Now Loading

Naskah Awal

Dua hari berikutnya

Potongan bab terakhir novel Senyum Berdarahnya

Aku mengejar Rena yang sudah berada jauh di depan sana. Karena tidak suka berolahraga, sekarang aku benar-benar kelelahan. Sudah berapa kali aku harus berhenti untuk mengistirahatkan jantung yang terasa hampir meledak. Sementara itu, Rena dengan gesit menyatu di antara kerumunan manusia. Festival seribu layang-layang, baru kali ini aku membenci acara besar tahunan ini.

Sosok Rena sudah tidak terlihat, dan cara satu-satunya adalah dengan menggunakan nalar.

Di depan sana, hanya ada satu jalur jalan. Kami pernah membicarakannya. Di ujung jalan yang Rena tuju, terdapat satu tempat yang bisa kupikirkan. Sebuah tempat yang sangat indah sekaligus tepat untuk mengakhiri hidup.

***

Bab terakhir novel Senyum Berdarahnya akhirnya terbit malam ini. Walaupun yakin tidak bakal ada omongan negatif, aku tetap tidak sanggup membaca komentar yang bermunculan karena saat ini, aku cuma bisa fokus pada kemungkinan terburuk yang akan terjadi besok.

Semua berawal dari penemuanku dua hari lalu dan hasil tes DNA yang pihak laboratorium kirim tadi sore.

Waktu itu, setelah membongkar catatan lama naskah yang disimpan di dalam koper, aku berlari menuju ruang rapat layaknya orang kesurupan. Di ambang pintu keluar wisma, aku bahkan hampir menabrak seorang pria berambut kusut. Ketika tiba di depan ruang rapat, aku membuka pintu hingga menimbulkan bunyi berdebam. Hariz dan Geta keheranan.

“Rui!” seru Geta. Dia sedang menelepon seseorang saat itu. “Oh maaf, Tuan. Di sini sedang ada keributan kecil,” jelasnya pada seseorang di seberang sambungan.

“Hariz! Aku menemukan sesuatu.” Aku bahkan tidak sadar sudah bersikap terlalu kasual pada Hariz.

Seperti biasa, Hariz adalah sosok yang selalu tenang di setiap kondisi. “Duduk dulu, Rui, dan jelaskan pelan-pelan.”

Karena penasaran, Geta buru-buru mengakhiri obrolan di telepon, lalu berkumpul bersama kami.

“Kalian tahu, ‘kan? Aku bukanlah pembunuh dalam kasus ini,” mulaiku.

Mereka mengangguk, dan aku mondar-mandir di dekat meja rapat.

“Hariz pernah bilang kalau pembunuh yang mempunyai kecenderungan sifat seorang psikopat biasanya memiliki harga diri tinggi. Dia adalah dia. Dia tidak akan pernah mau, atau tepatnya, terima kalau sampai orang lainlah yang menjadi bintang atas prestasinya. Apa jadinya kalau sampai dia dicap meniru ide pembunuhan dalam karyaku?”

Mereka mengangguk lagi.

“Untuk memuaskan egonya, dia jelas tidak mau mengadopsi semua ideku. Dia membutuhkan sesuatu yang original, yang sesuai dengan prinsipnya. Pasti!”

“Lalu?” sela Geta.

Aku meletakkan kumpulan kertas, yang berisi catatan awal ide novel, ke depan mereka berdua. Mereka pelan-pelan membaca coretan tidak karuan tersebut.

“Plus! Aku bahkan tidak pernah berpikir soal metode pembunuhan yang dilakukan berdasarkan kepribadian tokohku. Aku tidak serumit dan serapi itu.”

“Di mana kamu mendapatkan ini?” tanya Hariz.

“Aku hanya menyimpannya sebagai kenang-kenangan selama menggarap naskah ini. Dan, tidak semua ide kupakai ke dalam cerita. Aku memang seperti itu. Terlalu patuh pada ide awal bukanlah sifatku.”

“Rui?” Geta melirik ke arahku dan lembar catatan secara bergantian. “Aku ingin memastikan saja. Apa ini tulisan tangan orang lain?” Dia meletakkan lembaran itu ke tengah-tengah kami.

Aku akhirnya duduk karena persendian yang mendadak lemas. Tenggorokan terasa kering.

“Leia. Dia adalah teman dekat sekaligus orang yang membantuku saat mengerjakan naskah. Seperti yang kalian lihat, semua idenya persis dengan kejadian dalam kasus pembunuhan yang kalian usut.”

Sesaat setelah mendengar penjelasanku, Hariz buru-buru menelepon Emira.

“Oh, Emira? Apa nama pemilik sidik sudah kalian dapatkan? Sudah? Bisa kamu sebutkan? Baiklah. Terima kasih. Aku akan menjelaskannya setelah kalian sampai di sini.” Hariz menutup telepon, lalu menatap kami lekat-lekat.

“Sebutkan saja, Detektif Hariz.” Aku pasrah.

“Benar. Sidik jari itu memang milik Leia, Leia Terisa,” kata Hariz.

Geta beranjak menuju tumpukan dokumen di atas meja lain yang terletak di samping papan tulis. Dari sana, dia memungut sebuah map dokumen berwarna cokelat. “Kita beruntung karena masih bisa mendapatkan sidik jari dari gantungan kunci. Rentang waktu antara kejadian dan penemuan benda yang cukup jauh bukanlah masalah. Tetapi, hujan sempat turun beberapa kali,” kata Geta. Sekarang dia sudah kembali duduk di bangkunya.     

Aku teringat sesuatu. “Kalian belum pernah bertanya soal di mana gantungan itu ditemukan, bukan?”

“Sudah. Bukankah kamu bilang, kamu menemukannya di depan rumah warga?” Geta mengerutkan kening.

“Iya, itu benar. Karena terlalu cepat teralihkan, aku sampai lupa menjelaskan di mana tepatnya benda itu kupungut.”

“Di mana?” tanya Hariz.

“Di depan rumah warga tersebut, ada sebuah meja semen yang diberi warna kuning terang. Di atasnya, ada empat atau lima pot bunga. Meja itu punya rongga di bagian bawahnya, dan di sanalah aku menemukan gantungan kunci.” Aku membalas tatapan serius Hariz. “Bukankah ini seolah-olah memang sengaja diletakkan di sana?”

“Sekarang kita tahu kenapa sidik jarinya bisa terjaga dengan baik,” timpal Hariz.

_