Now Loading

Tabir

Setelah empat tahun bekerja sebagai pembantu, Marni  mengundurkan diri. Meski keluarga majikannya melarang, Marni tetap nekad. Bahkan orang tuanya juga tidak diberi tahu. Marni pindah ke keluarga Pak Herman karena dijanjikan gaji besar. Marni berharap dengan tambahan gaji, ia bisa menyisihkan untuk keperluan sendiri. Tidak akan dikirim semuanya ke kampung seperti sebelumnya.

Harapannya terkabul, bahkan melebihi harapannya. Perlahan Marni mulai bisa membeli kosmetik dan berdandan. Apalagi Pak Herman juga sering mengajaknya keluar rumah untuk menjemput Adelia, anak bungsunya yang sekolah di TK. Pagi-pagi Adelia ikut mobil jemputan. Baru jam 10 Marni menjemputnya dengan menumpang mobil Herman. Marni turun di TK dan pulangnya naik taksi.  Pak Herman sering memberi uang untuk ongkos taksi, meski tahu Marni sudah diberi ongkos oleh istrinya.

“Disimpan saja. Siapa tahu kamu ingin beli baju,” kata Pak Herman ketika Marni menolak pemberian uangnya.

Suatu ketika Herman mengajaknya makan di restoran karena Adelia ada acara di sekolah sehingga pulangnya siang. Dari situ semuanya bermula. Wajah khas gadis desa, dengan tubuh padat berisi yang tengah mekar, menjadi daya tarik luar biasa bagi Pak Herman. Dengan sedikit janji, Marni jatuh ke pelukannya.

“Aku takut Pak,” rintih Marni ketika pertama kali masuk ke hotel di tengah kota.

“Tidak apa-apa. Tidak sakit.”

“Bukan itu,” potong Marni. “Takut nanti ketahuan ibu.”

“Saya yang bertanggung-jawab!” tegas Herman.

Semua berlalu begitu cepat. Sejak kejadian di hotel, Pak Herman selalu punya alasan untuk pergi pagi-pagi dengan harapan bisa membawa Marni jalan-jalan sebelum menurunkannya di sekolahan Adelia.  Rupiah demi rupiah mengalir deras ke saku Marni. Pakaian, sepatu hingga parfum menjadi oleh-oleh wajib setiap kali Pak Herman pulang dari luar kota. Tidak perlu waktu lama bagi Bu Herman untuk mengetahui perselingkuhan suaminya.

Meski awalnya minta cerai, namun akhirnya Bu Herman mengalah. Dia hanya minta agar hubungan mereka tidak diketahui oleh siapapun. Marni pun diboyong  ke rumah kecil di pinggran kota, di dalam kompleks perumahan yang penghuninya sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tidak ada waktu untuk bergunjing.  Mereka menikah siri tanpa wali dari pihak Marni.

Awalnya Marni cukup bahagia dengan status barunya. Ia bisa mengirim uang ke kampung secara teratur, meski dengan jumlah yang sama seperti ketika dia masih menjadi pembantu. Namun setahun kemudian kondisinya berubah. Usaha Pak Herman ambruk sehingga perhatian kepada Marni berkurang dratis. Terakhir bahkan Herman menceraikannya, juga secara siri. Persoalan menjadi pelik karena Marni harus membayar cicilan rumah yang ditempatinya  dan juga mengirim uang ke kampung. Perlahan tabungannya pun habis.

 “Mar, Emak minta, besok saja ke kotanya,” ujar Emak mengagetkan Marni.

“Aku tidak punya baju, Mak. Aku harus beli baju dulu.”

“Emak sudah menyuruh adikmu beli di pasar. Ini baju paling bagus…”

Belum selesai Emak bicara, di luar rumah terdengar suara ribut-ribut. Sontak Marni dan Emak keluar rumah. Di bawah tratag, salah seorang warga tengah menjinjing travel bag milik Marni.

“Saya menemukannya di pesarean Mbah Bahuga,” kata orang itu kepada Marni. “Saya yakin tas ini punya Mbak Marni. Soalnya bau  Jakarta.”

Dahi Marni berkerut. Bagaimana bisa tasku ada di kuburan Mbah Bahuga? Bukankah semalam hanyut di sungai?

