Now Loading

Pertemuan di Satu Sore

Enam bulan sejak kejadian di jembatan Moleno

Setelah hampir lima bulan penuh mengurung diri di rumah dan menolak berkomunikasi dengan siapa pun, Mirza mendatangiku. Dengan raut tegasnya, dia memintaku melanjutkan pekerjaanku sebagai penulis. Aku jelas menolak, tapi Mirza bersikeras dengan tawarannya.

“Kamu pikir kamu bisa selamanya bergantung pada ibumu? Bos mana yang mau mendatangimu sepertiku, hah?”

“Kak Mirza, Kakak tahu sendiri, ‘kan? Aku baru menghadapi masalah yang sangat mengerikan.”

“Jelas saja aku tahu. Seluruh negeri ini juga tahu. Kamu tidak baca koran atau menonton tv? Wajahmu di mana-mana!”

Aku tidak bisa berkata apa-apa karena kehabisan tenaga.

“Kalau kamu tidak mau menulis lagi, setidaknya, terimalah ajakan Editor Feri untuk menjadi asistennya. Siapa tahu kamu bisa kembali normal setelah melakukan rutinitas di luar sana. Kamu tidak kasihan pada ibumu?”

Percakapan kami terjadi satu bulan yang lalu. Karena apa yang Mirza sampaikan itu benar, aku pun menerima tawaran Feri untuk menjadi asistennya. Bukankah posisi itu awalnya dimaksudkan untuk Leia?   

Hari ini sudah memasuki pekan ketiga aku bekerja di kantor utama Komunitas M&M. Cukup banyak hal yang harus aku lakukan, seperti memeriksa puluhan naskah yang masuk setiap pekannya. Setelah pemeriksaan awal, naskah yang baru masuk itu akan diserahkan kepada editor. Ketika naskah sudah masuk ke dalam daftar cerita yang boleh ditayangkan, aku akan membantu Feri memeriksa hal-hal paling dasar dari tulisan, seperti dari kesalahan penulisan kata dan susunan kalimat. Selama bekerja, pekan-pekan awal adalah yang terburuk.

Entah mengapa, hari ini juga begitu.

“Kamu kelihatannya tidak sehat, Rui,” kata Feri. “Jatah libur hanya ada pada hari Minggu. Tapi agar kualitas kerjamu tidak ambruk, untuk pekan ini saja, aku akan mengizinkanmu berlibur dari hari Sabtu. Bagaimana?” Walaupun sama tegasnya seperti Mirza, Feri adalah sosok yang santai dan lebih ramah. Sangat mudah untuk akrab dengannya.

“Terima kasih, Kak Feri.”

Jam kerja di kantor dimulai dari pukul sembilan pagi hingga jam tiga sore. Aku sudah pulang sejak sejam yang lalu. Untuk menghilangkan penat, aku singgah di sebuah taman dekat jalan masuk ke rumah. Sambil menyeruput es kopi, aku melamunkan setiap hal yang terjadi belakangan ini.

Seperti yang ditakutkan, kami akhirnya memang tidak bisa menghentikan Leia. Benar, dia berhasil menghabisinya nyawanya sendiri di jembatan itu. Leia terjun dengan tali melingkar di leher. Saat tubuh terentak keras, tulang lehernya patah. Perlu waktu cukup lama bagi anggota kepolisian untuk mengamankan jasadnya.

Aku tidak sempat menyaksikan itu semua karena, kata Emira, aku pingsan sesaat setelah Leia terjun dari jembatan.

Tidak seharusnya dia melakukan itu. Tidak seharusnya aku membiarkan Leia sendiri dalam menghadapi masalahnya.

Angin menjelang malam terasa sejuk di kulit. Kopi di dalam gelas sudah lama habis, dan aku masih saja menempelkan sedotan ke bibir. Melamun. Menatap ke kejauhan. Kegiatan ini kulakukan hingga seorang pria datang dan meminta izin untuk duduk di sebelahku.

“Bangku yang lainnya penuh. Apa aku boleh duduk di sini?” tanyanya sopan.

Aku salah tingkah. “Oh iya-iya, tentu,” jawabku cepat tanpa menatap langsung wajah si pria.

Dari sudut mata, aku melihat dia duduk dan bersandar dengan nyaman, lalu mulai mengetuk-ngetukkan pensil ke atas map biru muda berbahan keras miliknya. Bunyi ketukan itu mengganggu, jadi aku pun berniat pulang saja.

“Memang itulah jawabannya. Aku pernah bilang, ‘kan? Kamu sudah menemukan jawabannya.”

Apa bisa berbicara di dalam kepala dengan suara orang lain? Suara laki-laki pula. Mungkin bisa. Apa susahnya?

“Jangan dimasukkan ke dalam hati apa yang Rena katakan,” kata pria di sampingku.

Aku terkejut, lalu segera menatapnya dengan bingung. Wajah asing. Aku menyipitkan mata dan berusaha mengenalinya. Tidak mudah.

“Aku mengenal Rena dengan baik. Sangat baik,” lanjutnya.

“Kamu siapa?” Hawa sejuk mirip dari pendingin ruangan menerpa tubuhku.

“Tidak mudah memahami orang seperti Rena karena kamu harus menjadi sinting dulu. Kalau masih dalam keadaan waras, kamu hanya akan bertemu dengan jalan buntu. Bagaimanapun juga, Rena sangat berbeda dari kita. Sesederhana itu untuk bisa memahami perbedaan antara kita dan dia.”

