Now Loading

Korban dan Ribuan Tersangka

Kenyataan memang menyiksa karena kamu tidak selalu mampu mengendalikan keadaan. Tepat jam sepuluh pagi tadi, aku berdiri kaku di depan kantor polisi; menyadari betapa berada di sini sangat membuatku tidak nyaman. Otak berpacu ke arah skenario terburuk. Kalau saja tidak dihibur ibu, aku pasti langsung menyelinap untuk kabur ke tempat yang lebih menyenangkan, seperti taman hiburan, bioskop, atau rumah akuarium. Tapi di sinilah aku, duduk di balik meja untuk ditanyai Liam dan Hariz.

“Mustahil!” Aku berulang-ulang mengucapkan kata mustahil, namun tetap saja tidak merasa puas. “Mustahil!” seruku lagi untuk kesekian kalinya.

Liam melihatku dengan tatapan tenang. Sementara itu, Hariz sibuk membolak-balik salinan naskah novel yang sudah mereka cetak.

“Seperti yang Anda lihat,” kata Liam menyela ketegangan, “pembunuhan kelima korban terjadi dalam rentang masa tayang novel, yaitu dari bulan April hingga awal September. Aku dengar, bagian akhir akan diterbitkan besok?”

Aku mengalihkan mataku dari dokumen kasus. “Iya, jadwalnya memang seperti itu. Tapi karena masalah ini muncul, penayangan rencananya akan dihentikan sementara waktu.” Aku cukup terkejut mendengar suaraku yang bergetar.

Hariz bergumam sesaat, lalu bergabung dalam percakapan kami. “Sebaiknya lanjutkan saja. Kalau tiba-tiba berhenti, aku cemas kalau-kalau para pembaca akan menyadari ada hal aneh dengan bacaan mereka. Masalah ini belum boleh diketahui publik. Maksudku, kasus-kasus ini memang sudah muncul di media, tapi soal keterkaitannya dengan novel Nona Rui, kami belum memublikasikannya karena belum seratus persen yakin.”

“Kalau soal itu, aku dan editor sudah membicarakannya. Penundaan sudah biasa terjadi di komunitas. Editorku, kak Mirza, sudah membuat pengumuman tadi pagi. Kami juga sudah mengganti bab terakhir dengan beberapa cerpen lain, jadi tidak ada masalah,” jelasku.

“Itu lebih baik. Penayangan sepertinya membawa risiko yang tidak bisa kita prediksi. Menundanya bisa memberi kita celah,” kata Liam.

Tadi malam, aku tidak bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Aku bahkan menghabiskan malam penuh kegusaran dengan membaca berulang-ulang naskah asli. Aku juga mencari di internet soal berita kasus pembunuhan yang para detektif itu beritahukan. Tidak banyak informasi yang bisa kudapatkan karena situs-situs koran lokal juga tidak membahasnya secara mendetail. Aku semakin frustrasi.

“Apa yang bisa kubantu, Pak Detektif?” Aku berusaha berbicara setenang mungkin, tapi gagal. “Semalam aku hampir mati karena cemas. Mudahan saja anggapan kalau aku adalah tersangka dalam kasus ini tidak terlintas dalam benak kalian.”

Di luar dugaan, mereka berdua malah tersenyum. Liam bahkan tertawa pelan. “Tenang saja, Nona Ru-“

“Panggil Rui saja,” potongku. “Usiaku lebih muda dari kalian. Kalian boleh bersikap kasual karena itu akan membuatku lebih nyaman.”

“Baik, Rui,” lanjut Liam. “Sebelum berkunjung, kami sudah memeriksa alibimu saat pembunuhan terjadi. Kamu dinyatakan aman dan bersih dari daftar tersangka. Aku dengar, kamu jarang jalan-jalan ke luar karena bekerja di rumah. Jadi, aku memeriksa aktivitasmu melalui rekaman kamera pengaman yang, untungnya, terpasang rapi di area kediaman kalian.”

Punggung dan bahuku akhirnya luruh. Aku seakan-akan meleleh di atas tempat duduk. “Ya Tuhan, aku beruntung karena tidak kabur ke taman hiburan tadi. Kalau sampai kabur, aku pasti masih merasa tertuduh sekarang.”

