang semua peristiwa yang dialami dari pikirannya.

“Ngantuk? Kamu habis begadang?” tanya Sutinah dengan nada tidak senang.

Saiman sekilas menoleh tapi tidak memberikan jawaban.

“Jawab, Saiman!” desak Sutinah. “Kamu habis begadang?”

“Iya, sejak bangun semalam, aku belum tidur lagi,” jawab Saiman sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia berharap ibunya berhenti bertanya. Bukankah kereta bayi dan ibunya penyebab semua ini? Apakah ibu sudah lupa, pikir Saiman

“Jawab dulu yang jelas. Dari mana kamu semalam?!” Kali ini suara Sutinah mulai meninggi.

“Sudahlah, Bu, aku ngantuk!”

“Jawab dulu, Man! Tidak biasanya kamu begini. Untuk apa kamu begadang sampai kemudian melalaikan kewajiban.”

“Ya gara-gara Ibu juga.”

“Gara-gara Ibu? Kamu menyalahkan Ibu, Nak? Apa salah Ibu?” berondong Sutinah dengan nada bergetar menahan sedih bercampur emosi.

“Bukan begitu. Tapi setelah semalam Ibu kesurupun.”

“Ibu kesurupan?” serobot Sutinah.

“Apa Ibu tidak ingat kalau semalam kesu …”

Tiba-tiba Sutinah menarik selimut Saiman. Tubuhnya mengeras dan tatapannya menghujam deras ke wajah anaknya. “Bicara yang jelas, Man. Katakan pada Ibu, apa yang terjadi? Apa salah Ibu? Bukankah semalam Ibu menginap di rumah Teh Nani?”

Kali ini gantian Saiman yang melompat dari tempat tidur. Penjelasan ibunya seperti godam yang menghantam semua logikanya.  Cukup lama Saiman dan ibunya beradu pandang. Namun akhirnya Saiman kalah. Ia menunduk sambil garuk-garuk kepala. Melihat anaknya salah tingkah, perlahan urat wajah Sutinah mengendur. Tangannya meraih pundak Saiman dan mengusap-usapnya.

“Apa yang terjadi, Nak?” bisik ibunya dengan lembut. “Ceritakan pada Ibu.”

Saiman menghela nafas. Sekilas ia menceritakan kejadian tadi malam. Sutinah mendengarkan penuh seksama. Namun akhirnya ia menghela nafas panjang setelah Saiman mengakhiri ceritanya.

“Ibu yang salah,” desah Sutinah.

“Kenapa? Apa semalam Ibu pulang dari rumah Teh Nani tanpa memberitahu kami?”

“Bukan itu,” jawab Sutinah. “Ibu telah membiarkan kamu bekerja keras, bahkan tanpa pernah istirahat atau sekedar jalan-jalan. Seharusnya Ibu...”

“Ibu ngomong apa?” potong Saiman keheranan melihat sikap ibunya.

“Ini semua gara-gara kamu terlalu capek kerja sehingga mimpi.”

“Aku tidak mimpi Bu. Ini benar-benar terjadi!” seru Saiman seraya kembali menatap tajam wajah ibunya.

“Sudahlah, Nak. Ibu paham. Ibu yang salah karena selalu membebani kamu.”

“Ibu!” tiba-tiba Saiman berteriak dengan keras. “Apa yang terjadi semalam bukan mimpi tapi nyata. Silahkan Ibu tanya pada Sarmi dan Safi!”

Sutinah mengelus dadanya. Ia kemudian meninggalkan kamar dengan raut wajah yang sangat sedih. “Ya sudah, kamu istirahat dulu,” katanya dari balik pintu.

Lama Saiman tercenung dalam kamar. Sikap ibunya justru memancing rasa penasaran Saiman. Mengapa Ibu tidak percaya dengan ceritaku? tanyanya dalam hati. Saiman lalu turun dari tempat tidur dan mencari kedua adiknya. Namun yang dicari tidak ada.

“Mereka baru saja berangkat ke sekolah,” ujar Sutinah ketika melihat Saiman keluar dari kamar adiknya.

“Apa tadi Ibu sudah tanya mereka?”

“Iya tanya sekilas.”

“Apa kata mereka? Benarkan cerita saya?” serobot Saiman tak sabar.

“Katanya semalam mereka tidak mendengar apa-apa.”

Jleg! Saiman hampir melompat saking terkejutnya. “Sarmi dan Safi tidak cerita kalau semalam ikut memegangi Ibu? Bahkan Sarmi terjatuh dan kepalanya membentur kaki tempat tidur karena Ibu dorong!”

Sutinah geleng-geleng kepala. Namun ia tidak mau lagi membantah omongan anaknya. Ia takut Saiman semakin melantur. Mungkin semalam habis begadang dengan teman-temannya dan sekarang kurang tidur sehingga pikirannya kacau, batinnya.

Sutinah pun menatap anaknya dengan wajah sayu. “Sudahlah, sekarang kamu tidur dulu,” ujarnya, pelan.

Dalam kondisi tertekan Saiman menuruti saran ibunya. Saiman meringkuk di tempat tidur dan berusaha melupakan semua peristiwa yang dialaminya sejak semalam. Namun sampai matanya terasa pedih, ia belum juga bisa terlelap. Saiman mulai goyah dengan rentetan peristiwa yang dialaminya. Ibu tidak mungkin bohong, pikirnya. Namun aku juga tidak bohong! Aku mengalami semuanya dan itu nyata. Mengapa bisa seperti ini? Saiman tiba-tiba melompat dari tempat tidur dan setengah berlari menuju garasi kecil di samping rumah.

“Mau ke mana lagi?” tanya Sutinah yang sudah berdiri di belakangnya. Wajahnya diliputi rasa heran sekaligus cemas.

“Ke rumah Darmi.”

“Untuk apa?”

“Aku mau memastikan kalau kereta bayi itu ada di sana.”

“Ibu ikut,” ujar Sutinah. Dia lalu mengunci pintu rumah. “Ibu takut nanti apa-apa di jalan.”

Saiman tidak mengiyakan tetapi juga tidak menolak saat ibunya naik ke motor. Saiman melarikan motornya dengan kecepatan tinggi. Beberap kali ibunya menegur supaya hati-hati, namun Saiman tidak mengindahkan.

Ketika melewati kuburan, mata Saiman berusaha fokus pada jalan. Ia tidak mau menengok ke makam. Ia tidak memikirkan hal lain kecuali mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.