Now Loading

Senyum Berdarahnya

Seseorang menuliskan versi singkat dari novelku. Tulisan itu menyebar ke mana-mana melalui berbagai jenis media sosial. Orang-orang semakin menyukainya karena ada bumbu yang menyebutkan soal keterkaitan ceritaku dengan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Leia Terisa. Kasus mengerikan ini malah terlihat seperti hiburan bagi mereka.

Namun, aku tidak bisa membendungnya.

***

Gadis murah senyum di sana adalah teman sekelasku, dan dia aneh. Aku selalu berpikir kalau dia itu lemah dan terlalu takut untuk mengungkapkan isi hatinya yang asli. Sejak tahun pertama di sekolah menengah, aku terus berusaha memahaminya, namun gagal. Dia selalu berhasil menunjukkan sisi dirinya yang jelas sekaligus tidak jelas tersebut. Iya, aku tidak punya istilah khusus dalam menggambarkan perangainya.

Hari ini, dia akhirnya menunjukkan siapa dirinya. Mengerikan. Namun begitu, jujur, aku malah berpikir kalau itulah hal paling wajar yang akan dia lakukan.

*

Kurang lebih delapan jam yang lalu, tawa riang dan obrolan acak mulai mengisi ruangan 12-3, kelas kami. Meja-meja dikumpulkan ke tengah, sementara bangku dibiarkan menyebar di sekitarnya. Dengan siapa kamu berteman menjadi semakin kentara. Bangku menumpuk di beberapa titik. Semakin kecil tumpukan itu, maka semakin sedikit pula temanmu.

Rena berada di tempat dengan bangku terbanyak. Tetapi, dia tidak terlihat bahagia.

Aku tahu, dia tahu, dan kami semua tahu. Rena adalah apa yang kamu sebut sebagai mainan. Teman pelengkap hari-hari membosankan mereka. Aku tidak punya kekuatan untuk menariknya dari lingkaran itu.

Itu delapan jam yang lalu. Sekarang, raut pucat mengambil alih wajah teman-temanku, wajah kami semua.

Pintu terkunci. Mustahil dibuka karena kunci sudah lenyap dibawa seseorang. Terry Aran, wali kelas, tidak mampu menghibur kami lagi. Pria 31 tahun itu mematung menatap layar televisi dalam ruangan.

Ada 25 murid di kelas 12-3, dan 6 di antaranya raib sejak tiga jam yang lalu.

“Apa kalian mendengarku? A-A-A, tes-tes. Kalian bisa mendengarku, ‘kan?” Itu suara Rena. Saat ini dia sedang berada di ruang kendali siaran. Tangannya memegang sebilah pisau.

Di televisi, yang biasanya kami pakai untuk menonton pengumuman atau materi pelajaran, terdapat Rena di dalamnya. Wajah ovalnya dihiasi senyum puas, tajam, dan dingin.

“Dia gila…,” desah murid lain di sela tangis tertahan.

“Kalian pasti menyebutku gila. Aku tahu, dan aku sepakat. Tapi sebelum itu, kalian juga harus memikirkan tingkah laku kelima siswi luar biasa ini dulu.” Dia menyeringai. “Menurut kalian, anak nakal sebaiknya diberi hukuman seperti apa?”

Rena mengutak-atik sesuatu. Beberapa saat kemudian, enam buah rekaman berbeda mengambil alih layar. Di sana, lima orang siswa yang dia maksud duduk di bangku dalam keadaan diikat dan mulut tersumpal.

Riri, Kia, Helen, Roya, dan Nova. Mereka adalah orang-orang yang sudah menyakiti Rena selama ini. Tanpa perlu banyak berpikir, kamu tahu hal apa yang bakal Rena lakukan kepada mereka.

Kelimanya menangis, menjerit, dan menggigil.

Rena meninggalkan ruang kendali, lalu muncul di tempat Nova berada dengan sepotong kayu di tangan. Aku pikir dia akan menunggu lama. Tidak! Hanya sepersekian detik setelah Rena mendekatinya, beberapa pukulan beruntun menghujani kepala siswi tomboi itu.

Seisi kelas menjerit. Tangis pecah.

“Hentikan, Rena!” seru Terry. Percuma. Suara dari kelas tidak akan bisa mencapai Rena.

Tubuh langsingnya kembali memasuki ruang kendali. Darah menodai seragam, namun raut keras itu tidak terpengaruh sama sekali. Dia bahkan sesekali terlihat bosan.

“Satu orang sudah tamat. Kira-kira, tujuanku selanjutnya ke mana? Aku beri petunjuk. Rambutnya panjang, dan dia sangat menyukai es krim tiramisu.” Mikrofon menimbulkan bunyi gemeletak ketika diletakkan begitu saja oleh Rena.

Pengeras suara dipasang di hampir semua ruangan, dan salah satunya di tempat calon korban selanjutnya. Helen. Siswi itu mengerang dan memberontak. Tubuhnya roboh ke lantai. Rena mengangkatnya dengan santai.

