Now Loading

Efran

Parno terkesiap. Buru-buru dia mendekap istrinya. “Sum, kamu kenapa?”

“Huahhhh…tolong!” jerit Sumiati semakin kencang sambil berusaha melepaskan diri dari pelukkan suaminya.

“Tenang, Sum, tenang. Aku cuma bercanda kok!” kata Parno.

“Bohong…bohong! Kamu setan!” sentak Sumiati sambil terus meronta.

“Hush! Benar, aku cuma bercanda,” kata Parno sambil melepaskan pelukkannya. Kini ia beralih pada anaknya. Namun seperti halnya Sumiati, Ipong pun meronta-ronta ketika ia ambil dari dalam kereta. Tubuhnya kejang-kejang. Melihat anaknya seperti itu, Parno panik bukan main.

“Sum, Diam! LIhat Ipong,” teriak Parno dengan kalut.

Masih dengan tangis yang menyayat, Suamiati segera meraih Ipong dan membawanya keluar rumah. Setelah sampai di halaman, Ipong berhenti menangis. Dekapan ibunya cukup menenangkan jiwanya. Namun ketika Parno mendekat, Ipong kembali menangis.

“Ada apa sih, Sum?” tanya Parno dengan suara penuh keheranan. “Aku cuma bercanda. Biasanya juga tidak apa-apa.”

“Tapi kamu bercandanya kelewatan!” potong Suamiati.

“Kelewatan bagaimana? Biasanya juga begitu,” gerutu Parno sambil masuk ke rumah.

Sampai malam Parno masih bingung memikirkan kejadian tadi sore. Mengapa istri dan anaknya bisa begitu histeris padahal aku cuma bercanda? tanya Parno dalam hati. Bahkan Sumiati sepertinya masih belum bisa memaafkan dirinya. Sumiati tidur sambil mendekap anaknya, tanpa menghiraukan Parno yang tidur di balik punggungnya. Ingin sekali Parno meraih tubuh istrinya, mendekapnya. Namun ia takut hal itu akan kembali memacing kemarahan Sumiati. Ia tahu Sumiati masih marah sehingga tidak mau membuatkan kopi kesukaannya.

Parno mulai gelisah. Hingga pukul 11 malam, mata Parno masih terbuka lebar, menatap langit-langit kamar kontrakan yang terbuat dari triplek. Kamar yang sempit kini terasa semakin sumpek. Dulu ia sempat pindah-pindah kontrakan sebelum akhirnya mengontrak rumah ini dalam jangka waktu cukup lama. Selain dekat dengan tempat kerja, Parno sudah berencana untuk membuat bengkel las listrik dekat Pelabuhan Tanjung Priok. Meski bukan bengkel permanen karena didirikan di atas tanah sengketa, namun Parno sudah mendapat jaminan dari kepala organisasi preman yang menjaga tanah itu, ia bisa membuka bengkel minimal selama lima tahun.

“Sampai sengketanya selesai di pengadilan,” kata kepala organisasi preman itu dengan mata berair karena kebanyakan minum-minuman oplosan.

Lima tahun sudah cukup untuk cari modal, pikir Parno. Apalagi upeti- disebutnya sebagai uang keamanan, yang diminta preman itu tidak banyak. Setelah punya modal, nanti bisa sewa tempat yang lebih bagus dan strategis. Aku sudah bosan jadi pekerja proyek dan harus punya bengkel sendiri, tekadnya..

Parno sudah pernah bekerja di sejumlah proyek besar di berbagai daerah, bahkan sampai ke luar negeri. Meski gajinya besar, namun tetap saja ia tidak punya apa-apa karena ketika tidak ada proyek, uang tabungannya habis untuk makan. Padahal kontrak sebagai pekerja proyek paling lama dua tahun. Itu pun jika proyek besar seperti pembuatan kilang minyak. Jika proyek ecek-ecek, paling lama enam bulan sudah selesai. Setelah itu menganggur lagi sambil memasukkan lamaran ke mana-mana.

Untung saja saat ini ada pekerjaan tetap di dalam pelabuhan. Sudah hampir dua tahun ia bekerja di situ. Meski gajinya tidak tidak terlalu besar, namun cukup untuk memmenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk bayar kontrakan.

Parno bangun dari tempat tidur dengan tatapan nanar. Matanya terasa pedih karena sejak tadi dipaksa pejam, namun belum juga bisa tidur. Parno keluar kamar dan mendapati kereta bayinya teroggok di depan pintu. Ia menendangnya karena menghalangi jalan. Di luar dugaan, kereta bayi itu meluncur sangat deras. Padahal tendangannya sangat pelan. Setelah menabrak dinding sebelah barat, kereta bayi itu berbalik dan kiri mengarah kepada dirinya. Parno meloncat ke samping. Kereta bayi itu pun menghantam pintu kamar.

“Brakkkk…!” Terdengar suara benturan yang sangat keras. Parno dibuat melongo menyaksikan pemandangan di depannya. Daun pintu itu copot dan jatuh menimpa kereta bayi.

Aneh, guman Parno. Beruntung anak dan istrinya tidak terbangun. Bisa panjang urusannya, gerutu Parno sambil mengangkat daun pintu dari atas kereta bayi. Rupanya engselnya lepas. Parno menyingkirkan kereta bayi ke ruang tengah lalu memasang daun pintu seperti semula.  Setelah selesai ia menutupnya dan berbalik hendak ke luar rumah untuk cari angin sekalian merokok. Entah mengapa, Parno merasa cuaca dalam rumah sangat panas. Mungkin karena terbawa suasana hati, pikir Parno.

Namun ketika berbalik, kaki Parno tersangkut kereta bayi. Namun bukan itu yang membuatnya memekik. Parno melihat bayi mungil dalam kereta sedang tersenyum. Parno nyaris pingsan saking kagetnya.

Sesaat tubuh Parno terguncang. Namun kakinya tidak bisa digerakkan. Parno berjingkrak-jingrak sambil terus berteriak-teriak.

“Kamu siapa? Kamu anak siapa?!” teriak Parno.

Bayi dalam kereta itu meringis. Memamerkan satu-dua gigi depannya yang baru tumbuh. Kedua tangannya menggenggam, memukul-mukul dadanya, seperti minta digendong. Tidak ada yang menakutkan sama sekali. Bahkan sebenarnya sangat lucu. Jadi apa yang aku takutkan? tanya Parno dalam hati. Kini kesadarannya mulai pulih. Ia tidak lagi berjingkrak-jingkrak meski lututnya masih gemetar. Parno pun menatap bayi itu. Matanya sangat bagus. Bening, seperti mata kelinci. Pipinya tembem layaknya bayi yang sehat. Dibanding Ipong, bayi ini jauh lebih gemuk, meski mungkin usianya sama. Kalau pun beda, hanya hitungan sebulan-dua bulan, simpul Parno.

Perlahan tangan Parno terulur. Merasa ada yang memperhatikan, bayi itu mengacungkan tangannya dengan jari-jari terkepal. Tangannya sangat halus, batin Parno.

“Siapa namamu?” bisik Parno.

“Oe…Oe…”

“Siapa?”

“Efran,” jawab bayi itu.