Aku sedikit mencondongkan tubuh ke arah pria ini. Rambut dan pakaiannya kusut. Perlu beberapa detik untuk mengenalinya. Dan ketika berhasil melakukan itu, aku pun terkejut bukan main.

“Jien!” seruku. Mustahil! Jien Larga seharusnya sudah di dalam tanah saat ini.

Ketika melihat reaksiku, Jien malah tertawa pelan. “Jangan kaget. Aku sudah mendatangimu dengan tampang seperti ini sebelumnya.” Dia bungkam sesaat.Benar, aku memang sudah mati. Kamu bisa menyebutku arwah. Kamu juga bisa menganggapku sebagai halusinasi. Terserah saja. Tapi apa pun itu, aku ingin kamu mendengar cerita lain yang mungkin bisa membuatmu merasa lebih tenang.”

Aku hanya bergeming. Tetapi aku rasa, aku cukup waras untuk meresapi ceritanya.

“Leia Renata. Siswi murah senyum yang menarik dengan cara misterius. Sejak hari pertama di kelas sepuluh, aku tidak bisa mengalihkan perhatianku darinya. Walaupun berusaha menepis, aku akui, dia memiliki sesuatu yang bahkan sekalipun dia diam tanpa melakukan apa pun, orang-orang akan tetap melihatnya. Tapi, sial memang. Daya tarik aneh itu tidak hanya berdampak positif karena beberapa orang malah bersikap buruk padanya. Aku yakin, orang-orang itu sangat iri dan kesal pada Rena.”

Cara bicara Jien menunjukkan seolah-olah dia bukanlah bagian dari orang-orang yang berbuat jahat kepada Leia.

“Rena memang pernah ingin menghabisi nyawanya. Waktu itu, kami masih di kelas sebelas. Dia berniat menghadang kereta api, namun gagal. Dia bercerita soal rencana bunuh diri itu. Menurutmu, kenapa dia sampai merasa perlu melapor kepadaku?”

Aku tidak menjawab karena enggan.

“Benar. Itu semua karena dia ingin ada orang yang menghentikannya. Menurutmu, apa dia memang benar-benar ingin dihentikan?”

Lagi-lagi aku hanya diam.

Sekali lagi, benar. Rena memang tidak akan berhenti kalau dia sudah punya kemauan. Pendapat orang lain? Hah! Itu hanya pelengkap dalam skenarionya. Bisa dibilang, dia sudah mengatur semuanya. Dia menikmati setiap reaksi orang-orang di sekitar.”

“Kenapa kamu bisa tahu banyak? Terlebih lagi, kenapa kamu bisa seyakin itu?” Aku berpindah untuk berdiri tepat di depan Jien.

“Karena aku adalah Jeni. Aku adalah murid yang kamu tulis sebagai pribadi yang lemah, namun baik.”

Perlu beberapa saat bagiku untuk menyerap maksud perkataannya. “Hah?!”

“Kamu pikir Rena tidak bisa mengatur hal sesederhana itu?”

“Jien adalah Jeni?”

Lalu, kenapa waktu itu Leia menyebutku sebagai Jeni? Apa semuanya hanya bumbu tambahan untuk skenarionya? Tunggu! Leia mungkin memang tidak pernah menganggapku sebagai Jeni. Apa aku sudah melewatkan sesuatu?

Jien mengangguk. “Rena, atau yang sering kamu panggil Leia, bukanlah seseorang yang kamu kenal. Dia suka memanipulasi banyak hal. Setelah terpisah lama darinya, yaitu sejak kelulusan kami, aku akhirnya memiliki kesempatan untuk berpikir lebih jernih, berpikir tanpa mendapat pengaruh darinya. Dan kesimpulan yang kudapat cukup mengejutkan. Seorang Leia Renata adalah penipu.”

“Kenapa begitu?”

“Bukannya tersiksa, Rena justru menikmati saat dirinya ditindas oleh siswa lain. Aku bisa melihat itu, walaupun terlambat menyadarinya. Jika ingin, dia adalah sosok yang mampu menguasai orang-orang dengan mudah. Tapi lihatlah, dia malah memilih berada di posisi korban.”

Aku kembali duduk.

“Aku tidak sedang berusaha membuat Rena tampak buruk di matamu. Aku hanya ingin menyampaikan cerita lain yang seharusnya kamu ketahui. Dan aku harap, kamu tidak membuang-buang waktu berhargamu untuk merenungi sesuatu yang tidak perlu. Walaupun benar kamu yang menulis ide kematian Leia, tapi percayalah, Rena hanya akan melakukan apa yang dia sukai. Tanpa kamu melakukannya, Rena tetap akan menuntunmu ke sana. Cepat atau lambat.”

Aku menundukkan kepala dalam-dalam, sementara air mata mulai mengalir. Ya ampun, apa aku sedang merasa lega? Perasaan yang selama ini kuanggap kejam malah menyusup tanpa beban ke dalam dada. Leia, aku rasa, kamu memang ditakdirkan untuk menang.

Deru kendaraan yang melintas menyadarkanku. Aku mengangkat kepala dan berniat menanyakan sesuatu pada Jien. Akan tetapi, pria itu sudah raib!

“Jien?”

_