Now Loading

Tiba di Rumah

Suasana mendadak gaduh. Beberapa orang tampak menangis. Lainnya teriak-teriak tanpa tujuan. Lamat-lamat Marni kembali mendengar suara-suara itu. Namun di mana? Sepertinya sangat jauh.  Ia melihat lorong putih- seperti kabut, yang sangat dalam. Perlahan Marni berjalan mengikuti lorong. Di ujung ada laut yang begitu tenang. Airnya berwarna hijau bercampur biru muda. Tidak ada siapa-siapa. Suasananya begitu sepi. Marni begitu ketakutan sehingga kembali masuk  ke lorong putih dan berlari sekencangnya. Ia berlari dan terus berlari. Tubuhnya terguncang dan…

“Bangun…sadar, Nduk!” bisik seorang perempuan dekat telinganya sambil menangis.

Marni pun terkejut. Kelopak matanya terbuka.  Ia bingung melihat begitu banyak wajah mengelilingi dirinya. Apakah aku sudah mati? Apakah sekarang aku di neraka?

“Di mana aku? Siapa kalian?” tanya Marni, lemah.

“Syukurlah kamu sudah sadar, Marni. Kamu di rumah, Nduk,” kata perempuan itu setengah histeris.

Marni menatap perempuan yang tengah memijit dahinya. Tercium bau minyak kayu putih.

“Saya emakmu, Marni,” ujar perempuan itu ketika Marni menatap kebingungan.

Marni memejamkan mata untuk mengumpulkan kesadarannya. “Mak” sepotong suara keluar dari bibir Marni sambil memeluk perempuan di depannya.

“Syukurlah… Marni sudah sadar,” ujar laki-laki yang memakai baju batik lusuh.

“Sekarang semua keluar. Mbah Bahuga sudah berkenan pergi,” timpal laki-laki berikat kepala. Orang kampung memanggilnya Mbah Diklik.  Sebutan mbah di sini tidak mengacu pada usianya, tetapi ketinggian ilmu batinnya. Diklik sudah membuktikan dirinya memiliki ilmu supranatural sehingga meski usianya baru  50-an tahun, semua warga kampung- termasuk yang usianya lebih tua, sepakat memanggilnya ‘mbah’.  

Mendengar perintah Mbah Diklik, spontan orang-orang yang berada dalam kamar keluar. Emak segera melepas baju Marni yang basah. Namun ia kebingungan ketika hendak memakaikan baju. Rasanya, semua baju yang ada tidak cocok. Akhirnya tubuh Marni hanya dibalut kain panjang.

“Sudah, tidur dulu. Besok pagi ke pasar, beli baju,” ujar Emak.

“Kok ada ramai-ramai, Mak?”

“Sebenarnya ini dalam rangka menyambut kedatanganmu. Tapi kamu kok malah nyemplung ke sungai. Kamu tidak minta ijin ketika melewati dalemnya Mbah Bahuga ya?”

Rumah Mbah Bahuga? Kening Marni berkerut karena sulit mencerna apa yang dikatakan Emak. Tempatnya saja aku tidak tahu, bagaimana mau minta ijin? Mengapa semua orang begitu takut pada Mbah Bahuga?

“Sudahlah, sekarang istirahat dulu. Luka di kepalamu sudah diobati oleh Mbah Diklik. Sudah tidak ada yang mengganggumu lagi. Jangan lupa air jahenya diminum biar badanmu hangat,” kata Emak sebelum berlalu. Meninggalkan Marni sendirian di kamar yang sempit dan pengap. Ditambah lagi ketatnya kain yang dipakai. Ia sampai kesulitan bernafas. Sebenarnya Marni ingin melepas namun diurungkan ketika melihat daun pintu kamarnya hanya berupa kain yang sudah robek di sana-sini. Marni tidak ingin menimbulkan kegaduhan lagi. Setelah minum air jahe hangat, ia kembali tidur.

Sementara di halaman rumah, di bawah tratag sederhana, sejumlah orang masih berkumpul. Namun saat itu konsentrasi mereka tertuju kepada pada empat orang yang tengah bercerita soal ritual yang baru saja dijalani.

“Tanya Darno, kita semua merasakan betul kehadiran Mbah Bahuga,” ujar Surip.

“Iya, kami mendengar suara lenguh kuda. Setelah itu hilang. Anehnya sajen yang kita taruh di atas cungkup lenyap. Tapi di antara kami tidak ada yang melihat kapan Mbah Bahuga mengambilnya,” timpal orang yang disebut Darno penuh semangat.

“Tidak lama setelah itu kita mendengar orang berteriak-teriak minta tolong. Ketika didekati malah nyebur ke sungai dan hanyut. Kami lalu mengejarnya. Rupanya dia pingsan. Beruntung tubuhnya nyangkut di batu besar. Kami sempat tidak mengenali makanya langsung dibawa ke sini. Eh, ternyata Marni, orang yang sedang kita tunggu,” sambung Surip.

Beberapa orang yang mendengar cerita itu, tampak takjub, terutama pada bagian ketika menggotong tubuh Marni.

“Jadi bagaimana acara lamarannya besok, Lik Pamo? Apakah tetap akan kita laksanakan?” tanya Darno seolah mengingatkan ada hal lain yang tidak kalah penting.

Sebagai tuan rumah, Pamo tidak banyak bicara. Konon kalau yang punya hajat banyak bicara, rejekinya akan menjauh. Itu sebabnya dalam adat Kampung Lembah Kematian, yang empunya hajat menyerahkan segala urusan kepada seseorang yang ditunjuk. Selanjutnya, tuan rumah hanya duduk di kursi khusus,  untuk menerima para tamu dan berbasa-basi sekedarnya.

Pamo pun sudah menyerahkan semua urusan terkait hajatan kepada Mbah Diklik, Namun Pamo merasa wajib menjawab pertanyaan Darno karena mandat yang diberikan kepada Mbah Diklik tidak sampai untuk mengambil keputusan penting. Perwakilan yang ditunjuk hanya mengatur tata caranya, bukan memutuskan jadi atau tidaknya sebuah acara.

“Harus ada keputusan segera karena..”

“Betul, Pamo,” timpal Mbah Diklik memotong ucapan Darno. Semua warga desa, baik tua maupun muda, dipanggil dengan namanya tanpa embel-embel seperti mas atau pak. “Kalau tetap akan dilanjutkan, besok pagi-pagi sekali saya harus ke pesarean Mbah Bahuga karena ada ubo rampe yang harus ditambah akibat kejadian malam ini.”

Meski tadi Mbah Diklik tidak ikut ritual, namun semua sesaji yang dibawa Surip dan teman-temannya sudah terlebih dahulu atas persetujuannya. Konon sesaji itu hanya bisa diterima setelah diberi mantra oleh Mbah Diklik. Pengantarnya cukup meletakkan ubo rampe di atas cungkup dan melakukan beberapa gerakan sebagai tanda hormat sambil membaca mantra pemberian Mbah Diklik.

Pamo berdehem beberapa kali sebelum menjawab, “Sepertinya acara harus tetap dilanjutkan. Tetapi mungkin lamaran saja dulu. Saya sendiri belum tahu pasti berapa hari Marni akan tinggal di kampung…”

“Lho, bukannya mau langsung dilanjutkan dengan pernikahan? potong Darno.