Now Loading

Temuan

Liam membantuku menjinjing koper hingga ke dalam sebuah kamar persegi panjang yang lumayan sempit. Ada dua tempat tidur didesain bertingkat dan diletakkan menempel pada pinggiran dinding. Mungkin karena kebiasaan, aku malah merasa nyaman berada di dalam ruangan seperti ini. Aroma lembab dan kamper mengalir di udara.

“Aku tidak suka ketinggian, jadi aku akan mengambil kasur bagian bawah,” kataku sambil meletakkan tas ransel ke atas dipan kayu bercat cokelat.

“Tidak perlu berebut, Nona. Selain kamu, tidak ada yang tidur di sini.” Liam meletakkan koper ke dekat sebuah kabinet berukuran setinggi dada.

“Aku sendiri? Aku kira ada penghuni lain di sini.”

Dia mengangguk. “Tidak di kamar yang sama. Karena terlalu sibuk, aku dan rekan lainnya bahkan tidak bisa meninggalkan kursi ruang rapat. Kami hanya ke sini ketika mau mandi saja. Oh iya, kamu juga bisa menaruh pakaianmu di dalam laci kabinet.”

“Baiklah.”

“Kalau begitu, aku tinggal dulu. Cari aku di ruang rapat kalau kamu perlu sesuatu.”

“Sebentar, Liam.”

Dia menoleh. “Ada apa?”

“Aku jelas tidak bisa ikut rapat dengan kalian, bukan?”

Dia mengangguk. “Iya. Hanya anggota unit yang boleh.”

“Jadi, kapan aku bisa berbicara denganmu dan Detektif Hariz? Aku punya sesuatu yang mau kusampaikan.”

Liam tampak berpikir. “Begini. Beberapa menit lagi kami akan kembali rapat, dan bakal selesai dalam waktu satu jam atau lebih. Setelah itu, aku akan memberitahumu. Bagaimana?”

“Baiklah. Aku akan tunggu di kamar saja.”

Karena tidak berniat mengeluarkan pakaian dari dalam koper, aku hanya membongkar isi ransel untuk mengambil sesuatu. Di dalam amplop cokelat yang kuambil dari tas, terdapat beberapa lembar gambar dari rekaman CCTV dan informasi seputar benda yang terlihat di dalam gambar tersebut. Selain itu, aku masih memiliki satu benda lagi, sesuatu yang kuharap bisa berguna dalam kasus ini.

Aku harus menunggu selama satu jam? Ya ampun, itu lama sekali.

***

Satu jam sudah berlalu –mungkin lebih, dan belum ada tanda-tanda kalau Liam akan datang menjemput. Aku bisa saja keluar, tapi tanpa Liam atau Hariz, rasanya jadi canggung karena hanya mereka berdualah yang kukenal di sini.

Berada di dalam kamar seharian penuh adalah rutinitas, jadi rasa bosan bukanlah musuh utama. Tetapi, penemuan yang kudekap sekarang benar-benar menggelitik dan mendesakku untuk segera keluar dan bertemu dengan mereka. Sambil berbaring, aku menatap ke kasur di atasku; berpikir dan menganalisis setiap detail kasus ini.

Mengenai keterlibatanku, si pelaku mungkin bermaksud menjadikanku kambing hitam, target balas dendam, atau salah satu alat dalam aksinya. Untuk kemungkinan nomor satu, aku menyangsikannya. Sejauh yang kuingat, aku bahkan tidak memiliki hubungan apa pun dengan para korban.

Target balas dendam? Aku yakin tidak pernah memiliki musuh. Mungkin. Seperti yang Hariz bilang, semuanya terjadi karena alasan tertentu. Bagaimana kalau sampai akulah yang sebenarnya tidak ingat? Misalnya, aku ternyata pernah melukai si pelaku di suatu kesempatan, dan malah melupakannya.

Ini terlalu rumit untuk diuraikan.

Tidak lama kemudian, ketukan terdengar. Dari celah pintu, Liam menyembulkan kepala. “Rui, Ketua Hariz sudah menunggumu di ruang rapat.”

Akhirnya!

Aku berjalan tergesa-gesa di belakang Liam yang memiliki langkah panjang. Kami keluar dari bangunan wisma, masuk ke dalam kantor, lalu melewati barisan meja kerja yang hanya terisi sebagian. Aku melirik jam dinding, ternyata sudah memasuki waktu makan siang.

“Sepertinya para petugas sedang pergi makan siang,” kataku.

Liam mengajakku membelok sekali, lalu kami pun tiba di ruang rapat tempatku ditanyai tempo hari. “Iya, sekarang memang sudah waktunya istirahat, tapi sebagian petugas sebenarnya sedang melakukan pekerjaan lapangan.” Dia membukakan pintu.

Ketika masuk, aku sontak merasa canggung karena tidak hanya ada Hariz di sini, masih ada dua orang lainnya.

“Halo, Rui. Aku dengar kamu mau mendiskusikan sesuatu,” sapa Hariz. Dua orang rekan Hariz itu bergantian tersenyum ke arahku, dan salah satunya adalah seorang wanita.

Liam menarik kursi. “Duduklah. Kita akan mengobrol sambil makan siang. Kamu tidak masalah dengan roti lapis lagi, ‘kan?”

“Aku suka roti lapis. Sederhana dan cepat,” jawabku. Mereka tertawa sambil mengambil jatah masing-masing. Sekarang kami duduk mengitari meja, lalu makan tanpa bicara karena mulut sibuk mengunyah.