“Kamu sudah dipilih oleh Mbah Bahuga. Beliau sangat perhatian dan menyelamatkan pakaianmu,” bisik Emak.

Marni buru-buru mengambil travel bag itu dan membukanya. Isinya masih utuh. Namun bukan itu yang membuatnya terkaget-kaget. Ternyata seluruh pakaiannya masih kering. Tidak ada tanda-tanda tas itu pernah tercebur ke sungai. Sampai beberapa lama, Marni dibuat kebingungan. Apakah travel bag ini kedap air? Marni tidak tahu karena tidak pernah memeriksanya sejak dibelikan Pak Herman.

Sambil menyeret tas pakaian ke kamar, pikiran Marni masih diliputi kebingungan. Di satu sisi ia bersyukur karena tidak perlu memakai baju murahan yang bahannya terbuat dari kain kasar. Namun di sisi lain, ia dibuat bingung karena segala sesuatu yang ada di kampung sepertinya berkaitan erat dengan Mbah Bahuga.

Siapa sebenarnya Mbah Bahuga? pikir Marni. Benarkah makhluk gaib? Marni mendengus sambil geleng-geleng kepala. Rasanya tidak mungkin makhluk gaib bisa mengambil tas dari sungai lalu meletakkannya di atas kuburan. Semua serba misterius. Marni bergidik membayangkan bagaimana semalam dirinya jatuh ke sungai dan terbawa arus sungai. Belum lagi pemandangan mengerikan yang dilihatnya di atas makam. Benar-benar kampung horor, sungut Marni sambil berganti pakaian.

“Kamu tidak jadi ke kota, kan?” tanya Emak cemas begitu dilihatnya Marni keluar dari kamar berdinding gedhek dengan pakaian mewah; celana blue jeans,  kaos you can see warna kuning muda yang dipadu dengan dengan sepatu sandal dengan hak tinggi. Beberapa orang yang melihat penampilannya, termasuk Bapak, dibuat kagum.

“Tidak,” sahut Marni pendek.

“Syukurlah,” ujar Emak spontan. Matanya berbinar-binar.

“Tapi aku tidak mau bertemu tamu yang katanya mau melamarku,” kata Marni.

“Lho? Kenapa?”

“Emak ini pura-pura tidak tahu saja,” semprot Marni. “Tadi sudah aku bilang, aku tidak mau dijodohkan!”

“Kalau begitu kamu terima dulu tamunya. Maksud Emak, kita terima dulu lamarannya. Masalah hari pernikahan, nanti bisa kita bicarakan lagi dengan mereka,” bujuk Emak.

 “Bapak tidak tahu harus bilang apalagi jika sampai…”

“Semua gara-gara Bapak yang suka main judi!” potong Marni pedas sambil menatap tajam wajah Pamo. Mendapat serangan mendadak, Pamo melengos. Menatap kolong meja di mana undur-undur sedang menggemburkan tanah.

“Nak,” ujar Emak kembali menangis. “Emak minta tolong, kamu temui mereka. Sebentar saja.”

Marni diam beberapa saat sebelum kemudian menjawab, “Baik, kali ini saja aku kabulkan permintaan Emak. Tapi ingat, keputusan apakah aku mau menerima lamaran, apalagi menikah dengan laki-laki yang tidak aku kenal, sepenuhnya ada di tanganku. Jangan coba-coba Emak, apalagi Bapak, menghalang-halangi. Jika Emak atau Bapak melanggarnya, hari ini juga aku kembali ke Jakarta!”

Pamo tampak senang. Ia mengangguk dengan mantap. Tapi tidak demikian halnya dengan Emak. Air matanya kian deras mengalir. Marni pura-pura tidak melihat tangis Emak.

“Mau ke mana kamu, Mar?” tanya Emak ketika dilihatnya Marni bersiap pergi.

“Jalan-jalan. Mau lihat-lihati kampung.”

“Tapi jangan lama-lama ya?” potong Emak. “Tamunya akan datang jam 10.”

Marni tidak menyahut. Ia melangkah keluar rumah dan berjalan kaki menyusuri kampung tanpa tujuan. Marni berharap dirinya tersesat sehingga punya alasan untuk tidak pulang..