Now Loading

Kode Malapa

Tidak hanya ibu yang menunjukkan ekspresi tidak setuju, langit pun begitu. Mendung bergelayut, gemuruh samar-samar terdengar menggulung di atas langit. Angin dari arah Sungai Mahakam bertiup cepat tak beraturan. Namun begitu, gerimis maupun hujan belum turun sama sekali.

“Aku sudah telepon si Ayat. Dia masih ingat sama Ibu, katanya. Tapi, Ibu tetap kasih wanti-wanti itu anak.” Tangannya sibuk memasukkan kotak makanan ke dalam tas jinjing terpisah. Aku jadi seperti anak TK yang sebentar lagi akan berkunjung ke kebun binatang.

“Ibu, Ibu, sudah kubilang enggak perlu gadoh (cemas). Aku jadi enggak enak sama Ayat.”

“Nyawa lebih penting daripada gengsi. Lagian, apa yang bikin malu dari cemas? Kau aja yang berlebihan.”

Aku tidak akan menang melawan ibu.

“Iya, iya, aku paham. Sudah ah, setop masukkan makanan ke dalam tas. Enggak kuat aku makan sebanyak itu.”

“Akira juga ada, ‘kan? Ini sebagian jatahnya dia.” Ibu menunjuk ke arah empat wadah plastik. Hanya ada enam wadah di sana.

“Ooh, jadi anak Ibu itu Akira?”

Ibu tersenyum mengejek. “Iya!”

Setelah melewati lebih banyak sesi nasihat, aku akhirnya berhasil turun ke lantai dasar, lalu buru-buru masuk ke dalam mobil van biru malam milik fasilitas.

“Kok lama, Kak?” tanya sopir van.

“Maaf, Hadi. Ibuku enggak bisa diajak santai. Hampir aja pergi ke pulau batal. Sakit kepalaku!”

Hadi, yang masih mahasiswa tahun kedua, tergelak. “Tante Masla memang gadohan. Ibuku juga sama sih, tapi enggak separah dia.”

“Kau enggak kuliah? Ini masih Mei.”

Hadi menggeleng. “Disetop sementara. Ada temuan kasus di Akademi Pesut. Belum jelas kapan kampus bakal dibuka lagi.”

“Berapa zombi?”

Hadi memelankan laju van karena lampu merah. “Lima.”

Ucapan ibu sebelumnya melintas, dan kesannya membuat dadaku sesak. “Banyak, ya.”

“Selama tiga tahun belakangan, baru kali ini ditemukan lima zombi sekaligus. Biasanya paling banyak tiga atau empat.”

Sembilan tahun lalu, kemunculan zombi pertama kali ditemukan di Kyoto dan Busan. Keduanya hanya berselat dua hari. Mengejutkan karena saat ada yang berbicara tentang zombi, maka Afrika adalah benua pertama yang seharusnya muncul di kepala.

Ini hanya pendapat pribadiku sebagai orang yang lebih percaya pada mitos dan legenda urban.

“Mengerikan juga, ya, zombi muncul di tengah mahasiswa yang lagi belajar tentang zombi.”

Hadi bergidik, kemudian menginjak pedal gas. “Enggak perlu dibahas soal itu, Kak. Beberapa mahasiswa bahkan langsung berhenti. Kalau aja aku enggak berkeras hati, ibuku pasti sudah mengirim formulir pengunduran diri.”

“Apa kau juga bakal ikutan ke pulau?”

“Iya. Tadinya cuma pengen jadi sopir part-time. Tapi, kak Ayat malah nawarkan buat ikut ke seminar di fasilitas.”

“Baguslah. Sekalian cari pengalaman buat menunjang pengetahuanmu.”

“Iya, benar itu.”

Mobil melaju ke utara. Kami melintas di atas jembatan yang mengantarkan kami ke seberang Tenggarong. Sekitar setengah jam lagi, Kota Muara Lai akan dicapai. Di sana, Akira akan bergabung denganku dan Hadi.

***

Pria muda berkulit cerah itu tersenyum hingga mata sipitnya nyaris hilang. Hanya sedikit lebih tinggi dari Hadi, yaitu 179 sentimeter, Akira tampak kurus. Apa dia sangat sibuk sampai lupa memelihara jadwal makannya? Dia tidak sekurus itu sebelumnya. Ah iya, aku mengetahui profil Akira melalui Zoint, dan kami sudah bertemu beberapa kali selama setahun belakangan ini.

“Sudah lama tidak bertemu, Rin-chan!”

Hadi buru-buru memasukkan perkakas milik Akira ke dalam van. “Hanya ini, Aki?”

“Iya, Hadi. Itu saja. Aku benci membawa lebih dari dua ransel.”

Simple banget kamu!” selaku.

“Rumit kalau bawa terlalu banyak.”

“Ayo jalan,” ajak Hadi.

