Now Loading

Emak

Marni mendengus. Mengapa semua orang begitu ketakutan dengan Mbah Bahuga sampai-sampai harus memohon keselamatannya dengan cara seperti itu? 

“Cepat mandi, kita tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi pasar tutup,” kata Emak begitu selesai membaca mantra keselamatan dan dilihatnya Marni masih duduk di atas batu. Hanya kedua kakinya yang dicelupkan ke dalam sungai. 

“Memangnya Mbah Bahuga siapa, Mak?” tanya Marni ketika dilihatnya orang yang tadi mengintip sudah tidak ada. Ke mana perginya? Hebat juga mantra Emak!

“Sudah…sudah! Emak tidak tahu. Jangan sebut namanya dengan cara yang tidak sopan,” sahut Emak semakin gusar. “Cepat mandi. Kita harus ke pasar untuk beli baju kamu.”

“Bukannya Emak tadi sudah ke pasar?”

“Iya, tadi cuma beli baju ini. Mau beli dua takut kamu tidak suka.”

Marni akhirnya masuk ke dalam sungai lengkap dengan kain panjang yang dipakainnya sejak semalam. Marni tidak mau memakai sabun batangan yang disodorkan Emak.

“Itu sabun untuk cuci pakaian, Mak, bukan untuk membersihkan badan.”

Emak mengangkat bahu. Sabun batangan itu kembali dimasukkan dalam kantong baju.

Selesai mandi, Marni mengenakan daster yang dibawa Emak. Namun ia buru-buru melepasnya. “Gatal, Mak…!”

“Ini baju baru, Mar,” kata Emak heran.

“Bahannya kasar banget. Aku tidak bisa pakai pakaian seperti itu!”

“Jadi kamu mau pakai baju apa? Semua orang kampung beli baju di pasar. Dulu kamu pun paling suka kalau Emak belikan baju di pasar. Lagi pula ini baju yang paling mahal. “

“Tidak mau, Mak!”

“Jadi kamu mau pakai apa? Baju semalam belum kering.”

“Emak beli dalemannya?”

Emak menggeleng. “Tidak ada yang jual.”

“Jadi aku disuruh pakai daster tanpa daleman?!” seru Marni dengan mata mendelik.

Emak kebingungan dengan sikap Marni. Ia merasa seperti tidak lagi mengenali anaknya. Kamu sudah banyak berubah, guman Emak sedih.

Melihat air muka Emak berubah seperti itu, Marni pun bimbang. Apalagi tubuhnya mulai menggigil kedinginan. Diambilnya lagi baju dari tangan Emak dan Marni memakainya dengan buru-buru. Setelah itu ia baru melepas kain panjang yang melilit tubuhnya.

“Aku mau ke kota, beli baju,” cetus Marni.

Emak terkesiap. “Kapan?”

“Ya sekarang. Aku tidak bisa pakai baju ini. Gatal!”

“Tapi hari ini akan ada tamu…”  Emak tidak meneruskan kalimatnya. Ia bingung bagaimana menjelaskan rencana kedatangan keluarga Bonang untuk melamar Marni. Bahkan mungkin akan sekaligus dinikahkan, sementara dia tahu anaknya sudah menolak.

“Mak, tadi kan sudah aku bilang, tidak mau dijodohkan! Jadi jangan bahas lagi soal itu!”

“Tapi Nak,” kata Emak lembut. Air matanya mulai meleleh. “Kita tidak bisa membatalkan begitu saja.”

“Siapa yang bilang tidak bisa dibatalkan? Siapa yang bikin aturan begitu? Kalau aku tidak mau, terus apa hukumannya?!” semprot Marni.

Emak terdiam. Sampai beberapa saat keduanya menyusuri jalan menuju rumah dengan berdiam diri. Namun setelah hampir tiba di rumah, Emak berhenti dan memegang tangan Marni dengan gemetar.

“Semua warga kampung akan mengecam Emak dan Bapak. Sebab Mbah Bahuga pasti marah besar sehingga akan memperpanjang hukumannya pada semua warga kampung.”

“Mbah Bahuga, Mbah Bahuga terus! Kenapa jadi Emak mikirin Mbah Bahuga? Seharusnya Emak membela aku karena aku yang akan dikorbankan untuk kepentingan warga kampung!”

“Nak,” potong Emak. “Jika pernikahan ini dibatalkan, kita juga harus mengembalikan uang kepada keluarga Bonang.”

“Oh.. jadi Emak sudah menggadaikan diriku ke keluarga… siapa tadi?”

“Bonang…”

“Ya, Emak sudah menggadaikan diriku ke keluarga Bonang? Berapa Mak?”

“Rp 5 juta.”

“Rp 5 juta? Untuk apa uang itu, Mak? Bukankah aku selalu kirim uang untuk Emak dan Bapak?” seru Marni tanpa berusaha merendahkan suara.

Kembali Emak menangis tanpa suara. Tubuh kurusnya berguncang. Marni ingin sekali memeluk. Tetapi tidak mau Emak salah duga. Nanti malah mengira aku mau untuk dinikahkan.

“Bapakmu tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruknya.”

“Jadi uangnya dipakai untuk berjudi?” sahut Marni cepat. Ia sudah tahu bapaknya gemar sekali berjudi, sebagaimana semua warga Kampung Lembah Kematian.

Emak mengangguk.

Marni menghela nafas panjang. Kepalanya mulai berdenyut. Sampai di rumah, Marni langsung masuk kamar. Ia tidak ingin melihat wajah Bapak. Kebencian pada bapaknya kian menumpuk. Ia takut tidak bisa mengendalikan diri lagi. Dulu ia sempat kasihan karena Bapak kerja keras mencari nafkah demi menghidupi anak-istrinya. Marni pun rela jadi babu di Jakarta karena ingin meringankan bebannya. Ia berharap, setelah kerja lima tahun, uangnya bisa terkumpul untuk modal bikin warung. Marni ingin punya warung seperti Bude Yum, satu-satunya warung di Kampung Lembah Kematian.

Tetapi  setelah lima tahun, tidak ada uang yang terkumpul. Uang kirimannya selalu habis. Bahkan belakangan dia tahu orang tuanya banyak hutang. Bapak, juga Emak gampang berhutang ke renternir dengan mengandalkan kiriman dari Marni. Jika sebelumnya Marni bisa kirim sesukanya, belakangan harus kirim tepat waktu karena penagih utang marah-marah jika Emak telat bayar bunga pinjaman. Dari obrolan dengan majikannya dan juga melihat berita atau acara-acara televisi, Marni mulai merasa dirinya dijadikan sapi perahan oleh keluarganya.