Now Loading

Stroller Pink

Hujan semalam masih menyisakan hawa dingin yang menusuk. Orang-orang masih enggan untuk memulai aktifitas. Mereka memilih tetap berlindung di balik selimut tebal. Menunggu sinar matahari yang hangat.

“Oee….oeee….oeeeee….!”

Tania menggeliat. Namun sesaat kemudian ia kembali menarik selimut. Ia pura-pura tidak mendengar tangisan anaknya. Bahkan dengan sengaja ia menutupi telinganya dengan bantal.

“Oee….oeee….oeeeee….!”

Tania bergeming. Ia berharap Hans bangun. Namun harapannya sia-sia. Tania tidak merasakan tanda-tanda suaminya akan bangun. Nafasnya terdengar sangat teratur. Tidurnya masih nyenyak.

“Mas, Reno bangun!” rengek Tania sambil mengusap dada suaminya.

“Hem…” terdengar sahutan tanpa gerakkan.

“Bangun dong, Mas! Bikinin susu dulu. Aku masih ngantuk banget,” rengek Tania lagi.

Perlahan mata Hans terbuka. Setelah mendengar tangisan bayi, ia buru-buru turun dari ranjang dengan hanya mengenakan celana pendek. Sekilas diliriknya boks bayi yang ada di pojok kamar, di sebelah kereta bayi warna merah. Reno terlihat masih tidur. Matanya terpejam. Bayi memang aneh, batinnya. Mereka bisa menangis sambil tidur.

Hans keluar kamar dan langsung menuju dapur. Mengambil botol, memasukkan susu bubuk dan menyiramnya dengan air panas dari dispenser. Setelah dikocok-kocok, Hans lalu mencampurnya dengan air dingin. Kakinya masih setengah diseret ketika kembali ke kamar. Ia memaksa mulut bayi berusia 18 bulan itu agar terbuka dengan menaruh ujung dot di bibirnya. Pipi Reno semakin tembem. Mungkin kebanyakkan susu, pikir Hans.

“Oee..!”

Spontan Hans terlonjak. Botol susunya terlepas dan jatuh menimpa wajah anaknya. Akibatnya Reno terbangun dan langsung menangis. Wajahnya tersiram air susu yang masih hangat.

“Ihhh, Mas Hans bagaimana sih? Masa ngasih susu saja tidak bisa!” gerutu Tania tanpa melepas selimutnya.

“Tan, bangun dulu,” kata Hans dengan suara rendah.

“Aahhh, masih ngantuk banget aku. Capek!”

“Tapi…”

“Apa sih, Mas?” Kali ini Tania berbalik dan menatap wajah suaminya.

“Aku tadi mendengar tangisan bayi,,,”

Tania mengernyitkan kening. “Namanya bayi lapar yang menangis. Kalau sudah besar baru dia ngomong…”

“Bukan itu. Bukan Reno yang menangis…”

Tania bangun lalu duduk dengan tubuh tertutup selimut. Punggungnya menempel pada sandaran tempat tidur. “Bawa sini,” katanya sambil memberi isyarat agar Hans mengangkat Reno dari dalam boks.

Hans terlihat ragu-ragu. Namun karena Tania kembali meminta, Hans pun mengangkat anaknya dan memberikan pada Tania.

“Benar Tan, aku tadi mendengar tangisan dari dalam kereta bayi,” kata Hans sambil memperhatikan istrinya yang tengah menjejalkan dot pada mulut Reno.

“Sudahlah Mas, aku malas mendengarnya. Dari kemarin omonganmu aneh-aneh terus. Bilang saja kalau tidak mau bikini susu!”

“Bukan begitu, tapi ini… “

“Apa masalahnya? Apa kamu kira Reno bukan bayi sehingga merasa aneh ketika mendengar ada tangisan bayi?”

“Ini bukan tangisan Reno, Tan. Tangisan itu berasal dari dalam kereta bayi!”

Tania memasang wajah cemberut sehingga Hans tidak lagi mau berusaha meyakinkan. Sejak pacaran hingga menikah tiga tahun lalu, Hans hafal betul sifat Tania. Dalam beberapa hal Tania sosok yang memenuhi kriteria sebagai seorang istri pengusaha yang tengah merangkak seperti dirinya. Tania tidak terlalu ketat membatasi jam kerjanya sehingga Hans bisa leluasa melakukan lobi-lobi proyek atau sekedar menemani mitra bisnis minum kopi di kafe.

Tania juga cukup mandiri dalam mengurus rumah. Hampir semua urusan bisa ia dikerjakan. Tidak heran jika Tania menolak mengambil pembantu rumah tangga. Apalagi Tania memang tipe perempuan penyendiri yang lebih suka diam di rumah sehingga mungkin kuatir privacy-nya akan terganggu jika ada pembantu di rumah.

“Nanti kalau rumahnya sudah seluas lapangan sepakbola dan anak kita 11, baru pakai pembantu,” katanya setiap kali Hans menawarkan untuk mengambil pembantu.

Namun Tania juga memiliki sifat keras kepala yang kadang membuat Hans kesal. Jika sudah mengambil keputusan, Tania tidak mau mengubahnya meski kemudian tahu keputusan tersebut salah. Terakhir terkait pembelian kereta bayi. Hans ingin kereta bayinya berwarna abu-abu supaya tidak gampang kotor. Namun Tania ngotot membeli kereta bayi warna merah muda dengan list putih.

“Tania, anak kita laki-laki, bukan perempuan. Masa keretanya warni pink!” protes Hans.

“Memangnya dia tahu soal warna? Lagi pula yang bakal mendorong keretanya kan aku, bukan kamu. Kalau warna abu-abu kesannya kumuh,” balas Tania.

Bukan hanya soal warnanya yang bikin Hans kesal, namun juga tempat belinya. Hans sudah menyarankan beli di mall, tapi Tania tetap ngotot beIi di pasar loak!

“Apa-apaan Tania! Kereta bayi ini buat anak kita, anak pertama kita. Masa barang bekas! Kita mampu membelikan kereta bayi yang paling bagus!” semprot Hans kesal.

“Buat apa beli yang mahal, paling juga jarang dipakai. Lagi pula kereta bayi ini masih sangat bagus,” kata Tania. Dia tidak hirau pada protes suaminya. Hans pun hanya bisa geleng-geleng kepala.