Now Loading

Maaf yang Terlambat

“Maafkan aku, Darmi. Aku tidak bermaksud ngomong begitu. Kamu tidak paham apa maksudku!” teriak Saiman sambil mendorong-dorong pintu pagar.

“Ada apa Mas? Cari siapa? Jangan berteriak-teriak begitu, masih banyak bayi yang tidur! Kalau mau bertamu, nanti siang saja!”

Berondongan pertanyaan dan nasehat itu mengaget Saiman. Ia merasa seperti baru tersadar dari mimpi buruk. Suasana sudah agak terang. Rupanya sejak tadi beberapa orang memperhatikan tingkahnya.

“Ada apa?”

Saiman menoleh. Wajah perempuan gendut di sebelahnya terlihat sangat sinis.

“Maaf, Bu,” kata Saiman terbata. “Aku mau bertemu Darmi…”

“Apa tidak bisa nanti siang?” sentak perempuan parobaya dengan lengan mirip batang kelapa itu.

“Tapi Darmi tadi sudah bangun. Tadidia sudah keluar…”

“Mana?” selidik perempuan itu dengan raut semakin keruh. “Mau maling ya?” susulnya.

“Tidak…tidak! Bukan begitu. Saya pacar Darmi!” tangkis Saiman sedikit tergagap.

“Tapi yang punya rumah belum bangun. Lagi pula Darmi sedang ke Palembang!” kata perempuan itu semakin tidak ramah.

“Apa?!!” teriak Saiman tanpa sadar.       

Saiman berbalik. Matanya langsung tertumbur pada kIlatan mata perempaun 50-an tahun idi depannya. Make up tebalnya semakin menambah aura sadis yang teroancar dari wajahnya. Lutut Saiman mulai gemetar. Ia mulai ketakutan. Bukan saja pada kejadian yang menimpanya sejak tengah malam, namun juga pada perempuan menor di depannya.

“Darmi ke Palembang? Tadi aku baru saja berbicara dengan…”

“Mas juga berbohong! Mas ini sebenarnya siapa? Ngaku saja!” dengus perempaun itu. Dompet besar di tangannya seperti batu yang sewaktu-waktu bisa melayang. Saiman bergidik membayangkannya. Terlebih ketika semakin banyak orang yang merubung dirinya.  Pasti orang-orang di sekitar sini akan dengan suka rela melayangkan bogem.

“Aku…aku  Saiman, pacar Darmi,” jawab Saiman setelah berhasil mengatur nafas.

Namun jawaban itu semakin memancing kecurigaan perempaun di depannya. “Dari tadi jawabanmu makin ngaco! Sudah, pergi sana sebelum saya teriaki maling!”

“Benar Bu, aku pacarnya Darmi. Aku ke sini mau memberikan kereta bayi,” jawab Saiman.

“Kereta bagi? Mana?”

“Itu…” kata Saiman sambil menujuk ke halaman. Namun ia terkesiap. Kereta bayi itu sudah tidak ada!

“Mana?!” kejar perempuan itu.

“Huh…ngaku saja mau maling!” teriak pemuda tanggung yang tiba-tiba sudah muncul. Sepertinya dia yang tadi dilihatnya sedang mabok di pinggir kuburan.

“Bukan…aku bukan maling.”

“Banyak cakap kau ini!” tiba-iba sebuah tangan terayun. Namun sebelum mendarat di wajah Saiman, seseorang berhasil menghentikannya

“Jangan main hakim sendiri. Lagi pula orang ini belum terbukti mencuri!” cegah laki-laki berkain sarung.

“Iya, mungkin yang dimaksud dia, kereta bayi itu,” kata perempuan muda sambil menunjuk ke depan pintu rumah Darmi.

“Betul…iya, betul!” sahut Saiman kegirangan sekaligus semakin ketakutan. “Aku yang membawa kereta bayi itu.”

Terdengar dengungan beberapa orang. Tanpa dikomando, mereka memanggil –manggil Pak Sutar, ayah Darmi. TIdak berapa lama pintu terbuka. Laki-laki tua keluar sambil terbatuk.

“Ada apa pagi-pagi sudah ramai begini?” tanyanya sambil mendekat ke pintu padar.

“Pak Sutar kenal orang ini?” perempuan bermake up tebal langsung menyerobot. Sepertinya dia takut pertanyaannya didahului yang lain.

Mata Pak Sutar berkerut. Pandangannya tidak terlalu jelas. Cukup lama Pak Sutar mengawasi Saiman tanpa komentar.

