Now Loading

Keributan Pagi Hari

Saiman tidak tahu jam berapa saat ini. Ia menduga sudah menjelang pagi. Saiman meletakkan kereta bayi di teras, dekat pot bunga- lalu mengeluarkan motor dari garasi kecil di samping rumah. Namun ketika ia kembali ke teras,  kereta bayinya sudah terbuka. Kembali Saiman melihat bayi mungil tengah tertidur pulas. Beberapa kali Saiman mengucap istigfar sebelum kemudian melipat kereta bayi itu dengan paksa.

Motor Saiman melaju kencang di atas jalanan yang sepi. Terpaan angin mengibarkan rambutnya yang tidak ditutup helm. Saiman menyesal karena tadi tidak sempat mengambil jaket. Kaos oblong tipis yang dikenakan tidak cukup untuk menahan hawa dingin. Meski diapit dua kota besar – Bekasi dan Jakarta, namun udara di kampungnya relatif masih segar karena jauh dari pabrik dan masih banyak pepohonan yang tumbuh di kanan-kiri jalan.

Rumah Darmi berada di daerah Kalimalang. Sebenarnya tidak jauh. Tapi menyusuri tepian Banjir Kanal Timur sendirian seperti sekarang ini, membuat Saiman jenuh. Apalagi laju motornya tidak terlalu kencang karena ia tidak tahan dengan terpaan hawa dingin. Mungkin sudah memasuki musim kemarau, pikir Saiman.

Dekat SPBU, Saiman menyeberangi jembatan lalu kembali menyusuri tepian BKT dari sisi yang berlawanan. Ia mengambil jalan pintas agar lebih cepat sampai. Tengkuknya meremang ketika lewat jalan kecil di tengah pemakaman. Meski berada di tengah pemukiman, ternyata tetap menyeramkan, batin Saiman. Tengkuknya meremang ketika mencium bau bunga kamboja. Saiman pun menarik gas motornya. Namun belum sempat lajunya bertambah, motornya oleng karena kereta bayi yang ia letakkan di depan tempat duduk dengan diapit kedua kakinya, tiba-tiba bergerak. Bukan bergerak, tapi terbuka!

Tangan kiri Saiman berusaha menutupnya kembali, namun gagal. Saiman pun kebingungan antara menghentikan motor atau menambah lajunya. Kedua pilihan itu sama-sama membahayakan. Berhenti di tengah kuburan bukan solusi yang tepat. Namun terus melaju dengan oleng karena stang motornya kini tertahan badan kereta bayi, juga sangat berbahaya.

“Tolong…!” teriak Saiman ketika motornya keluar dari jalan lalu menabrak nisan. Saiman melompat dan jatuh tepat di atas makam tua. Kepalanya sempat membentur dinding nisan berlapis batu pualam hitam. Namun bukan itu yang membuatnya kembali menjerit. Saiman mencapai puncak ketakutannya ketika melihat kereta bayi itu terbuka dengan sempurna dan berjalan seperti ada yang mendorong. Dari dalam kereta bayi tiba-tiba menyembul kepala bayi tanpa rambut dan tersenyum gemas ke arahnya.

“Huahhh…!” jerit Saiman. Tubuhnya menggigil. Setelah kereta bayi itu menjauh, Saiman merangkak mendekati motornya. Sambil terus berteriak-teriak dengan bibir gemetar, Saiman buru-buru menghidupkan motor lalu melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah Darmi. Ia tidak perduli lagi dengan hawa dingin yang menerpa dadanya.

“Hoi…pelan-pelan!” bentak dua pemuda yang tengah mabuk di pinggiran kuburan.

Namun Saiman tidak memperdulikan teriakan itu. Ia terus melaju dan hampir saja menabrak gerobak sayur yang keluar dari gang. Dengan nafas ngos-ngosan, Saiman menginjak pedal rem. Motornya berhenti dengan mendadak.

“Hati-hati, Mas!” tegus perempuan parobaya yang tengah mendorong gerobak.

“Maaf…maaf…uhuk…uhuk!” ujar Saiman sambil terbatuk-batuk.

“Naik motornya kayak orang kesetanan saja,” gerutu perempuan itu lagi.

“Saya minta maaf,” ujar Saiman.

Setelah nafasnya cukup stabil ia mendorong motornya ke dalam gang kecil. Tidak jauh dari mulut gang, Saiman memarkir motornya, di dekat gerobak mie ayam. Sejenak ia ragu-ragu. Mau apa saya ke sini? pikirnya. Kereta bayinya saja sekarang entah dimana, jadi untuk apa saya ke rumah Darmi? Sesaat Saiman ragu. Dilihatnya rumah Darmi masih gelap. Hanya lampu depan yang masih menyala. Rumah Darmi teriihat paling rapi di antara rumah lainnya yang saling berhimpit. Meski tidak memiliki teras, namun ada sejumlah pot gantung yang memenuhi tembok depan.

