Now Loading

Tamu Tak Biasa

Aku tertawa canggung karena salah tingkah. “Leia, siapa yang bakal menuntaskan kisah mereka kalau penceritanya mati? Jangan bercanda, ah!”

Leia ikut tertawa. Terdengar garing. “Ya ampun, aku lupa. Kamu menggunakan sudut pandang orang pertama di sini. Baiklah! Aku akan coba memikirkan cara terbaik untuk menghukum Jeni.”

“Menghukum Jeni? Hem, apa itu bisa jadi akhir yang bagus?” tanyaku pada diri sendiri.

Leia mengangguk. “Rena disakiti secara fisik dan perasaan hanya karena dia berbeda dari murid lainnya. Rena murah senyum, canggung, dan selalu berusaha sebaik mungkin agar tidak menyakiti orang lain. Tapi, sikapnya malah memicu kenakalan sadis penghuni kelas. Miris.”

Aku merenungi alur dan konflik cerita yang kutulis. Karena belum pernah mengalami atau sekadar melihatnya langsung, perisakan antar siswa jadi terasa berlebihan. Dampaknya, aku sempat kesulitan membayangkan perasaan para tokoh. Melihatku seperti itu, Leia pun membantu dengan cara mencarikan beberapa kasus perisakan yang pernah sampai ke tangan pihak berwajib dan sempat diliput oleh media. Sejak itu, aku jadi berpikir kalau hal macam ini ternyata tidak hanya ada di dunia fiksi.

Aku memeras otak untuk mencari ide, dan setelah beberapa saat memandangi lagi potongan-potongan artikel koran di depanku, aku akhirnya menemukan cara mengakhiri cerita Senyum Berdarahnya.

“Bagaimana kalau tokoh yang kita bunuh adalah Rena?”

Leia mengerutkan keningnya. “Kenapa begitu?”

“Begini. Rena punya ambisi untuk membunuh siapa pun yang sudah merisaknya. Jeni tidak melakukan itu. Yah, walaupun tetap saja dia termasuk tokoh yang menyebalkan karena sifat pengecutnya.”

“Lalu?”

“Karena Jeni keluar dari kategori, Rena sebaiknya melakukan hukuman jenis lain. Misalnya, hujan perasaan bersalah? Rena akan bunuh diri di depan Jeni. Sebelum tewas, Rena akan menghujatnya habis-habisan; meletakkan semua kesalahan pada Jeni. Dengan begitu, Jeni yang sebenarnya baik, namun lemah itu akan membawa beban perasaan bersalah seumur hidupnya. Bagaimana?”

Leia memiringkan kepala, mengangguk-angguk, dan tersenyum simpul. Sinar matanya menyiratkan kesan puas. “Bagus! Aku suka idemu. Jadi, sekarang kita tinggal menentukan latar adegan bunuh dirinya?”

“Iya, dan kita juga harus menentukan cara bunuh diri paling mengenaskan untuk Rena,” tambahku. Leia mengangkat kedua ibu jari.

***

Empat belas pekan kemudian

“Hai, Rui! Aku salah satu penggemarmu. Dari lima novel yang kamu tulis, sudah tiga karya yang aku baca berulang-ulang. Aku sepertinya bakal jatuh cinta pada ‘Senyum Berdarahnya’.” _05Melky.

“Tidak sabar menunggu bagian akhirnya lusa!” _rety66

“Kalau jadi Rena, Jeni adalah korban terakhirku.” _luki37

Aku tidak bosan-bosannya membaca komentar para pembaca. Dari semua hasil tulisanku, novel terakhir menerima respons paling banyak. Beberapa dari pembaca memang memberi saran dan sedikit koreksi, tapi tidak satu pun komentar mereka bernuansa mengejek. Dua hari yang lalu, Mirza bahkan mengabariku kalau dia berencana membuat versi buku elektronik lebih cepat dari jadwal normal. Aku tentu saja sangat senang. Reaksi positif orang-orang tidak hanya membuat bangga, namun juga bisa menjadi alasanku untuk bertahan pada hal yang sempat kuanggap menyulitkan ini.

Aku ingin mengabari Leia soal keputusan Mirza. Tapi sejak sepekan yang lalu, Leia selalu sulit dihubungi. Aku sempat meneleponnya berkali-kali, namun tidak ada jawaban sama sekali. Selama dua hari pertama, aku masih menganggapnya sibuk karena dia memang sedang mencari pekerjaan baru. Satu pekan sudah berlalu, dan aku mulai cemas. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengunjungi rumahnya malam ini.

Butuh setengah jam untuk tiba di rumah Leia. Tidak jauh berbeda dari milik kami, Leia juga tinggal di rumah satu lantai berdinding beton dan beratap genting. Warna atap pilihan ibu adalah merah, sedangkan keluarga Leia adalah hijau gelap. Ini pertama kalinya aku ke rumahnya.

Sekarang masih pukul delapan malam, namun kediaman Leia sudah senyap dari suara aktivitas manusia, sungguh kontras dengan beberapa rumah di sekitarnya. Dipenuhi perasaan canggung, aku membuka pintu pagar yang tidak dikunci. Dari tengah halaman depan kecil mereka, aku melihat-lihat apakah ada kehidupan di dalam rumah. Gelap. Aku rasa, lampu yang dinyalakan hanya terdapat pada bagian teras dan ambang pintu garasi, yang terletak di sisi kiri rumah.

