Now Loading

Berbaikan

Seminggu setelah kunjungan Lilian ke rumah, aku belum bertemu dengannya lagi. Apa dia masih marah? Bisa jadi. Aku menelepon beberapa kali karena ingin memperbaiki keadaan, tapi dia menolak ajakanku dengan macam-macam alasan. Dua hari lalu, aku menghubunginya lagi, dan dia bilang dia akan bepergian ke luar kota. Aku diam-diam mengunjungi tokonya hari itu, dan dia berada di sana, duduk di balik meja kasir; sibuk menatap layar komputer.

Aku meminta saran Feri untuk masalah ini, dan dia bilang, “Beri mereka waktu.”

Apa semua perempuan lembut dan perhatian memiliki sifat lain bernama pendendam? Tara, istri Feri, juga begitu. Ketika aku masih dalam keadaan terpuruk karena kasus Leia, dia sering berkunjung ke rumah untuk memberiku semangat. Jujur, Tara adalah salah satu sosok yang sangat berjasa di saat-saat runyam. Namun uniknya, Tara bisa bertingkah mengerikan kepada Feri.

Lembut sekaligus pendendam, ya?

Aku memang sempat berpikir begitu, hingga Feri memberiku kemungkinan lainnya. Dia bilang, Kebanyakan perempuan lembut dan perhatian, biasanya, hanya bersikap terang-terangan kepada orang yang mereka sukai. Mereka blakblakan karena akrab dan percaya. Itulah kenapa aku menyarankanmu untuk tetap santai dan memberi mereka waktu lebih.”

Nasihat hebat. Feri jelas berpengalaman dalam hal ini.

Malam ini, sambil menunggu balasan dari Lilian, aku merapikan seisi rumah yang berantakan. Setelah mencuci dua keranjang pakaian kotor, membersihkan dapur, membuang makanan busuk dari lemari es, dan menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak keesokan harinya, aku mengubah sofa ruang tamu sebagai tempat kerja.

Aku akan mencari lebih banyak informasi untuk kasus kemunculan hantu Mores.

Walaupun belum memahami jalan pikiran Lilian, kurasa pasti ada beberapa hal yang sudah terlewatkan. Lilian bukan seorang penggila cerita hantu. Aku yakin begitu justru karena reaksi anehnya.

Mores bintang film yang sudah mati. Lilian menjadikannya model cerita fiksi. Mores muncul di film pendek dalam bentuk roh, dan kebetulan kejadiannya mirip dengan tulisan Lilian. Cerita selesai.

Harusnya cukup seperti itu saja. Tetapi, Lilian malah tidak mau memanfaatkan situasi ini untuk menaikkan popularitas karyanya.

Apa aku terdengar licik? Mungkin. Tetapi, mana mungkin ide ini disebut licik karena bukan Lilian yang menyebabkan hal itu terjadi. Dia, kami semua, hanyalah manusia biasa yang kebetulan terlibat dalam masalah ini.

Namun, aku tidak bisa menganggap reaksi Lilian adalah sebuah kesalahan fatal. Persis seperti aku yang terkejut oleh kemiripan antara kasus asli dan fiksi buatanku, dalam situasi macam itu, beragam prasangka buruk bisa berkeliaran dengan bebas. Firasat-firasat menakutkan tersebut tidak hanya beterbangan di dalam kepala, tapi juga hidup dan mondar-mandir di depan mata. Mereka berpakaian serba hitam, berwajah suram, dan menyeringai lebar.

Siapa yang bisa bersikap normal ketika menghadapi mereka?

Aku memandangi foto Mores Silkan yang terpampang di sebuah laman blog. Dia memang tampan dengan gigi rapi dan bentuk wajah yang tegas mirip sebuah perisai persegi lima. Alis tebal semakin menambah kesan karismatik pria ini. Untuk bentuk fisik secara keseluruhan, dia tidak jauh berbeda dari Liam. Kalau berada di dekatnya, punggung dan telingaku pasti bakal terasa panas karena salah tingkah. Untuk menenangkan detak jantung, aku harus segera menyingkir jauh-jauh darinya.

Itulah kesan yang bisa kugambarkan tentang Mores.

Kalau aku harus mengurutkan ulang permasalahan ini lagi, maka akan menjadi seperti ini. Walaupun bukan penggemar berat, Lilian tetap tertarik pada Mores, lalu menjadikannya model untuk cerita fiksi. Tidak ada yang salah hingga di titik ini.

Kerumitan tiba-tiba timbul karena kemunculan hantu Mores yang mirip dengan isi tulisan Lilian. Sampai di sini, masalah belum bisa disebut hebat. Lalu, apa lagi?

Ah, benar! Kenapa orang-orang bisa terlambat menyadari kemunculan Mores? Lupakan soal juri. Bagaimana dengan para pembuat film? Mari anggap mereka tidak pernah berbuat curang. Tetapi, bukankah mereka adalah orang-orang yang sudah ratusan kali melihat karya masing-masing, bahkan sebelum potongan rekaman bisa disebut sebagai film utuh? Bagaimana mereka bisa melewatkan itu semua?