Helen mendelik dan memohon. Rena melepas sumpalan mulutnya.

“Rena, aku mohon lepaskan aku. Aku salah, dan aku benar-benar menyesal. Aku akan membayar semua kesalahanku….”

Rena membawa sesuatu ke dekat Helen.

“Iyap! Dengan ini.”

Tanpa memedulikan jeritan Helen, Rena membungkus wajah gadis malang itu menggunakan dengan plastik bening. Tidak hanya sampai di situ, dia juga menghadiahi satu pukulan ke bagian tengkuk Helen, ketika anak itu mulai kesulitan bernapas.

Kami tidak bisa lagi menjerit karena desakan ketakutan.

“Apa Rena bakal menyakiti kita juga,” rengek beberapa orang di dalam kelas.

Aku juga tidak tahu.

Setelah memastikan Helen berhenti bergerak, Rena segera ke tempat Riri berada. Dengan sigap, dia mencabut sumpal mulut, lalu memaksa Riri menegak sesuatu. Lalu hanya dalam hitungan menit, mulut mungil siswi paling malas di kelas itu pun mengeluarkan busa kemerah-merahan.

Aku sudah tidak tahan lagi. Tanpa memedulikan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi padaku, aku mengangkat sebuah bangku, lalu melemparnya ke jendela kaca menuju koridor kelas, Sekali, dua kali, kaca terlalu kokoh untuk menahan hantaman bangku.

“Kalian mau menunggu di sini?! Apa kalian bodoh?!” teriakku.

Seperti tersadar dari mimpi buruk yang menghipnotis, seisi kelas pun bergegas menghancurkan empat bidang jendela. Kami melompat ke luar bertepatan dengan dentum kembang api penanda dimulainya festival seribu layang-layang.

Aku sudah gila. Bukannya ikut kabur meninggalkan sekolah, aku malah mendatangi Rena.

Anak tangga menuju lantai dua tidak sebanyak ini sebelumnya. Aku memaki hampir di setiap pijakan.

“Rena!”

Sepatuku berdecit ketika mengerem mendadak di depan sebuah ruangan yang pintunya terbuka lebar. Darah merah kehitaman membasahi lantai hingga melewati ambang pintu. Aku mendekat untuk mencari tahu.

Sebuah tindakan yang sangat kusesali kemudian.

Kia tergeletak dengan leher dan pergelangan tangan yang teriris. Seragamnya robek dan matanya terbuka sedikit. Dia sudah tidak bernapas. Sebilah pisau masih menancap di perutnya.

“Renaaa!” seruku lagi.

Jeritan di ujung koridor lantai dua memberitahuku akan keberadaan Rena. Dia sedang berada di ruang laboratorium. Aku lanjut berlari ke sana.

“Re-na.” Aku sontak menutup mulut. Kakiku seolah-olah menancap kuat ke dalam lantai. Tidak bisa digerakkan.

“Hai, Jeni, kemarilah. Kau pasti suka melihat ini.”

Roya sedang berada di dalam akuarium. Memberontak, sementara tangan dan kakinya terikat. Tidak ada harapan untuknya. Rena memasukkan bongkah es batu ke dalam kotak kaca besar tersebut.

“Ini akan mengurangi rasa sakitnya, Jeni. Aku baik, bukan?”

“Rena.” Aku tidak memiliki tenaga lagi.

*

Aku mengejar Rena yang sudah berada jauh di depan sana. Karena tidak suka berolahraga, sekarang aku benar-benar kelelahan. Sudah berapa kali aku harus berhenti untuk mengistirahatkan jantung yang terasa hampir meledak. Sementara itu, Rena dengan gesit menyatu di antara kerumunan manusia. Festival seribu layang-layang, baru kali ini aku membenci acara besar tahunan ini.

Sosok Rena sudah tidak terlihat, dan cara satu-satunya adalah dengan menggunakan nalar.

Di depan sana, hanya ada satu jalur jalan. Kami pernah membicarakannya. Di ujung jalan yang Rena tuju, terdapat satu tempat yang bisa kupikirkan. Sebuah tempat yang sangat indah sekaligus tepat untuk mengakhiri hidup.

TAMAT

 

Kalau bisa, aku mau mereka berhenti menyebarkan tulisan itu. Beberapa hari lalu, aku sudah menghubungi Mirza dan memohon padanya agar novelku dihapus dari platform Komunitas M&M. Dia langsung setuju karena dia sangat memahami perasaan orang-orang yang terlibat dalam kasus ini.

Saat pengumuman penghapusan dipasang di platform, beberapa anggota keluarga korban mengirim pesan. Mereka bilang, aku seharusnya tidak perlu bertindak sejauh itu. Tetapi, ini bukan hanya tentang mereka. Aku juga mulai membenci karya yang kubuat bersama-sama Leia tersebut.

Membacanya seperti mengulang kejadian mengerikan itu.

Aku tidak tahu, di luar sana, ternyata ada banyak orang-orang yang masih mampu menganggap kematian sebagai candaan dan hiburan yang menarik untuk mengisi waktu luang.

_