Now Loading

Skenario

Dua hari kemudian

Aku tahu sekarang bukan saatnya merasa senang karena mendapat kesempatan terlibat dengan petugas kepolisian –untuk alasan yang baik, tentu saja. Namun begitu, aku tetap tidak bisa menolak perasaan itu. Pengalaman ini sangat berharga, terutama kalau dikaitkan dengan pekerjaan yang kulakukan sekarang. Oleh karena itu, untuk menjaga sopan santun kepada para korban, aku hanya menyimpan kebahagiaanku di dalam hati.

Selama menginap di sini, Hariz, Liam, Geta, dan Emira selalu makan siang bersamaku, seperti sekarang.

“Soal korban keempat,” mulaiku, “cuma dia yang dibunuh tiga hari setelah jadwal tayang bab cerita.”

“Cindy Alka dikenal cerdas, tapi malah tidak berpikir panjang saat melahap makanan dari pengirim tanpa nama. Ini bukti luar biasa untuk anggapan kalau pelaku adalah orang dekat. Kita tahu, selain nama, jenis barang juga bisa jadi identitas. Dia tahu siapa pengirimnya, dan dia meninggal karena racun dari cokelat yang diterima. Dalam kasus Cindy, pelaku sepertinya tidak peduli soal waktu kematian yang tidak konsisten,” jelas Emira.

“Atau, bisa jadi si pelaku sudah salah perhitungan,” sela Geta. “Cindy tiba-tiba harus ke luar kota hari itu karena urusan pekerjaan yang mendesak. Dia kembali beberapa hari kemudian, dan … nyawanya pun hilang.”

Cindy Alka adalah seorang editor majalah kuliner. Dia berusia dua puluh tujuh tahun. Pihak penyelidik berharap banyak pada sistem keamanan kediamannya yang cukup terjaga. Sialnya, saat petugas mendatangi bagian pengelola apartemen, mereka mengatakan kalau di hari saat cokelat tersebut diletakkan ke dalam loker milik Cindy, mereka sedang melakukan pemeliharaan sistem, jadi sebagian besar kamera tidak berfungsi.

Namun begitu, salah seorang satpam mengaku kalau dia memang sempat melihat seseorang berpenampilan tidak biasa datang ke lobi apartemen, lalu menaruh sesuatu ke dalam loker salah satu penghuni. Ketika dijelaskan ciri-ciri fisik si sosok hitam, satpam tersebut langsung mengiyakan.

“Tapi kalau dikumpulkan wanita di kota ini, yang memiliki ciri fisik seperti itu, aku yakin pernyataan si penjaga tidak akan banyak membantu, apalagi dia tidak sempat melihat wajahnya. Pelaku yang satu ini sangat suka bermain-main,” tambah Liam. “Dia bahkan menggerus bagian bawah sepatu supaya pola desain sepatunya tidak bisa dilacak.” Analisis jejak sempat mereka lakukan di lokasi pembunuhan sebagian besar korban, seperti Jien, Hani, dan Anna.

Lucu. Awalnya kupikir penggerusan adalah usaha menyembunyikan diri. Tidak! Dia hanya ingin menggoda polisi. Sebaliknya, dia malah membantu penyelidik melihat benang merah antar pembunuhan melalui ciri khas jejak yang dia tinggalkan.

“Itu dia,” sela Geta. “Pakaian yang dikenakan serba hitam polos tanpa merek. Padahal, kalau mengenakan merek sepatu dan pakaian murah, dia tetap tidak akan bisa dilacak.”

“Ada lima pembunuhan, dan semua dikerjakan dengan sangat rapi dan terencana. Kalau tertangkap, hukuman mati bisa-bisa dia dapatkan,” kata Hariz. “Aku yakin dia paham soal itu. Kalau jadi dia, aku tentu harus melakukan semuanya dengan baik, atau dalam kasus aneh seperti ini, istilah menyenangkan terdengar lebih sesuai.”

Semua penjelasan mereka semakin diperkuat dengan pembunuhan korban kelima, Hani Robera. Dia adalah seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun; pemilik butik di daerah pertokoan yang berlokasi di bagian utara kota. Hani memiliki hobi yang tidak aneh, namun juga tidak biasa, yaitu sering pulang melewati sebuah terowongan tua dengan berjalan kaki. Dia tidak melakukannya setiap hari, tapi teratur, yaitu pada hari Rabu, Sabtu, dan Minggu. Dari semua fakta ini, sudah jelas kalau pelaku pasti mengamati semua calon korbannya sebelum pembunuhan dilakukan.