Aku melirik ke sekeliling dan menemukan banyak jejak hasil rapat yang mereka lakukan sebelumnya. Gambar-gambar, peta kronologi tidak utuh tiap kasus, daftar nama tempat, dan hal-hal lain yang tidak kupahami. Semua itu terpajang di papan tulis.

Apa tidak masalah kalau orang luar sepertiku melihat temuan mereka? Entahlah.

“Apa kalian sudah menemukan hal baru?” tanyaku.

“Banyak, tapi tetap belum cukup. Kami perlu kepingan lainnya,” jawab si detektif wanita. Dari kartu identitas yang tergantung di lehernya, detektif wanita ini bernama Emira.

“Oh iya, kamu belum bilang soal hal yang mau kamu bicarakan,” tambah Liam.

“Maaf. Aku terlalu sibuk mengunyah,” kataku jujur. Lagi, mereka tertawa. Tawa yang tidak bisa menyembunyikan kelelahan mereka.

Aku mengeluarkan isi amplop, lalu meletakkannya di atas meja. Melihat itu, mereka hampir serempak mencondongkan tubuh ke depan.

“Apa ini?” tanya Geta, si rekan pria satunya lagi. Pipi tembamnya tampak semakin montok oleh roti lapis yang dia kunyah.

“Hem? Bukankah ini gambar dari rekaman CCTV ketika si penguntit mengikuti Jien Larga?” sela Emira.

“Iya,” jawabku.

“Apa ada yang salah?” tanya Liam.

“Aku tidak yakin penemuanku ini berguna atau tidak, yang jelas, benda berwarna biru malam ini sepertinya perlu diamati lagi.” Aku menunjukkan gambar gantungan kunci yang si sosok hitam kalungkan pada leher.

“Ah, gantungan kunci,” kata Geta. “Kami sudah memeriksa benda itu, tapi tidak ada yang terlalu spesial. Gantungan itu memang aksesori edisi terbatas dari sebuah komunitas penggemar komik bernama Komik Haley. Awal tahun lalu, mereka menjualnya selama dua bulan penuh. Setelah itu, penjualan dihentikan. Dari jumlah gantungan yang banyak terjual, aku rasa, akan benar-benar sulit melacak pemilik yang sesuai dengan sosok di dalam rekaman.”

Aku tahu dia akan mengatakan itu, jadi, aku pun mengeluarkan penemuan lainnya.

“Kalau begitu, coba lihat perbandingan dua gambar ini,” tambahku. Mereka semakin mencondongkan tubuh. Tidak perlu waktu lama, Emira pun menyadarinya.

Matanya sedikit melebar. “Tunggu. Di gambar kedua, walaupun samar, gantungan kunci milik pelaku tidak terlihat.” Yang dia maksud dengan samar adalah posisi tubuh si sosok hitam yang menyamping.

Hariz meraih gambar yang kupegang. “Sepertinya bagian ini luput karena kita tidak sadar pada perbedaannya. Apalagi, bentuk gantungan ini juga tidak begitu mencolok.”

Inilah penemuan ketigaku yang paling krusial. Aku mengeluarkan dan meletakkan benda terakhir ke atas meja. Dan sesuai harapan, mata para detektif ini melebar. Mereka tertegun. Benar-benar reaksi yang kuinginkan. Aku hampir saja tertawa lebar karena sangat puas.

“Di mana kamu mendapatkan gantungan ini?” tanya Emira sambil mengangkat gantungan kunci yang sudah kumasukkan ke dalam plastik bening (seperti yang umum dilakukan oleh para polisi ketika mengamankan barang bukti).

“Aku kenal daerah itu. Karena tidak tahan menunggu, aku sengaja jalan-jalan ke sana tadi malam, lalu menyusuri jalur-jalur yang terlihat di dalam rekaman. Tidak mudah karena ada banyak gang yang mirip, sementara tidak semua nama gang muncul di dalam rekaman. Warga di sana juga cinta kebersihan. Aku hampir saja putus asa karena gantungan itu mungkin saja sudah dimasukkan ke dalam tempat sampah dan berakhir di pembuangan. Gara-gara benda ini, aku harus jalan-jalan hingga jam lima pagi.” Aku hanya beruntung.

Dalam hitungan detik, Emira, yang duduk di sampingku, tertawa lepas sambil menepuk-nepuk punggungku. Geta dan Liam juga ikut tertawa sambil bertepuk tangan.

“Kerja bagus, Rui!” puji Hariz. “Emira. Segera minta Vion mengantarkan barang bukti ke lab agar segera diperiksa.” Emira bergegas keluar ruang rapat sambil menelepon seseorang. Vion, kurasa.

“Apa aku benar sudah melakukan hal yang keren?!” Tanpa sadar, aku dan Geta berpegangan tangan, benar-benar mirip dua orang sahabat yang baru saja memenangkan undian.

Geta mengangguk-angguk. “Jejak sidik jari atau DNA, aku harap kita bisa menemukannya.”

Saat jantung berdegup kencang karena senang, telepon genggamku berbunyi. Ketika melirik pemilik nomor yang muncul di layar, nama orang yang kucari-cari ada di sana. Leia. Tanpa menunda, aku langsung meminta waktu untuk keluar ruangan sebentar. Ada banyak hal yang ingin kubagi pada Leia.

_