Bertanya seorang diri malah semakin membuat kepalaku kesakitan. Aku harap Lilian segera menghubungiku.

***

Tidak semua doa yang terkabul itu sesuai dengan keinginanmu. Hari ini adalah hari kesepuluh setelah Lilian pergi begitu saja dengan wajah kecewanya malam itu. Namun begitu, aku tetap bisa sedikit lebih lega. Ketika kuhubungi kemarin, dia bilang dia akan pergi ke luar kota, dan kali ini dia tidak berbohong. Dia bahkan berjanji akan menemuiku malam ini.

“Kak Feri tahu, aku benar-benar merasa seperti seorang kekasih bermasalah sekarang. Lian adalah wanita yang mengerikan. Bagaimana bisa dia menyiksaku seperti ini? Hebatnya, dia tidak pernah marah, tapi aku selalu merasa kalau dia begitu. Apa Kak Feri juga merasakan hal yang sama ketika dimusuhi oleh Kak Tara?”

Feri menyunggingkan senyum aneh. “Jangan tanya.”

“Pernah, rupanya.”

“Jangan terlalu negatif, Rui. Kamu tidak pernah tahu apa yang orang lain pikirkan. Bisa jadi saat ini dia sedang melakukan sesuatu yang sangat bertolak belakang dari dugaanmu. Dulu, aku pernah mengira istriku akan menghukumku dengan cara tidak memasak apa pun. Tapi, aku salah.”

“Jadi, apa yang dia lakukan?”

Feri tersenyum lagi. “Waktu itu, dia harus pulang ke rumah orang tuanya karena ibu mertuaku sedang sakit. Sebelum itu, kami baru saja bertengkar soal calon presiden mana yang lebih pantas memimpin negeri ini. Ya Tuhan, kenapa kami harus berbeda pendapat?”

“Lalu?”

“Istriku tetap memasak untukku, yang dia menaruh makanan itu ke dalam lemari pendingin agar bisa dihangatkan kalau aku lapar. Tapi-“

“Tapi apa?”

“Tara tahu betul bahwa aku benci tomat dan bayam, tapi dia malah membuatkanku jus tomat, saus tomat, tumis bayam, dan bayam yang digulung bersama-sama dengan kubis kukus. Di atas wadah plastik makanan-makanan itu, dia menuliskan catatan yang berisi pesan agar aku menghabiskan semuanya.”

“Itu hukuman, Kak Feri.” Aku ngeri hanya dengan membayangkannya.

“Intinya, Tara melakukan hal yang berbeda dari yang kubayangkan, bukan?”

Soal itu, Feri memang tidak salah.

“Sudahlah. Bukankah kamu akan bertemu dengan Lilian nanti malam? Jadi, kamu tidak ada alasan untuk muram lagi, ‘kan?”

“Apa yang akan aku katakan padanya nanti?” Aku adalah anak tunggal, tapi aku mempunyai dua orang sepupu perempuan. Aku pernah bertengkar dengan mereka saat kecil dulu. Kami sangat dekat seperti saudara kandung. Namun anehnya, kedekatan itu justru membuatku merasa kesulitan untuk meminta maaf.

“Dari yang aku lihat, kamu sepertinya tidak perlu berpura-pura soal tanggapanmu untuk masalah hantu Mores,” tambah Feri.

“Iya. Setelah memikirkannya selama berhari-hari, aku akhirnya cukup mengerti akan jalan pikiran Lian. Belum benar-benar paham, tapi setidaknya, aku mulai setuju dengan pendapatnya.”

Feri tiba-tiba menunjukkan eskpresi senang, mirip seseorang yang baru saja menemukan sebuah ide. “Lihat! Itulah yang kumaksud dengan ‘memberi waktu lebih’. Dengan begitu, tanpa sadar, kamu juga sudah memberi dirimu kesempatan untuk memikirkan banyak hal.”

Benar juga!

“Aku hebat, bukan?” kata Feri berlagak sok keren lagi.

“Tidak juga. Barusan aku lihat Kak Feri juga kaget. Kak Feri baru saja menemukan kesimpulan itu, ‘kan?” tebakku.

“Kesimpulan apa?”

“Kesimpulan untuk dampak ‘memberi waktu lebih’. Ayolah, jangan sok keren begitu.”

Perdebatan pun dimulai. Kami baru berhenti melakukan permainan ‘memuji diri sendiri sambil menghina orang lain’ ketika ponselku berdering. Telepon dari Lilian.

“Lian?”

“Hai, Kak Rui. Apa Kak Rui sudah selesai bekerja?”

“Sudah. Sepuluh menit lagi aku keluar dari kantor. Ada apa?”

“Aku sudah sampai di kafetaria samping kantor M&M. Aku akan menunggu kak Rui di sini.”

“Baik-baik. Aku akan ke sana sebentar lagi.”

_