Saiman sudah hendak hendak pergi ketika dadanya tiba-tiba berdesir. Ia mengucek-ucek matanya ia memastikan apa yang dilihatnya benar-benar nyata, bukan halusinasi. Setengah mengendap, Saiman melongok ke halaman seluas satu meter yang penuh dengan tanaman. Saiman terlonjak dan berniat kabur. Namun terlambat karena Darmi yang baru keluar dari rumah sudah melihat dirinya.

“Mas Saiman ya? Mau kemana?” tanya Darmi sambil merapatkan jaket yang dikenakan.

 “Saya.. saya kebetulan lewat,” katanya terbata. Ekor matanya melirik pada kereta bayi. Saiman langsung terlonjak ketika matanya beradu pandang dengan bayi mungil di dalamnya.

Darmi semakin heran melihat tingkah Saiman.

“Ada apa, Mas?” tanyanya.

“Tidak…tidak …” jawab Saiman makin tergagap.

“Mas Saiman dari mana dan mau kemana?” kejar Darmi sambil keluar dari pintu pagar.

Saiman menggeleng. Mendadak lidahnya terasa kelu. Meski sudah lama kenal dan Darmi menujukkan sikap suka, namun Saiman tetap grogi ketika bertemu. Namun saat ini bukan pertemuan itu yang membuatnya blingsatan. Apakah aku harus menceritakan soal kereta bayi? Mungkinkah Darmi percaya? Jangan-jangan nanti dikira hanya modus, pikir Saiman.

“Eh, aku pulang dulu ya,” ujar Saiman sambil berusaha mengatur suaranya. Namun tatapan matanya tetap tertuju pada kereta bayi yang ada di taman kecil depan rumah Darmi. Sekilas Darmi mengikuti tatapan mata Saiman dan mendadak terlihat girang.    

“Oh…sekarang aku tahu,” seru Darmi sambil tertawa lebar. Ia melangkah ke taman lalu meraih pegangan kereta bayi. “Mas bawa ini ya? Wah, pengantinan saja belum kok sudah membeli kereta bayi.”

“Jangan disentuh!” teriak Saiman tanpa sadar.

Darmi menatap Saiman tanpa berkedip. “Kenapa?”

Saiman menggeleng. Ia bingung harus bilang apa. Saiman tidak punya alasan. Melarang tanpa alasan tentu hanya akan menambah rasa penasaran. Bahkan mungkin jadi bahan tertawaan.

“Mas Saiman kok jadi aneh begini,” gerutu Darmi.

Saiman terkesiap mendengarnya. Buru-buru ia mendekati Darmi, namun tidak berani  menyentuh tangannya. Saiman berdiri tepat di balik pintu pagar yang belum dibuka.

“Dar…Darmi,” panggill Saiman lirih. Ia takut suaranya terdengar oleh bayi yang ada di dalam stroller. “Itu bukan kereta bayi biasa. Itu kereta bayi…”

Mendadask Darmi tertawa. “Iya saya tahu ini kereta bayi mahal.”

“Bukan itu,” potong Saiman masih dengan suara rendah.

“Pasti belinya di…”

“Jangan disentuh,” seru Saiman.

Kening Darmi berkerut. Perlahan ia berbalik dan menatap lurus wajah Saiman yang hanya berjarak setengah meter. Matanya berkilat. “Apa Mas bilang? Jangan disentuh?”

“Iya, soalnya itu kereta …”

“Mahal begitu? Ya, saya tahu harganya sangat mahal sehingga tidak pantas saya sentuh!” teriak Darmi. Suaranya menggelegar di keheningan pagi buta. Karuan saja Saiman terkejut setengah mati. Ia tidak menyangka reaksi Darmi akan sepert itu. Saiman berusaha membuka pintu pagar, namun tidak bisa karena masih digembok.

“Cepat kereta bayinya dibawa pulang lagi, Mas!” kata Darmi dengan nada tinggi.

“Darmi, tolong buka pintunya. Nanti aku jelaskan.”

“Tidak perlu! Saya tidak mau melihat Mas Saiman dan kereta bayi itu!”

“Dengar Dar, aku minta maaf.”

“Pulanglah, Mas. Jangan pernah datang ke sini lagi. Sekarang saya baru tahu mengapa Mas Saiman tidak pernah serius sama saya. Rupanya saya sangat rendah di depan Mas. Tidak pantas mendampingi seorang pegawai negeri seperti Mas Saiman. Mestinya dari dulu saya tahu diri karena saya hanya anak penjual pecel uleg…”

Saiman kembali terkesiap. Bulu kuduknya meremang. Anak penjual pecel uleg? Sejak kapan orang tua Darmi jualan pecel? Mengapa Darmi lupa dengan pekerjaan orang tuanya?

“Tunggu, Dar!” panggil Saiman ketika Darmi hendak kembali ke rumah. “Aku belum selesai menjelaskan semuanya. Kamu salah sangka.”

Namun Darmi sudah tidak peduli. Ia terus melangkah ke arah rumah. langkahnya sangat gontai. Kepalanya tertunduk. Samar-samar Saiman mendengar isaknya.