Now Loading

Rencana Pernikahan

Saat menemukan Marni, Darno sempat hendak hendak mencium bibirnya untuk memberikan nafas buatan. Namun niatnya dicegah oleh Surip yang memaksa agar langsung dibawa pulang.  “Setelah mereka menikah, tentunya Marni tidak bisa mengambil keputusan sendiri karena sudah ada suaminya,”

Pamo menjadi gelisah mendapat serangan pertanyaan dari Darno.

“Saya maunya juga begitu. Tetapi kedatangan Marni sudah terlambat dua hari dan saya belum sempat memberitahu soal rencana pernikahan. Saya perlu waktu sampai besok.”

“Tidak bisa begitu! Besok calon besan sudah datang. Jadi malam ini juga Lik Pamo harus mengambil keputusan. Kalau memang mau dibatalkan, besok pagi-pagi sekali kita kirim utusan ke dusun sebelah supaya mereka tidak datang ke sini,” ujar Darno makin bersemangat. Meski sudah memiliki dua anak, tapi bukan hal yang mustahil untuk ikut mendekati Marni andai acara pernikahan dibatalkan. Mendadak ia merasa istrinya- yang sedang duduk di dekat pintu, tampak tua dan jelek.

Pamo semakin gelisah. Ia melepas peci lusuhnya dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Mbah Diklik.  “Lagi pula, kalau sampai pernikahannya dibatalkan,  petung-nya bisa meleset. Hati-hati, Mo! Kemarin sudah kita hitung tanggal baiknya pernikahan Marni dan jatuhnya besok. Mbah Bahuga juga sudah kita mintai ijin. Kalau kemarahan calon besan bisa kita redam, tapi bagaimana dengan Mbah Bahuga?” kata Mbah Diklik.

“Saya bingung, Mbah,” keluh Pamo.

“Marni itu anak kamu, jadi kamu yang menentukan, bukan dia!”

“Pada prinspnya, keputusan ada di tangan Lik Pamo. Apa pun keputusannya kita pasti dukung, termasuk membatalkan acara pernikahan,” bela Darno.

“Apakah kamu siap menanggung akibatnya kalau sampai Mbah Bahuga marah?” tanya Surip sambil menatap Darno. Ia mulai menangkap gelagat tidak baik. Apalagi, di sungai tadi, Darno langsung maju hendak memberikan nafas buatan padahal belum ada persetujuan dari yang lain.

“Jangan begitu, Kang Surip. Masa saya sendiri yang harus menanggung akibatnya. Mestinya ditanggung oleh kita semua.  Sebab jika pernikahan Marni dibatalkan maka itu merupakan keputusan seluruh warga kampung, bukan hanya saya,” kilah Darno.

“Begini saja,” kata Pamo menengahi. “Besok, pagi-pagi sekali saya akan sampaikan kepada Marni soal rencana pernikahannya.”

“Jadi rencana pernikahannya tidak dibatalkan,” sergah Darno cepat, lebih cepat dari perkiraan Surip.

“Tidak! Saya tidak sanggup mendapat tulah yang lebih mengerikan lagi dari Mbah Bahuga,” ucap Pamo.

Tulah atau hukuman secara gaib, menjadi momok paling menakutkan bagi warga Kampung Lembah Kematian, dibanding apa pun. Kemarau yang panjang saat ini diyakini sebagai hukuman nyata dari Mbah Bahuga karena Tumi, pengantin sebelumnya tidak perawan. Di depan kamitua yang menyidangkan kasusnya, Tumi mengaku sudah berhubungan dengan calon suaminya saat mandi bersama di sungai.  

Setelah pengakuan Tumi, kamitua, konon sudah seijin Mbah Bahuga, memutuskan untuk segera menggelar pernikahan lagi. Marni terpilih karena dianggap sudah cukup umur. Sebab saat itu tidak ada lagi gadis kampung yang bisa dinikahkan. Gadis yang tersisa tinggal Nur, anak Surip, tapi umurnya baru 10 tahun.

Pernikahan Marni diharapkan akan bisa menyembuhkan luka hati Mbah Bahuga sehingga mau mengakhiri hukumannya. Warga kampung mulai menderita karena mata air yang menjadi penopang utama kebutuhan air warga, sudah lama kering. Warga pun harus mengambil air ke sungai. Belum lagi tanaman jagung dan singkong yang mulai meranggas.

“Tapi Marni di Jakarta,” sanggah Pamo dalam rembug kampung.

“Apa tidak bisa kamu suruh pulang?” tanya salah satu kamitua.

“Lagi pula Marni sudah hampir jadi perawan tua,” sindir lainnya.

Pamo pun mengalah, termasuk menyetujui calon menantu yang diputuskan. Pamo tidak bisa memilih calon menantunya. Beruntung Bonang- meski berstatus duda anak satu, masih cukup muda dan mengerti tujuan pernikahannya sehingga dipastikan tidak akan mendahului Mbah Bahuga menjamah tubuh Marni. Dengan demikian Mbah Bahuga akan senang dan segera mengakhiri hukuman yang dijatuhkan.

Usai rembug kampung, Pamo lantas menelpon Marni. Disuruh pulang dengan alasan emaknya sakit.

“Mungkin kangen karena sudah lama banget tidak ketemu kamu,” bujuk Pamo. “Nanti kepulanganmu akan disambut oleh seluruh warga kampung. Bapak mau nanggap kuda kepang,” kata Pamo.

Bujukan Pamo berhasil ketika esoknya Marni mengabarkan sudah membeli tiket bis ke Kalianget.   

“Bagaimana kalau Marni menolak?” kejar Darno mengangetkan Pamo. Diam-diam Darno berharap Marni menolak. Kemungkinan itu sangat terbuka karena Marni sudah jadi gadis kota. Penampilan Marni tidak kalah modis dibanding artis dangdut yang pernah dilihatnya di Kalianget.

Hal itu juga yang kini membuat Pamo ragu-ragu. Anaknya telah tumbuh menjadi gadis yang cantik, tidak seperti yang dibayangkan. Padahal dulu tubuhnya kurus dan dekil. Bahkan tangan dan kakinya panuan. Meski bersyukur karena anaknya menjadi gadis paling cantik dan menawan di Kampung Lembah Kematian, namun hal itu sekaligus menyiutkan nyali Pamo untuk sekedar menyampaikan rencana pernikahan. Terlebih Bonang jelas tidak sejajar dengan Marni. Tubuh Bonang hitam, dekil dan gempal. Mungkin tinggi Bonang hanya sebahu Marni.

“Kita tunggu sampai besok,” ujar Pamo.