Now Loading

Omprengan Misterius dari Jerudong Park

Sore itu sesuai rencana, kami berempat, yang selanjutnya sebut saja Empat Sekawan, pergi ke Jerudong Park.  Dari hotel di jalan Tasek, kami jalan kaki menuju ke Terminal di Jalan Cator dan naik bus no 55 yang menuju ke Jerudong Park. Ongkosnya 1 Ringgit per orang.

“Wah kayaknya Jerudong Park ini asyik, mainannya lebih lengkap dari Dunia Fantasi Loh”, kata Azwar sambil merogoh saku dan mengeluarkan empat lembar uang satu ringgit berwarna biru bergambar Sultan Bolkiah kepada kondektur

"Matur suwun Mas" , kata Mbak kondektur ketika mengetahui penumpang nya berasal dari Indonesia.

"Saking pundi Mbak? Tanya Eko kepada Mbak kondektur.. Kebetulan supir dan kondektur Bus yang kita tumpangi  kali ini semua nya orang Indonesia. Di Brunei, tidak ada orang Brunei naik bus , semua yang naik bus adalah pendatang.

“Nanti kita turun dekat Jerudong Park” kata Azwar lagi kepada mbak kondektur.

Ya mas-mas, Nanti saya kasih tahu kalau sudah dekat haltenya”, jawab mbak kondektur sambil kembali ke kursinya di depan di samping supir.

Bus melaju lumayan kencang ke arah luar bandar. Jalan-jalan di Brunei memang tampak sepi dan dalam waktu sekitar 30 menit kemudian bus sudah mendekati Jerudong Park.

“Siap-siap turun, Jerudong Park”, teriak mbak kondektur, suaranya  tidak kalah lantang dengan kondektur bus PPD jurusan Pulogadung Blok M di Jakarta sana.

Kami berrempat bergegas turun di halte dan segera berjalan menuju ke pintu gerbang Jerudong Park yang masih lumayan jauh sekitar tiga atau empat ratus meter. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Namun suasana di Taman Hiburan paling top di Brunei ini masih sepi. Walau ini malam minggu tidak telihat banyak orang disini.

“Wah benar disini gratis, kita tidak usah beli tiket masuk",  kata Azwar lagi.

“Benar, hanya ada di Brunei loh, Dunia Fantasi atau Disney Land yang gratis. Benar-benar negara kaya dengan sultan yang kaya”, tambah Bang Zai.

Saya sendiri hanya terdiam dan mulai melihat-lihat wahana permainan yang lumayan lengkap dan komplet.

“Ada yang tahu kapan Jerudong Park dibangun atau diresmikan?”  Tanya Bang Zai.

“Hmm, menurut berita yang aku baca sih, Taman ini diresmikan pada hari keputeraan atau HUT Sultan yang ke 48 tahun 1994 lalu” Azwar langsung menjawab sambil membuat aksi seakan-akan menyedot minuman dengan sedotan plastik.

“Yah ini adalah hadiah Sultan untuk rakyat Brunei, sebuah taman hiburan paling lengkap dan modern se Asia Tenggara”, tambah Azwar lagi.

Kami segera mencoba beberapa permaian yang tersedia. Asyiknya lagi semua permainan seakan-akan disediaan untuk kami berempat. Tidak ada antrean sore itu dan langsung main saja.

Saya suka  sekali permainan roller coaster yang tracknya lebih seram dibandingkan dengan Halilintar di Dunia Fantasi, di Jerudong Park namanya juga asyik, yaitu “Pusing Lagi”. Selain itu, kami juga mencoba permainan Simulator 4 Dimensi yang keren sekali.

Dalam waktu singkat sudah banyak permainan yang kita coba. Hanya Bang Zai yang sesekali agak takut mencoba permainan yang memompa adrenalin. Maklum dia yang paling senior di antara kita berempat, Katanya sih usianya sudah lebih tiga puluhan  dan sudah berkeluarga dengan 3 anak. Sementara kita bertiga masih bujangan.