Terowongan tua. Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak jalur baru yang lebih nyaman dan luas dibuka, orang-orang hampir tidak pernah melewati terowongan itu lagi. Hasilnya, kamera pengawas pun tidak dipasang di sana.

Manusia tidak bisa menebak waktu kematiannya, namun mereka selalu menemukan cara untuk menuju ke sana. Takdir. Sebab-akibat yang selalu diikuti oleh penyesalan karena mereka yang ditinggal mati pasti berpikir kalau mereka bisa saja menghindari takdir tersebut, terutama jika kematian itu dianggap tidak wajar. Misalnya, ibu Hani pernah mengingatkan anaknya agar pulang melalui jalan yang biasa dilewati oleh banyak orang. Dia sangat menyesal karena tertalu lembek pada anaknya. Dia pikir, dia seharusnya bisa lebih tegas pada Hani.

Kewajaran tindakan seorang ibu, yang hanya ingin menghargai hobi anaknya yang sudah dewasa tersebut, sontak berubah menjadi keputusan yang sangat disesali. Sampai saat ini, aku yakin ibunya pasti masih mengutuk dirinya sendiri.

“Kalau pembunuhan Jien Larga menggunakan benda tajam, maka Hani sebaliknya. Dia dipukul menggunakan sepotong balok kayu, kemungkinan pada bagian punggung lebih dulu hingga roboh, lalu dilanjutkan dengan pemukulan di kepala.” Emira mengayun-ayunkan kedua tangan ke depan, sementara wajahnya menyeringai ngeri. “Dua atau tiga pukulan?” tanyanya, entah kepada siapa.

“Tidak ada yang tahu, yang jelas bukan hanya sekali-dua,” jawab Geta.

“Itulah kenapa kami menyimpulkan kalau pembunuhan ini kemungkinan besar didasari oleh dendam,” lanjut Emira lagi. “Kayu yang dijadikan senjata masih dibiarkan tergeletak di atas leher korban.”

“Apa sebelumnya pernah ada kejadian seperti ini?” tanyaku. “Aku rasa pembunuhan ini jadi sedikit unik karena metode yang dipakai sangat bervariasi.”

Mereka berempat menggeleng.

“Kalau memang pelakunya hanya satu orang, maka kasus ini bakal jadi pembunuhan berantai pertama di Kota Hogan. Tapi normalnya, pembunuhan berantai memiliki metode khusus yang konsisten, yang nantinya akan menjadi identitas pembunuhan tersebut,” jelas Liam.

“Setiap pembunuhan, baik aneh maupun normal, semuanya tetap memiliki pesan. Alasan. Makna bagi si pembunuh. Sebuah metode juga bisa menggambarkan karakter masing-masing korban, menurut pendapat si pembunuh,” kata Hariz.

“Misalnya, Hani yang keras kepala?” cetusku asal-asalan. Aku sontak menoleh ke arah Geta ketika dia tiba-tiba menepuk punggungku. “Ada apa?” tanyaku setengah terkejut. Aku melihat ke arah mereka satu per satu. Wajah mereka menjadi lebih serius. Apa aku sudah bersikap tidak sopan pada mereka yang sudah wafat?

“Itu bisa jadi,” kata Emira. “Dari mana kamu dapat ide itu?”

“Eng- dari pen-jelasan Detektif Hariz soal pandangan si pelaku terhadap korbannya.”

Geta yang ceria dan banyak omong langsung mengangkat tangannya. “Anna Loupe membeku di gudang lemari es. Apa jangan-jangan dia memiliki sifat dingin, atau tidak suka bersimpati pada orang lain.”

Hariz mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas meja, kemudian mengangguk. “Bisa jadi.” Dia mengalihkan matanya ke arahku. “Rui, sepertinya kamu harus melihat lagi kepribadian tokoh-tokoh di dalam novelmu. Kalau memang berkaitan, mungkin kamu bakal menemukan kesamaan antara para tokoh dan korban asli dalam kasus ini. Oh ya, aku juga akan ikut mengamati. Tapi, aku tetap ingin mendengar pendapat penulis aslinya.”

_