Aku menelepon Leia lagi. Dua kali, tiga kali, empat kali. Nihil. Tidak satu pun berhasil tersambung. Ketika berniat mencoba lagi, telepon dari rumah malah muncul.

“Ibu? Ada apa?”

Walaupun samar, aku bisa merasakan getaran gugup dalam suara ibu. “Kamu di mana? Dua orang tamu sedang menunggu. Apa kamu bisa pulang lebih awal?”

Tamu? Selain Leia dan beberapa teman dekat lainnya, tidak pernah ada tamu yang datang berkunjung di jam segini.

“Aku di rumah Leia. Dia tidak ada, jadi aku akan langsung pulang. Apa mereka bisa menunggu?”

“Bisa. Pulanglah, dan hati-hati di jalan.”

“Iya.”

Perjalanan terasa lebih lama dari sebelumnya. Aku hampir saja meminta sopir bis untuk menambah kecepatan. Tingkah aneh Leia, suara gugup ibu, dan rumah kosong itu menimbulkan perasaan negatif yang lekat. Walaupun sudah menolaknya kuat-kuat, dugaan kalau hal buruk sedang menanti tetap saja tidak mau pergi.

Setelah perjalanan panjang, pemberhentian bis nomor P-0136 akhirnya terlihat. Sekitar enam menit berjalan kaki, aku sudah bisa melihat wajah ibu. Selama melewati gang selebar dua meter ini, aku bertanya-tanya soal siapa saja tamu yang dia maksud.

Senyum ibu terpampang aneh ketika aku tiba di depan rumah. Di bangku teras, dua orang pria duduk tenang, namun penuh pengamatan. Saat aku mendekat, mereka berdiri, lalu bergantian menjabat tanganku.

“Maaf karena kami sudah mengganggu waktu istirahat Nona Rui,” kata pria bertubuh tegap, tapi lebih pendek dari yang satunya. Pria bertubuh pendek ini sudah sedikit beruban.

Belum sempat aku bertanya, mereka malah menunjukkan kartu identitas. Hampir sesuai dengan kesan yang biasa kutulis tentang mereka, para pria ini ternyata adalah detektif dari kepolisian kota.

“Namaku Liam,” kata si detektif muda, “dan rekanku Ketua Tim Hariz.”

“Ah, iya, dan namaku Rui Keilan,” balasku sedikit kebingungan. Untuk apa detektif-detektif ini datang ke sini?

“Kami datang ke sini untuk membicarakan soal novel bersambung Anda,” kata Hariz. Pria tua ini jadi seperti orang yang bisa membaca pikiran. Dia langsung menjawab pertanyaan dalam benakku. Menakutkan.

Mereka jelas bukan salah satu penggemarku. “Aku lumayan akrab dengan fiksi misteri atau thriller. Kedatangan polisi biasanya bukan pertanda baik.” Aku berusaha mencairkan suasana, namun gagal. Mereka masih memasang wajah serius.

“Jadi begini,” kata Liam, “dari hasil pemeriksaan sementara kami, cerita daring Anda sepertinya memiliki kaitan dengan lima kasus pembunuhan selama empat bulan belakangan ini.” Liam menyerahkan beberapa lembaran kertas. “Apa Anda mengenali ciri-ciri kasus ini?” tambahnya. Aku tidak tahu kalau mereka boleh bersikap blakblakan pada warga sipil sepertiku. Ragu-ragu, aku pun menerima dan mengamati data yang mereka berikan. Dan persendian tubuhku sontak melemah.

Kalau diamati, tidak seutuhnya sama, tapi aku bisa melihat kemiripan-kemiripan antara kasus asli dan hal-hal dalam tulisanku, terutama bagaimana para tokoh dibunuh. Karena tidak bisa percaya, aku bolak-balik melihat lembaran itu.

“Mustahil! Aku bahkan tidak tahu kalau ada kasus seperti ini.”

Liam mengambil lembaran dari tanganku. “Tenang, Nona Rui. Untuk sekarang, Anda belum menjadi tersangka, melainkan saksi. Besok jam sepuluh pagi, Anda akan dimintai keterangan di kantor polisi. Kami harap Anda mau memenuhi penggilan tersebut.” Dia menyerahkan sebuah amplop berwarna kecokelatan tersegel rapat. Aku rasa, inilah bentuk dari surat undangan.

“Tentu! Aku pasti datang besok.”

Setelah mengucapkan terima kasih, kedua detektif itu pun pulang. Masih di teras, tepat ketika mobil mereka menghilang dari penglihatan, aku segera menghubungi Mirza,

“Kak Mrza, ada apa ini??” Aku menjelaskan semuanya.

Detektif Liam dan Detektif Hariz juga mendatangi kantor tadi siang. Tenang, Rui, kamu hanya perlu mengikuti apa yang mereka minta. Jawab semua pertanyaan dan berikan seluruh dokumen, atau apa pun yang mereka rasa perlu untuk mendukung penyelidikan mereka.”

“Baik,” jawabku lemah karena kehilangan tenaga,

_