Now Loading

Kemunculan Hantu Mores Silkan

Potongan novel Aku Melihatmuoleh Lilian Daya

Aku menyibak tirai kamar yang, jika terus tertutup, akan membuatku tidak tahu apakah di luar sana tengah siang atau malam hari. Rambut acak-acakan, mulut berlendir pahit, dan aroma tubuh tidak kalah basi jika dibandingkan dengan kain lap setengah kering. Aku belum bisa terlepas dari kesedihan setelah masa pencarian Gain. Aku belum mau menerima hasil semua usaha tersebut.

Dia sudah meninggal, kata mereka??

Gerah di leher mendesakku meneguk sisa air dari botol yang sebelumnya lupa ditutup. Aku rasa, aku telah menelan bangkai serangga kecil atau debu. Sambil mengecap-ngecap sisa air di dalam mulut, mataku menatap nanar ke arah laptop. Di dalam sana terdapat puluhan film yang sebagiannya dibintangi oeh Gain Kagil, yaitu seorang aktor yang berhasil membuatku jatuh cinta.

Aku rindu padanya. Aku ingin melihatnya lagi!

Kamar terasa senyap dan suram, dan untuk mengusir semua itu, aku pun menghidupkan laptop. Dari daftar film yang kumiliki, aku memilih sebuah film bergenre fiksi-ilmiah, yang setahuku, baru dirilis tahun lalu.

Gain sudah mati selama delapan tahun. Pencarianku sudah usai. Ibarat sebuah novel, cerita cintaku sudah sampai di halaman terakhir. Baik sekarang maupun nanti, aku pasti harus melupakannya. Proses yang menyakitkan, tapi aku bisa apa? Aku bahkan tidak punya celah untuk berdoa dan berharap agar dia hidup kembali.

Film di layar laptop dimulai dengan adegan seorang wanita berjalan cepat penuh kewaspadaan di gang sepi yang remang-remang –awalan cerita yang sering dipakai, selain adegan bangun tidur dengan susah payah, lalu mematikan jam beker.

Dia berjalan sambil membuat keributan dengan sepatu hak tingginya. Di detik-detik awal, hanya sepasang kaki indah yang diperlihatkan, lalu lama-lama, sorot kamera semakin meluas hingga mencakup seluruh tubuh sang aktris. Tidak lama setelah itu, sosok pria muda berpakaian serba hitam tiba-tiba muncul dari arah depan sang aktris. Dia menghadang.

Aku tertegun sesaat, lalu buru-buru menekan tombol ‘space’.

Video berhenti tepat dalam posisi close-up wajah sang tokoh pria. Walaupun tertutup oleh make-up berupa sisik hijau berkilau dari tengah wajah hingga dagu, aku yakin itu adalah dia. Dia adalah Gain Kagil! Suara dan sorot matanya tidak asing sama sekali.

Dialah pria yang sangat ingin kulihat saat ini!

***

Novel milik Lilian sudah tayang selama dua pekan penuh. Karena sebagian besar pembaca adalah penyuka genre pencintaan, respons untuk novelnya pun sangat positif. Selain bisa menerbitkan ide yang menarik, Lilian juga memiliki bakat lain, yaitu mampu menulis dengan baik dan cepat. Dalam sehari, kalau perlu, dia mampu menulis dua bab atau lebih, dan Feri mengakui kalau tidak banyak yang perlu diedit dari naskahnya.

Aku iri pada Lilian. Saat sedang membaca tulisannya, aku sempat beberapa kali tergoda untuk menulis lagi. Ada percikan semangat dan kebahagian kecil ketika membayangkan diriku duduk di depan komputer dan mengetik kata demi kata, kalimat demi kalimat; menciptakan sebuah dunia baru melalui rangkaian alur cerita.

Saat ini, aku sedang duduk di dalam bilik kerja kecil kami untuk membaca setiap kata dari bab kedua puluh empat novel Aku Melihatmu”  milik Lilian.

“Aku kira, Lilian yang agak pemalu dan tidak banyak omong itu akan menulis dengan gaya pelan mendayu. Wahh, semakin lama, gaya pengungkapan perasaan si tokoh semakin berani dan tegas.”

Feri, yang sedang duduk di balik meja di depanku, mendongakkan kepala. “Kalau dilihat dari kepribadian si tokoh utama, gaya menulisnya memang tepat. Aku suka dengan hasilnya.”

“Iya, aku juga. Hanya saja, apa yang dia tulis agak berbeda dari bayanganku.” Aku tertawa kecil.

“Dan miliknya juga tidak serumit gaya menulismu,” olok Feri.

 “Kak Feri sedang bosan?” Rasa bosan selalu membuat kami ingin berdebat tentang hal paling remeh sekalipun.

Dia menggeleng sambil tersenyum mengejek. “Tidak.”

“Kalau bosan, tunggu saja, aku harus menuntaskan pengecekan bab dulu.”