“Saya Saiman, Pak,” kata Saiman penuh semangat.

“Saiman? Saiman mana?” tanya Pak Sutar.

“Saya…saya pa…” Saiman tidak meneruskan kalimatnya. Ia jadi ragu-ragu melihat ekspresi Pak Sutar. Bagaimana kalau Pak Sutar tidak tahu dirinya berpacaran dengan Darmi? Bisa fatal akibatnya, pikir Saiman.

 “Dia mengaku pacarnya Darmi. Benar kagak, Beh?” tanya pemuda yang tadi hendak memukul Saiman.

Pak Sutar kembali mengamati wajah Saiman. Dalam hati, Saiman melafazkan semua doa yang dikenalnya. Sementara puluhan warga yang berkumpul menunggu dengan seksama kata-kata yang akan keluar dari mulut Pak Sutar. Sebab kata-katanya bisa menjadi pemicu ledakkan amarah yang kini sudah menggumpal di dada pengerubungnya. 

“Saya kurang paham. Tapi seingat saya dia pernah ke rumah,” jawab Pak Sutar.

“jadi Pak Sutar kenal?” serobot seseorang tak sabar.

 

“Iya, saya kenal karena pernah ke rumah.”

“Apa dia pacar Darmi?”

Pak Sutar menggeleng. Terdengar dengungan seperti lebah pindah.

“Sudah…sudah, bubar semua,” ujar laki-laki muda berpeci yang tampak cukup wibawa. “Orang ini tidak melakukan kejahatan apapun. Bahkan seperti kita lihat bersama, dia membawa kereta bayi untuk Darmi. Masalah dia pacar Darmi atau bukan, itu bukan urusan kita. Mungkin saja masih pendekatan dan kereta bayi itu untuk hadiah.”

Meski ada yang menggerutu, namun warga sepakat bubar. Saiman menolak ketika diajak masuk oleh Pak Sutar. Pikirannya kini tertuju pada Darmi. Benarkah dia pergi ke Palembang? Sama siapa? Mengapa dia tidak pamit? Seribu pertanyaan menggayut di kepala Saiman. Dengan gontai Saiman meninggalkan tempat itu. Matanya masih sempat  melirik kereta bayi yang kini teronggok di taman depan rumah Darmi. Sekilas ia melihat bayi dalam stroller itu tertawa riang sambil melambaikan tangan. 

Saiman mempercepat langkah ke tempat ia memarkir motor. Saiman langsung menstater dan menarik tali gasnya. Motor itu melaju dengan kecepatan tinggi, melintasi areal pemakaman yang kini sudah terang dan ramai. Saiman sempat berhenti di tempat ia jatuh tadi. Tidak ada bekas apa pun di situ. Bahkan sama sekali tidak ada tapak roda motornya. Padahal jelas-jelas tadi motornya jatuh di atas makam yang belum diplester dan dirinya terlempar di atas nisan. Mengapa tidak ada bekasnya?

“Pagi-pagi sudah mau nyekar, Mas?”

Saiman terkesiap. Ia menoleh kanan- kiri namun tidak ada oraag. Siapa yang menegur? Tadi ia mendengar dengan jelas suara perempuan yang menegurnya. Di mana dia? Mungkin perempuan yang naik motor itu, pikir Saiman ketika melihat motor matic yang dikendarai perempuan muda melaju dari arahnya dan sekarang sudah sampai di ujung makam.

“Jangan suka melamun, Mas. Apalagi kalau sedang di kuburan!”

Kembali Saiman terkesiap mendengar teguran itu. Suara perempuan, tapi di mana? Saiman kembali mengedarkan tatapannya. Setelah memastikan tidak ada perempuan yang melintas di jalan, Saiman mengalihkan pandangan ke tengah kuburan. Tercium semerbak wangi bunga yang memuakkan. Perasaan Saiman semakin tidak karuan. Benar saja! Jantungnya nyaris copot diiringi pekikan tertahan dari mulut ketika bersirobok pandang dengan bola mata yang menempel di kayu nisan. Buru-buru menjalankan motornya tanpa menoleh lagi. Akibatnya, ia hampir ditabrak motor yang melaju dari arah berlawanan.

“Setan Lu! Lihat-lihat dulu sebelum jalan. Goblok!” maki pengendara motor itu. Namun Saiman hanya mendengar selintas. Ia lebih takut pada bola mata yang menempel di pathok kuburan daripada laki-laki kribo pengendara motor.