Now Loading

Di Kota Hayars

Hayars adalah kota yang sangat peduli pada nuansa hijau. Ada banyak pohon hias yang ditanam berjejer di sepanjang pinggir jalan raya. Jalan-jalan pagi hari di kota ini pasti akan terasa menyegarkan. Sayangnya, aku dan Lilian belum bisa menikmati itu semua. Kami tiba di Hayars tepat pukul lima sore.

“Coba pencet belnya,” pintaku, dan Lilian menurut saja. Dia memberi jeda beberapa detik sebelum memencet bel itu lagi … dan lagi. Tetapi, tidak ada reaksi apa pun dari dalam sana, bahkan sekadar suara angin.

“Apa masih belum kembali?” gumam Lilian. Dia menempelkan keningnya ke kaca jendela agar bisa mengintip ke dalam. “Heh?”

“Kenapa?”

Dia buru-buru memintaku mendekat, dan aku pun turut mengintip.

“Ada apa?” ulangku.

“Coba lihat ke tangga menuju lantai atas. Ada cahaya. Bentuknya sih seperti cahaya dari pintu yang terbuka.”

“Kamu yakin? Mungkin dari jendela,” balasku sangsi, lalu mengikuti arah telunjuk Lilian. Benar apa yang dia katakan. Cahayanya lebih tajam dari sinar matahari yang berhasil menembus jendela bertirai kasa.

“Itu lampu, ‘kan?” tekan Lililan.

Aku bergegas menuju halaman samping rumah studio ini. “Kita coba lihat ke sekeliling.”

Studio ini tampaknya sudah berumur dan tidak terurus. Itu semua terlihat dari cat yang mengelupas di sebagian besar permukaan tembok dan lumut yang membentuk sulur-sulur menjinjikkan. Cat yang harusnya berwarna putih, kini telah menguning.

Setelah berjalan beberapa puluh langkah, kami tiba di depan pintu belakang studio. Pintu berbahan kayu berwarna alami itu berdiri kokoh. Ukiran sekawanan kucing pada bidang pintu menyihirku hingga membuat kaki berhenti untuk sesaat.

“Di sini juga pasti terkunci,” kataku.

“Apa sebaiknya kita datang lagi besok saja?” tawar Lilian.

Kami tidak mungkin bisa memaksa masuk begitu saja, jadi aku hanya mengangguk kecewa. “Mau bagaimana lagi?”

Berapa kali pun aku mencari penjelasan terhadap sebuah rangkaian kejadian yang dialami oleh setiap manusia, aku tidak pernah menemukan jawaban sejelas pepatah “semua terjadi karena sebuah alasan”. Sebab-akibat. Entah keputusan tersebut sudah dipikirkan atau impulsif, semua itu akan membuat manusia berpikir akan sebuah alasan.

Itulah yang terjadi pada kami saat ini. Aku dan Lilian, yang hampir meninggalkan halaman belakang studio, sontak memutar tubuh ketika mendengar suara daun pintu yang menutup pelan di dalam sana. Bunyi “klik” sangat jelas terdengar.

Kami saling tatap, lalu buru-buru kembali ke depan pintu.

“Angin? Orang?” Lilian terlihat gugup sekaligus bersemangat.

Aku menjulurkan tangan ke arah kenop pintu. “Ayo kita pastikan.”

Lilian merapat ke tubuhku. “Apa tidak masalah masuk ke sana?”

“Kita harus coba kalau ingin tahu lebih banyak.”

Dia mulai merengek, seperti anak kecil yang takut pada derit pintu lemari pakaian di kamarnya. “Bagaimana kalau sampai hantu Hannah Grissil yang muncul?”

Sial! Lilian jelas tidak tahu sama sekali kalau aku bukanlah seorang pemberani. Demi Tuhan, kalau saja roh Jien Larga muncul dengan wajah hancur, aku pasti lupa pada kesedihan, lalu lari terbirit-birit.

“Jangan berbicara omong-kosong. Aku dengar, hantu hanya keluar saat gelap,” hiburku setengah marah. Gelap? Seingatku, Jien tetap muncul walaupun hari belum sepenuhnya gelap. Iyah, itu pun kalau dia benar-benar sesosok roh. Jika tidak, maka aku tidak perlu merasa cemas. Namun tetap saja, kalau sampai Lilian benar, habislah aku!