Feri tertawa, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.

“Aah, semakin lama, aku jadi semakin tergoda buat menulis lagi. Bulan ini, jumlah penulis bertambah tujuh orang.” Aku akhirnya selesai dengan pengecekan bab dua puluh empat, lalu melanjutkan ke bab terakhir.

“Sebenarnya lebih dari tujuh orang, tapi sisanya masih dalam proses persetujuan,” balas Feri. “Menulislah lagi, Rui. Ingat, kalau kamu tidak segera duduk, kursi di bis akan segera diisi oleh penumpang lain.”

Sungguh analogi yang sederhana. Aku pun tertawa. “Ada-ada saja.”

“Intinya, jangan pernah berpikir kalau kamu akan selalu punya kesempatan untuk menempati sebuah posisi. Selagi bisa, jaga baik-baik kursimu.”

“Kursi, ya?”

“Dalam bisnis ini,” tambah Feri, “kursi adalah posisi di hati pembaca. Ingat, ketika mengeluarkan uang, pembeli akan menimbang-nimbang produk mana yang bakal bisa membuatnya puas. Kalau sudah begitu, urutan pun dibuat. Kalau kamu tidak bekerja lebih giat, kamu mungkin akan ditendang keluar dari daftar mereka. Kamu dulu memang pernah disukai, tapi itu bukan jaminan.”

“Apa aku masih punya kesempatan itu?” gumamku seorang diri.

“Tergantung. Cobalah lebih membaca kemauan pasar. Dari yang kulihat, ceritamu benar-benar jauh dari nuansa romantis. Ckckckck, tolong Rui, jangan tunjukkan kalau kamu adalah perempuan yang tidak pernah terlibat dalam hubungan percintaan.” Feri mulai lagi.

Aku beralih dari layar komputer, lalu menatap sinis pada pria konyol itu. “Aku rasa, Anda memang benar-benar sedang bosan sekarang.”

Dia tersenyum licik. “Jangan marah, Nak. Ini semua hanyalah nasihat dari seseorang yang sudah profesional dalam hal menulis dan percintaan.” Feri sengaja mengusap dan mencium cincin kawinnya.

Aku memang tidak pernah menang melawan Feri.

***

Sambil menatap lepas ke barisan rumah dalam gang, aku tidak berhenti membayangkan tulisan Lilian dan kekalutan si tokoh utama rasakan. Hasrat menggebu biasanya tidak akan membiarkan manusia mengeluh atas kesialannya. Walaupun kendala-kendala muncul untuk merusak keadaan, motivasi yang kuat tidak akan membiarkanmu menghela napas berat, dan sekalipun iya, itu hanya sebentar karena kamu merasa harus segera menuntaskan apa yang sudah kamu mulai.

Apa membunuh sang aktor adalah akhir yang bagus? Sayang sekali. Setiap membaca fiksi bergenre pencintaan, aku selalu berharap tokoh-tokohnya bisa hidup jauh dari tragedi.

Aku sampai di rumah, dan saat tanganku terjulur ke depan untuk membuka pintu pagar, seorang tamu sudah duduk di bangku teras. Itu Lilian. Ketika melihatku, dia sontak bangkit, lalu berjalan buru-buru ke arahku.

“Lian?”

“Kak Rui! Kenapa baru sampai? Bukankah jam kerjanya sudah selesai dari sejam yang lalu?” Lilian tidak malu-malu mengeluarkan nada suara setengah membentak.

Asal tahu saja, aku terlambat karena harus mengecek antrean naskah, dan novel milikmu adalah salah satunya.

“Ah, iya. Hari ini naskah yang harus dicek cukup banyak. Aku tidak mau menundanya. Ada apa? Tidak biasanya kamu bertamu ke rumah.”

Lilian menggaet lenganku. “Aku punya sesuatu yang luar biasa! Masalah ini harus dibicarakan langsung.”

“Berkaitan dengan naskah?” tanyaku sambil menuntunnya ke rumah.

“Sangat berkaitan.”

Aku segera mengeluarkan kunci rumah. Sekarang, aku tinggal sendirian karena ibu harus merawat nenek yang masih belum sehat.

“Kamu bisa duduk di sofa. Aku akan mengambilkan minuman dan makanan ringan dulu.”

Sambil memasukkan keripik kentang ke dalam wadah plastik, aku memperhatikan tingkah Lilian. Dia tampak bersemangat sekaligus cemas. Anak itu meremas-remas tangannya sambil melihat ke sekeliling ruang tamu.

Aku meletakkan camilan ke atas meja tamu. “Ada apa? Urusan naskah yang serius saja masih bisa membuatmu tetap tenang.”

Lilian menarik tanganku, lalu menggenggamnya erat. “Kak Rui tidak akan percaya pada yang akan aku katakan.”

“Kamu lucu.” Aku tidak bisa menahan tawa. “Kenapa tetap datang kalau kamu berpikir begitu?”

