Now Loading

Pertemuan dengan Jien Larga

Aku akan menceritakan kembali bagaimana pertemuanku dengan hantu Jien Larga. Dia adalah korban pertama dalam pembunuhan yang ternyata menjadikan novelku sebagai referensi beberapa waktu lalu. Dengan kemeja berlumuran darah kering, dia duduk di sampingku.

Sore itu, aku masih dalam keadaan terpuruk. Pekan-pekan pertama bekerja di Komunitas M&M menguras energi tubuh dan mental. Banyak staf yang menatapku dengan sorot mata suram. Mereka sedang mengasihaniku. Lebih baik daripada menuduh, namun tetap bukan pemandangan yang menyenangkan.

Setelah Feri memintaku pulang lebih awal, aku memutuskan untuk duduk melamun di sebuah bangku taman pinggir jalan utama kota. Kopi di tangan sudah kehilangan es batunya, dan aku masih memegang benda berisi cairan keruh tersebut. Lalu, suara milik seorang pria menyela.

“Bangku yang lainnya penuh. Apa aku boleh duduk di sini?” tanyanya sopan.

Aku salah tingkah. “Oh iya-iya, tentu,” jawabku cepat tanpa menatap langsung wajah si pria.

Dari sudut mata, aku melihat dia duduk dan bersandar dengan nyaman, lalu mulai mengetuk-ngetukkan pensil ke atas map biru muda berbahan keras miliknya. Bunyi ketukan itu cukup mengganggu, jadi aku pun berniat pulang saja.

“Memang itulah jawabannya. Aku pernah bilang, ‘kan? Kamu sudah menemukan jawabannya.” Suara pria tersebut agak serak. Kami beradu pandang, dan dia tersenyum kecil.

Dengan perasaan takjub dan seakan-akan tengah mengalami lucid dream, kami membicarakan banyak hal. Tentang kasus pembunuhan, tentang penyangkalanku, tentang duka merusak yang menderaku.

Dia mengobati sebagian luka tersebut. Perasaan bersalah menguap sedikit demi sedikit bak air dalam ember yang sengaja diletakkan menghadap matahari terik. Beban terangkat dengan sendirinya. Aku juga tidak takut pada desakan rasa lega yang sebelumnya selalu kuanggap sebagai dosa besar.

Dia bilang, aku bukanlah pihak yang bisa disalahkan. Aku adalah korban. Terlampau memikirkan kesialan justru semakin menenggelamkanku ke dalam lapisan mimpi buruk lainnya.

Sehabis mengatakan hal-hal menenangkan, dia menghilang seperti percikan air pada kap mobil bersuhu panas. Kehampaan janggal menyertai kepergian roh Jien. Aku tidak yakin apakah perlu berterimakasih kepadanya atau tidak. Dia bisa saja adalah sosok hasil ciptaan kepalaku sendiri, bukan?

Seperti yang pernah ibu katakan, terkadang alam bawah sadar menciptakan hal gaib untuk menjawab setiap kegelisahan. Mimpi, kehadiran roh, hingga trik ingatan lainnya, semua itu hanyalah ciptaan manusia dalam mencari penghiburan diri. Entahlah.

***

Setelah berbicara selama hampir empat puluh menit dengan Jien Larga, aku mendadak merasa kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang khayalan. Aku ingat dengan jelas ketika angin berembus dari arah kanan kami. Jien memang nyata karena angin sejuk itu tidak menembus tubuhnya begitu saja. Tiga-empat daun gugur dan mendarat sebentar di bahunya, sebelum kemudian jatuh ke tanah atau bangku.

Kalau memang dia hantu, kenapa terasa sangat nyata? Dan kalau dia nyata, lalu siapa yang sudah berada di dalam makam di sana? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuiku untuk waktu yang cukup lama. Lagi, untuk menyingkirkan semua tekanan, aku pun memutuskan untuk menyebutnya sebagai fenomena khusus; salah satu dampak dari mentalku yang terganggu. Itu lebih mudah.

Kalau aku menyampaikan kesimpulan serupa kepada Lilian, maukah dia menerimanya juga?

“Dengan mengatakan ini, aku tidak bermaksud menyebutmu aneh. Tapi, aku rasa kamu harus memeriksa lagi, Lian.” Aku masih mencoba mengajak Lilian untuk berpikir lebih bijaksana, sementara otakku sudah lima puluh persen memercayai ceritanya

Dia bersandar dengan gerakan kesal. “Berapa kali aku harus memeriksanya? Sepuluh. Seratus. Sejuta?”

“Kamu melewatkan seribu.” Aku berusaha bercanda, tapi tidak berhasil.

“Bagaimana kalau Kak Rui saja yang memeriksanya? Bukankah Kak Rui hanya percaya kalau melihatnya langsung?” Lilian membuka folder fail film di laptopnya. “Silakan.”

Pada setiap judul film, Lilian bahkan menuliskan di menit ke berapa Mores muncul. Aku membaca dengan saksama setiap judul film pendek itu. Sepertinya, tema yang diangkat adalah tentang mimpi dan masa muda.

Sesaat, aku mulai meragukan kesintingan Lilian. Dia adalah gadis yang serius, teliti, dan paham pada apa yang dia kerjakan. Sudahlah, toh aku hanya perlu memeriksa semua itu.

_