Untuk membuka pintu, aku harus menggunakan kedua tangan. Terbuka! Walaupun tertutup sangat rapat, pintu kokoh ini ternyata tidak dikunci.

“Tidak terkunci!” seru Lilian.

Kami pun masuk. Ruangan tampak cukup rapi, namun kotor karena lapisan debu. Saat melihat ke seluruh ruangan, aku tidak yakin kalau studio pernah buka baru-baru ini. Debu bertebaran di mana-mana. Di lantai, aku bahkan bisa melihat jejak kaki. Tidak mengherankan karena studi ini sangat dekat dengan jalan raya berdebu.

Tunggu! Jejak kaki?

Hawa panas bercampur dingin menerpa tengkukku. Insting bertahan hidup bangun. Tanpa berpikir, aku bergegas menangkap tangan Lilian, dan menariknya masuk ke dalam sebuah ruangan kecil berisi tumpukan puluhan kotak karton yang tidak jelas apa isinya. Setibanya di dalam, aku menutup dan mengunci pintu, lalu kami pun berjongkok di balik meja kerja di dekat jendela. Sesaat kemudian, aku menyesal karena tidak menarik Lilian keluar dari studio.

Lilian menatapku dengan mata melebar dan napas tersengal karena kaget. “Ada apa?!”

Aku mengatur napas dengan susah-payah. “Kita tidak sendiri,” bisikku.

“Jelas saja. Kita ada dua orang,” balas Lilian masih dengan napas belum teratur.

Aku memukul bahunya. “Aku, kamu, dan ada orang lain lagi. Itu maksudku! Cepat gunakan otakmu, Lian.”

“Aku tidak paham!” serunya.

“Ada banyak jejak sepatu di lantai, dan pintu kamar di lantai atas juga tertutup. Itu adalah pintu terbuka yang kita lihat sebelumnya.”

Matanya semakin melebar. “Ap-“

Aku segera menutup mulutnya. “Ssstt, kamu dengar itu?” bisikku.

Langkah lambat, namun pasti terdengar mengentak-entak permukaan setiap anak tangga loteng. Daripada berhati-hati, suara langkah kaki itu lebih mirip cara berjalan seseorang yang sedang mencoba untuk mengintimidasi orang lain. Saat ini, dia pasti sedang menggoda dan ingin menakut-nakuti kami.

“Kenapa kalian ke sini, hah? Pulanglah. Asal tahu saja? Kalian itu sudah ikut campur terlalu jauh.” Suara berat dan dalam mengisi ruang studio. Seorang pria!

Aku mengalihkan tatapanku pada Lilian, dan ekspresi wajahnya sungguh menakutkan. Apa aku sudah mencekiknya? Karena sejak tadi, rupanya, aku lupa melepas tanganku dari mulutnya. Tetapi, bukan itu penyebabnya.

“Ada apa?” bisikku sambil buru-buru melepas bekapan tangan.

“Suara itu …,” kata Lilian tergagap.

“Apa?” buruku.

“Itu suara Mores Silkan,” jawab Lilian dengan suara bergetar.

“Sekarang, mimpimu sudah terkabul, heh??” sindirku tidak kalah kaget.

Kini giliran Lilian yang memukul punggungku. “Aku tidak sedang bercanda, Kak Rui! Itu memang Mores Silkan. Aku sudah sangat kenal pada suaranya.”

Hatiku mendadak menciut dan jantungku seakan-akan diremas. Kenapa aktor itu ada di sini? Kenapa nada suaranya sangat tidak bersahabat? Apakah dia dalam bentuk manusia atau hantu? Sial! Walaupun menyeramkan, aku tidak yakin hantu bisa membunuh manusia. Tetapi, akan lain cerita kalau pria di luar sana juga seorang manusia.

Berita tentang kriminalitas di televisi sudah jelas mengingatkan kalau manusia itu bisa berubah menjadi sesosok monster kejam. Apa yang harus aku lakukan agar terlepas dari ancaman ini?

Aku tiba-tiba teringat pada sosok Liam.

_