“Kak Rui tidak percaya pada hantu-hantu, ‘kan?”

“Eng- kalau melihatnya langsung, mungkin aku bisa berubah pikiran. Aku sudah bilang soal itu.” Aku ingin tahu, hal konyol apa lagi yang akan dia ceritakan.

Lilian melepas genggamannya, lalu berdiri, dan berjalan mondar-mandir. Dia sesekali merapikan kerah kemeja, mengatur poni dan rambut sepunggungnya, dan menepuk-nepuk pelan pipinya sendiri.

“Kamu bingung mau mulai dari mana, ya?” tebakku.

Dia menatapku dengan mata putus asa yang menggemaskan. “Iyaaa.” Dia kembali duduk di dekatku.

“Minumlah dulu.”

Di menurut saja.

“Kalau sudah tenang, bicaralah pelan-pelan.”

Dia menarik napas, lalu mulai bercerita. “Aku rasa harapanku sudah menjadi kenyataan.”

“Em? Bukankah itu sesuatu yang bagus?”

“Bisa iya, bisa tidak. Harapanku yang satu ini sangat unik, jadi aku tidak yakin apakah ini adalah hal baik atau bukan.”

“Jelaskan.”

“Kak Rui ingat pada harapanku untuk bisa melihat penampakan makhluk halus?”

“Iya. Lalu?”

Matanya melebar. “Aku rasa, aku sudah melihat hantu Mores Silkan!”

Hanya ada dua kemungkinan di sini. Dia yang sinting, atau akulah yang memiliki masalah pendengaran.

Bertemu dengan hantu Mores, katanya? Aku pernah hampir menjadi penulis cerita bertema arwah-arwah, dan aku rasa, aku tidak perlu lagi melanjutkan rencana itu. Aku tidak mau ikut-ikutan menjadi gila seperti anak ini.

“Aku tahu kamu adalah jenis penulis yang sangat-sangat-sangat menghayati hasil tulisanmu sendiri. Tapi, bukankah melihat hantu Mores terdengar agak berlebihan? Itu tidak baik, Lian.”

Dia menggeleng. “Tidak-tidak. Kalau Kak Rui pikir aku begini karena sudah kehilangan akal, itu salah! Aku masih waras.”

“Perlu kamu ketahui, mana ada orang gila yang menyebut dirinya gila.”

Merasa penjelasannya terdengar percuma, Lilian buru-buru membuka tas dan mengambil laptop. Dia meletakkan benda itu di depan kami. “Lihat ini.” Dia menunjukkan beberapa buah foto. “Gambar-gambar ini diambil dari tiga film berbeda. Semua film adalah produksi independen mahasiswa Universitas Negeri Hogan, kampus kota kita. Kampus yang sama tempat Mores berkuliah dulu.”

“Ah, iya. UNH sedang mengadakan lomba pembuatan film pendek lagi, bukan?”

“Tepat!”

“Kapan kamu mendapatkan ini?”

“Beberapa hari lalu, klip pendek untuk promosi seluruh karya peserta lomba dirilis di situs resmi kampus. Aku sempat melihat cuplikan tiap karya yang masuk sepuluh besar. Di dalam salah satu cuplikan, aku tidak sengaja melihat wajah Mores. Berbeda dari sistem lomba sebelumnya, karya-karya mereka sekarang diperjual-belikan. Aku datang ke kampus dua hari lalu, kemudian membeli semua karya yang berhasil masuk sepuluh besar.”

“Kenapa semuanya?”

“Itu dia masalahnya. Klip baru diunggah untuk menggantikan yang lama. Karena tidak memperhatikan judul, aku lupa karya mana yang sempat terlihat ada Mores di dalamnya. Selain itu, aku memang ingin melihat lebih banyak karya.”

“Jadi, dari sepuluh karya, wajah Mores muncul di tiga film?”

“Iya. Aku hampir mati terkejut.”

“Bisa jadi mereka bekerja sama dengan Mores sebelum dia meninggal,” tebakku.

Lilian mulai terlihat kesal. “Mores meninggal hampir dua bulan yang lalu, sedangkan film-film ini dikerjakan dalam waktu sebulan terakhir. Itu artinya, Mores meninggal sebelum jadwal pembuatan film dimulai.”

“Tunggu-tunggu. Apa kamu bisa menjelaskannya lagi? Otakku terlalu sibuk sekarang.” Informasi yang membludak membuat otakku kesulitan mencerna semuanya.

Lilian membuka kalender di ponselnya. “Baik. Aku menemui kak Rui sekitar satu bulan yang lalu, atau tepatnya tanggal 3 Desember. Pembuatan film dimulai tanggal 1 Desember, sementara Mores meninggal di pekan pertama bulan November. Apa dari sini kak Rui sudah bisa melihat arahnya?”

Iya, aku bisa melihatnya dengan sangat jelas.

_