Liam dan Hariz saling pandang. Mereka sama-sama memasang raut bingung.

 “Ah, jadi begini. Walaupun aku suka menulis banyak hal tentang polisi dan sejenisnya, aku tetap saja tidak nyaman datang ke tempat yang kupikir selalu memiliki kesan bahaya, seperti kantor ini.” Mereka tertawa setelah mendengar penjelasanku. Hanya sebentar. Setelah itu, keduanya kembali mengajakku fokus pada kasus.

“Kami sudah membandingkan data kelima korban, dan tidak banyak petunjuk yang bisa menjelaskan motif pembunuhan. Usia, profesi, lingkungan tempat tinggal, dan tingkat ekonomi, semua faktor itu, sebagiannya bisa dijadikan rujukan dan sebagiannya lagi tidak,” jelas Liam.

Aku mengamati lagi data para korban.

Jien Larga adalah pria berusia dua puluh delapan tahun; seorang pekerja kantoran di perusahaan asuransi. Dia adalah korban pertama dalam kasus ini. Di sini, dia dinyatakan meninggal karena darahnya hampir terkuras habis oleh dua luka tusukan di perut dan leher.

Usianya hanya lebih tua satu tahun dariku. Sangat muda. Aku hampir menangis saat membaca keterangan lain yang menyebutkan kalau dia sudah berencana untuk menikah tahun depan. Aku tidak bisa membayangkan kesedihan mendalam yang dirasakan oleh calon istrinya.

Korban kedua adalah seorang wanita bernama Mina Yerad. Dia berusia dua puluh tujuh tahun; berprofesi sebagai seorang perawat di rumah sakit swasta kecil bernama RS Wertha. Nasibnya tidak kalah mengerikan. Dia meninggal karena kehabisan napas. Sang pembunuh sepertinya menggunakan kain basah dan kantung plastik untuk membekap wajahnya. Tubuh Mina ditemukan tergeletak di dapur rumahnya.  

Berapa kali pun membaca laporan ini, aku tidak pernah bisa terbiasa. Wajahku tidak mau berhenti menyeringai ngeri.

“Dari segi usia, kelima korban tidak terpaut jauh. Profesi bervariasi dan tempat kelahiran mereka berbeda, walaupun besar di sini. Empat di antaranya bersekolah di SMA yang sama, kecuali korban ketiga, Anne Loupe. Dia belajar di SMA di luar kota,” jelas Liam.

“Apa kalian sudah memeriksa kemungkinan kalau Anne Loupe juga pernah bersekolah di SMA Daza?” tanyaku.

Hariz mengangguk. “Vion harusnya akan menghubungiku sebentar lagi. Karena tidak ada catatan yang bilang kalau Anne pernah sekolah di sana, kami harus bertanya lagi ke anggota keluarganya. Siapa tahu, Anne setidaknya pernah tinggal di lingkungan tersebut.”

“Jadi, Anne adalah seorang guru TK?” gumamku sembari membayangkan dia bermain di ruang belajar bersama anak-anak. Mereka tertawa sambil bercerita soal cita-cita. Iya, itu hanyalah imajinasiku. “Dia juga berusia dua puluh delapan tahun.”

“Di dekat bangunan TK tempatnya mengajar, ada gudang yang masih aktif digunakan untuk membekukan es batu, ikan, dan daging. Gudang itu dibuka dua hari sekali. Keluarga Anne juga mencarinya selama itu, atau tepatnya, sejak dia tidak kunjung pulang ke rumah. Belum sempat mereka melapor ke polisi, seorang pekerja di gudang mengabari kami lebih dulu. Saat ditemukan, Anne sudah membeku dalam keadaan terikat di salah satu ruang pendingin,” jelas Hariz dengan penuh keprihatinan. “Dari hasil otopsi, ada banyak bekas pukulan di sekujur tubuhnya. Tapi, penyebab utama kematiannya tetaplah karena suhu dingin.”

Liam menggeleng-geleng pelan. Sebuah reaksi tak habis pikir. “Sudah jelas dia babak belur dulu sebelum menemui ajal. Benar-benar malang.”

“Jangan-jangan, pelakunya adalah pekerja di gudang,” tuduhku.

-