Tidak lama kemudian azan Asar pun berkumandang dan permainan dihentikan sementara. Uniknya juga kebanyakan operator wahana di Jerudong Park adalah  tenaga kerja asing yang berasal dari Filipina atau Thailand. Mereka sejenak istirahat ketika sebagian pengunjung pada salat.

Setelah salat Ashar, kami mampir sebentar di sebuah gerai minuman, menikmati berbagai minuman segar termasuk Es Bandung dan Teh Tarik kesukaan kami.

“Yuk kita main ‘Giant Drop’”, Ajak saya kepada tiga sobat. Azwar dan Eko dengan senang segera mendekati permainan yang memang cukup mengerikan. Kami dikerek jauh ke ketinggian beberapa puluh meter dan kemudain seakan-akan dijatuhkan begitu saja sampai kursi tiba-tiba  berhenti ketika akan menyentuh bumi. Bagi yang jantung nya lemah, bisa pingsan kalau ikut permainan ini.

Mendekati malam hari pengunjung mulai kian ramai, walau untuk bermain tetap kami tidak usah antre.

Kami berempat alias Empat Sekawan terus bermain hingga Magrib dan bahkan Isya. Selepas makan malam di sebuah gerai, baru kami ingat pulang dan kaget setelah mengetahui bahwa bus sudah tidak ada lagi. Bus di Brunei memang hanya beroperasi sampai sekitar pukul 6 sore saja.

Sementara malam itu, malam minggu dan waktu sudah menunjukan hampir pukul 9 malam. Suasana di Jerudong Park sendiri masih cukup ramai.

Taksi pun sama sekali tidak ada di Brunei ini . Maklum semua orang Brunei punya kereta alias mobil.. Jadi kami terdampar di Dunia Fantasi versi Brunei di malam minggu yang ceria.

"Wah kita bisa nginap disini nih", gerutu Azwar

Yuk kita jalan saja menunju halte. Disana kita bisa mencoba mencegat mobil lewat yang mau ke bandar. Siapa tahu bisa menumpang”, saran Eko lagi.

Sekitar 15 menit kita menunggu. Sudah ada beberapa kendaraan yang lewat. Namun melihat kami berempat, tidak ada satupun kendaraan yang berhenti untuk mengangkut kami ke bandar.

Namun nasib baik sedang berpihak kepada kami berempat, setelah menunggu sekitar 10 menit lagi, sebuah kendaraan mirip Kijang warna coklat atau merah gelap behenti. Pengemudinya seorang gadis berteriak.

"Ayo bang ke bandar, 2 ringgit seorang”.

Tanpa fikir panjang kami pun naik. Saya segera ambil posisi di depan di samping sopir dan ketiga teman duduk di kursi belakang.

“Hotel Sheraton di Jalan Tasek Kak”, saya menyebut tempat kami menginap tanpa ditanya oleh perempuan tersebut.

Saking senangnya, di sepanjang jalan selama sekitar 20 menit, kami semua terdiiam melamun.   Ketika kendaraan sudah dekat hotel,  masing-masing mengumpulkan uang dua ringgit yang  kepada saya untuk nanti dibayarkan ke sopir tadi ketika kendaraan sudah mendekat hotel kami. Betapa beruntungnya naik  mobil omprengan dengan sopir gadis cantik.

Ketika saya mau turun dan memberi wang delapan ringgit itu, barulah saya ingat bahwa wajah perempuan tadi sangat mirip dengan gadis misterius yang membangunkan saya di masjid perahu.

Dan ketika saya ingat mobil tersebut sudah melaju kencang tanpa jejak menuju jalan Kianggeh dan hanya terllihat lampu belakangnya saja ketika kendaraan melesat bak kilat di depan Pusat Belia.

Sejenak, saya diam terpaku sambil berjalan menuju lobby hotel. Baru di dalam lift saya bisa berkata-kata kepada tiga sobat saya.

“Gadis tadi, gadis yang sama yang membangunkan saya di Masjid Perahu”.

“Apa?” sontak Azwar, Eko dan Bang Zai berteriak. Mengapa kita tidak tanya nama dan alamatnya?

Bersambung