Now Loading

Entakan Tali

Saat ini, gadis luar biasa itu malah berdiri tegap di atas pembatas jembatan untuk mengakhiri hidupnya.

Setelah beberapa detik saling tatap tanpa kata, Leia kembali tersenyum. “Jadi, kamu benar-benar berpikir kalau apa yang mereka terima itu tidak adil. Apa aku sudah menuangkan air terlalu banyak ke dalam gelas mereka?”

Aku diam saja karena pertanyaan itu bukanlah sesuatu yang perlu dijawab.

“Baiklah. Diam berarti iya, bukan?”

Aku masih diam memandanginya.

Leia berjongkok secara perlahan, lalu meraih sesuatu yang selama ini tersembunyi di bawah kakinya. Sebuah untaian tali! Tali itu ternyata sudah diikatkan di sana sejak lama.

“Leia! Apa yang sedang kamu lakukan?!” Aku berusaha mendekat.

“Jangan mendekat!”

“Baik! Aku tidak akan mendekat, jadi turunlah!”

Dia memegang tali itu; menatapku dengan sorot mata penuh rasa kemenangan. “Aku harus mengambil kembali sebagian air yang sudah kutuang.”

“Aku tidak peduli soal air! Bukankah kita hanya perlu saling bicara jujur, hah? Kamu sudah berbicara sesukamu, dan aku juga sudah mengungkapkan isi hatiku. Kita sudah menjelaskan isi pikiran masing-masing, ‘kan?”

Dia menggeleng, sementara senyum puas masih menghiasi wajahnya. Dengan gaya santai, Leia mengalungkan tali ke leher.

“Leia! Apa kamu tetap mau bersikap bodoh seperti ini?”

Dia merentangkan kedua tangannya ke samping. “Aku sudah bilang melalui dialog Rena, bukan? Inilah kebebasan sejati, Rui.”

“Turun dari sana, Leia!” seru seseorang dari arah belakang. Itu Emira. Aku tidak sadar kalau mereka sudah sampai di tempat kami berada. Emira menjulurkan tangan ke depan, berusaha menenangkan Leia.

“Kenapa aku harus mengikuti harapan kalian?” tantang Leia.

“Karena kami peduli padamu,” jawab Liam.

Leia terbahak. “Peduli? Aaah, mungkin yang kalian maksud adalah cemas kalau nama baik kepolisian akan rusak karena gagal membawa keadilan kepada manusia-manusia yang pantas mati itu!”

“Kita masih bisa menemukan jalan tengahnya, Leia,” tambah Emira.

Tanpa sadar, Emira dan Liam malah mengatakan sesuatu yang mirip dengan dialog Jeni. Sial! Apa yang mereka lakukan saat ini jelas hanya akan membuat Leia semakin puas. Kalau seperti ini terus, Leia akan memenangkan segalanya.

“Jadi, kamu tetap ingin mati, hah?!” seruku.

“Rui! Kamu sebaiknya mundur saja,” sela Liam.

“Kalau begitu, jawablah pertanyaanku.” Aku yakin tidak ada yang bisa menghentikan Leia saat ini.

“Silakan,” jawabnya. Sorot mata itu terlalu hidup untuk orang yang akan memilih mati. Itulah tekad. Tekad yang seharusnya tidak dimiliki oleh manusia.

“Kenapa aku? Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa aku pernah berbuat salah padamu?”

“Mirip,” kata Leia. “Kamu terlalu mirip dengannya. Jeni. Kalian pengecut, lemah, dan tidak mampu mengungkapkan isi hati kalian yang sebenarnya. Kalian terus bersembunyi di dunia kalian yang penuh kehati-hatian. Jadi aku rasa, aku harus membantumu keluar dari sana.”

Hanya itu? Sungguh alasan yang seribu tahun jauh dari kata setimpal dari pengorbanan lima nyawa manusia. Benar yang Hariz katakan, apa yang menurutku masuk akal tidaklah penting bagi orang macam Leia. Mereka memiliki pandangan dan standar yang jauh bertolak belakang. Sampai kapan pun, aku tidak akan mampu mencapai logika itu.

“Kamu sinting, Leia.” Akhirnya kata terkasarku keluar.

Bukannya melemah, ekspresi Leia malah semakin berbinar. Dia semakin berada di atas angin. “Terima kasih, Rui!”

Emira buru-buru memeluk pundakku, lalu menggiringku menjauh dari Leia. Sementara itu, Liam bergerak mendekati Leia dengan hati-hati.

“Turunlah, Leia. Kami sangat mengerti dengan apa yang kamu pikirkan. Kita masih bisa membicarakan masalah ini dengan baik. Turunlah,” bujuk Liam.

Dari arah kami datang tadi, dua mobil milik petugas kepolisian datang. Aku yakin itu adalah rombongan Hariz dan yang lainnya. Dalam keadaan kalut, aku melihat ke sekeliling. Ya ampun, sejak kapan puluhan mobil berkumpul di sekeliling kami? Mereka adalah pengendara yang berhenti karena melihat aksi nekat Leia.

Sementara itu, Leia semakin berani. Sekarang, dia melihat kami semua dengan tatapan yang menunjukkan kesan akulah yang terbaik, dan lihatlah, kalian bahkan mengemis agar aku tetap hidup! Saat jembatan ini masih sepi dari manusia dan kendaraan, Leia tidak sesenang itu. Dia seakan-akan memang menunggu momen ini.

Setelah menyapu pandangan ke seluruh jembatan meniru seorang penyanyi legendaris yang menyaksikan kerumunan ribuan penggemar setia, Leia dengan mantap mengencangkan tali di lehernya.

“Leia, hentikan aksimu!” seru Hariz.

Percuma.

“Kalian semua! Selamat bergelut dengan dunia penuh kemunafikan! Selamanya!” teriak Leia.

Dengan sekali entakan, Leia pun menjatuhkan diri. Aku bisa mendengar tali yang tertarik dan memecut bagian jembatan.

“Leia!!!” Hanya nama itu yang bisa keluar dari mulutku, tepat sebelum dunia berubah menjadi gelap gulita.

_