Alunan saksofon Kenny G mengalir damai. Karena ingin membicarakan sesuatu dengan Akira, aku berpindah ke bangku penumpang.

“Apa kamu bisa menceritakan lagi soal Corpse Lovers?”

Akira meraih salah satu ransel berwarna hitamnya. Dia merogoh, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan. “Aku rasa ada di sini.” Jari-jemari jenjang menyibak halaman dengan cepat. “Ini dia.” Akira menyodorkan buku itu kepadaku.

“Apa ini?”

“Kode. Kode di mana anggota Malapa bisa menemukan link menuju platform Corpse Lovers.”

“Bukannya kamu bilang menemukannya bakal sulit?”

“Iya. Ini cuma kode yang pernah dipakai. Untuk selanjutnya, aku belum tahu sama sekali.”

“Apa kamu mendapatkan ini dari anggota Zoint yang pernah enggak sengaja mengklik tautan?”

“Iya.”

“Malapa? Apa ini nama dari platform palsu sebelum masuk ke Corpse Lovers?”

“Iya. Isinya hanya konten ringan seputar film dan buku bertema mayat hidup. Selain ulasan, tidak ada tulisan beraroma riset mendalam ataupun teori. Murni hiburan.”

Puisi? Lirik lagu? Semacam itu. Kode-kode hanya berupa kutipan pendek yang sulit dipahami bahkan setelah dibaca secara utuh.

Kode 23 Maret,

“Harimau gunung menyalak garang. Pedagang madu menutup telinga menggunakan ember berwarna keemasan.”

“Menyalak? Bukankah harimau harusnya mengaum?” protesku.

“Potongan kutipan selanjutnya terlihat lebih tidak masuk akal.”

“Madu, ember keemasaan, menutup telinga.”

“Coba baca kode kedua,” pinta Akira.

Kode 23 April,

“Harimau meminta bagian. Pemanjat gunung madu malam mengetahuinya, namun menolak.”

Kode 23 Mei,

“Pemanjat dicabik hingga ke tulang-belulang.”

 “Hampir tidak ada tulisan dalam bahasa asing.”

“Iya. Corpse Lovers memang berskala internasional. Tapi Malapa, platform ini hanya ada untuk users Indonesia. Membahas cerita rakyat dan mitos-mitos adalah salah satu kegiatan mereka.”

Jawaban untuk pecahan kode ditulis di halaman selanjutnya. Aku belum mau membuka bagian tersebut karena merasa tertantang untuk menjawabnya sendiri.

“Apa Rin-chan punya tebakan sendiri?”

“Sepertinya punya, tapi aku perlu sedikit waktu lagi.”

Take your time.

Menyalak, pemanjat. Mereka memakai kata-kata yang tidak sesuai. Mengaum, pendaki. Bagian mana yang harus kuubah?

“Apa jawabannya adalah petunjuk ke laman atau akun pengguna tertentu?”

“Iya. Coba lihat ini.” Akira menyodorkan ponsel kepadaku. Pada layar, laman platform Malapa sudah terbuka.

Aku memilih menu kumpulan cerita rakyat. Dari sana, aku membuka dongeng horor tentang Hantu Lu’u.

“Bagaimana kamu bisa tahu?” Mata Akira mendelik.

“Delapan puluh persen tebakan. Hantu Lu’u mengaum dan selalu meminta jatah madu dari pemanjat pohon. Mereka yang tidak memedulikannya bakal dicabik-cabik sampai habis, kalau berani menolak permintaannya. Dongeng ini ada di beberapa wilayah pedalaman Suku Kutai zaman dulu.”

“Wuah, pasti tidak mudah buat yang bukan berasal dari Kaltim.”

“Bahkan yang berasal dari tanah Kutai pun tidak semuanya tahu.”

“Anggota Zoint memang sangat beruntung.”

“Kamu yakin ini cuma faktor beruntung? Aku kok merasa janggal. Bagaimana dia bisa mengenali kode saja masih misterius.”

Akira mematikan layar, lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku kemeja. “Apa pun itu, kita bisa cari tahu lagi nanti.”

“Bakal sulit. Menemukan kodenya saja tidak mudah, apalagi memecahkannya.”

“Aku sudah coba menghubungi e-mail anggota yang pertama kali membagikan penemuannya dari Malapa dan Corpse Lovers, tapi sampai sekarang belum ada jawaban. Dia juga sudah tidak muncul di Zoint selama dua pekan ini.”

Aroma amis tercium. Aku tidak menyukainya. Kalau boleh bersikap paranoia, aku berani bersumpah ada yang aneh dengan Zoint. Kebetulan pun pasti ada batasnya. Kecurigaan pada penemuan anggota tidak bisa dibendung.

Terlebih dari itu, kenapa hal ini harus muncul saat aku baru saja ingin menikmati perjalanan pertamaku ke fasilitas? Mengganggu sekali!

_