Now Loading

Jagoan Terjerat Asmara

Siapa yang tidak kenal dengan jagoan seputaran gunung Muria ini. Sudah banyak orang kehilangan nyawa di tangannya.
Konon, Banyak Ngampar adalah seorang murid dedengkot yang sakti mandaraguna dari Blora.

Ilmu warisan gurunya itu membuatnya ditakuti sepanjangan daerah antara, Blora, Pati, Juwana, Jepara sampai Demak.

Pihak berwajib juga tidak berani mencari urusan dengannya.

Rambutnya panjang ikal, wajahnya persegi dengan alis tebal hitam melintang. Matanya tajam seperti mengeluarkan api. Orangnya pendiam, terlihat halus pembawaannya. Tutur katanya lembut, hanya jarang tersenyum.

Sosok kurus biasa, tidak terkesan seperti jagoan pada umumnya.
Namun siapa yang mengira, dari tubuh kurus kecil itu, muncul keberanian dan kekuatan yang luar biasa.

Tidak pernah takut dan berani mati.

Setiap mendengar ada jagoan di suatu daerah, pasti diajaknya berduel. Diajaknya adu kepandaian. Dan, kesudahannya, lawan yang dihadapi kalau tidak terluka ya mati.

*

Banyak Ngampar sampai sekarang masih hidup membujang. Ia tidak mau direpoti dengan tetek bengek urusan perempuan.

Tapi, itu cerita dulu.

Sekarang, entah dapat pengaruh dari siapa ia bisa seperti ini.
Tidak ada angin, tiada hujan, si jagoan tak kenal mati itu, jatuh cinta!

Iya, ia jatuh cinta, dan perasaan ini ia rasa baru pertama kalinya. Biasanya ia menganggap perempuan seperti permainan saja.
Butuh ia cari, sudah bosan ia buang.
Baik secara paksaan atau ia harus membayar.

Sekali urusan, selesai, dan lupakan.

*

Beda dengan Ni Sulastri gadis sedusun dengannya. Dia dulu, tahu Sulastri kecil. Kecil, mungil dan lucu.
Jika umur Sulastri 17 tahun berarti 13 tahunanlah terpautnya antara Banyak Ngampar dengan si denok ayu itu.

Wajah dan bayangan Sulastri sekarang menjadi buah lamunannya.
Selalu menganggu pikirannya.

Sebenarnya, Banyak Ngampar, bisa datang langsung memaksa Ki Suro Mercuet untuk menyerahkan anaknya untuk jadi istrinya.

Tetapi semua kebiasaan yang membuat ia ditakuti tidak sedikit pun terbersit dalam pikirannya untuk dipakai secara paksa merebut atau memiliki Sulastri.

Entah malaikat mana yang selalu menahan keinginannya untuk memakai cara jantan memperoleh cinta Sulastri.

*

Memang cinta tidak dapat diduga kapan datangnya.
Ia bisa datang kapan saja. Ia bisa datang tanpa tanda.
Dan jika sudah merasuki hati yang terpanah.
Cinta akan menjadi bara yang membakar hati sedingin gunungan es sekali pun.

Tak terkecuali hati Banyak Ngampar yang membatu sekalipun.
Yang selama ini menganggap wanita adalah alat pemuas nafsunya saja.
Wanita tidak ada harganya.
Wanita boleh dipuja, tapi tidak harus dimiliki selamanya.

Kekuasaan, uang dan kenekatan yang tidak tahu aturan pun bisa dipakai untuk memiliki wanita cukup hanya sementara saja.

Cinta adalah satu kata yang tabu bagi Banyak Ngampar.
Hidupnya yang gelap, jauh dari kata cinta.

Ia hanya tahu itu, keinginan, nafsu, saja.

*

Keberadaan Ni Sulastri ternyata mampu membangkitkan hasrat purba dari seorang jagoan sekaliber Banyak Ngampar ini.

Ia bahkan telah memimpikan, bagaimana rasanya jika ia mencintai wanita dan dicintai balik wanita itu.

Wanita impiannya adalah Ni Sulastri kembang dusun Margo Mulyo yang harum semerbak mewangi mengawang jauh seantero gunung Muria dan sekitarnya.

*

Banyak Ngampar tidak pernah menyangka, bahwa hasratnya kali ini akan menemui rintangan.
Ada pesaing yang berlomba ingin memetik kembang dusun ini.

Akankah Banyak Ngampar mempertahankan hasratnya untuk berlaku jantan mendapatkan Sulastri?

Ataukah langkah yang menjadi identitas kemasyhurannya selama ini mengalahkan keinginannya yang lurus?

Ikuti terus Si Ayu Mencari Kepalanya.

Memasuki babak yang menentukan kemana cerita akan bergulir selanjutnya.

Bersambung...