Now Loading

Tragedi 10 Tahun Silam

“Aku tidak tahu, tapi, mungkin saja akan percaya kalau aku bisa melihat langsung,” jawabku.

“Seorang teman pernah bilang, terkadang, pertemuan dengan arwah itu mungkin saja pernah terjadi pada kita, tapi kitalah yang tidak menyadarinya.”

Mengobrol dengan Jien Larga setelah dia dinyatakan meninggal beberapa bulan sebelumnya, apakah itu termasuk?

Tentu saja aku tidak akan melontarkan pertanyaan macam itu. Tidak peduli betapa hidupnya suasana di menit-menit percakapanku dengan Jien, aku tetap saja berpikir kalau semua itu hanyalah halusinasi. Saat itu, aku benar-benar masih dalam keadaan terpuruk.

“Benarkah?” pancingku berlagak hampir setuju.

Dia mengangguk. “Walaupun kedengarannya aneh, aku juga percaya kalau antara dimensi manusia dan para arwah, keduanya hanya dibatasi oleh sebuah tirai tipis. Jika beruntung, kedua spesies ini sangat mungkin untuk berpapasan.”

Spesies, dia bilang? Aku hampir saja tertawa. Ah, bukan karena aku meremehkannya. Hanya saja, aku agak terkejut dengan pola pikir Lilian soal manusia dan roh. Dia lucu juga. Di zaman serba canggih, memercayai mitos atau dongeng sebelum tidur adalah hal terakhir yang ingin kamu lakukan dan katakan dengan santai kepada orang lain. 

“Apa kamu pernah bertemu dengan hantu atau sejenisnya?” tanyaku. Mengobrol dengan Lilian ternyata lumayan menarik. Aku hampir melupakan secangkir latte di depanku. Kopi itu sudah kehilangan kepulan asap tipisnya.

Dia menggeleng. “Belum. Tapi, aku harap aku bisa mengalaminya sesekali. Kak Rui sendiri?”

“Belum. Terus, kalau memang bentuk mereka mirip dengan yang ada di dalam film-film horor, aku jelas memilih tidak mau. Visual mereka benar-benar merusak selera makan.”

Selera makan? Omong-kosong. Aku selalu tidak berani menggunakan selimut setelah menonton film horor. Semua orang tahu, mereka bisa menyusup kapan saja.

Lilian tertawa kecil. “Kak Rui benar juga.”

“Apa semua ini berkaitan dengan rencana menulismu?”

“Iya. Genre yang akan kugunakan adalah kombinasi dari supernatural dan percintaan. Cerita ini tentang seorang perempuan yang jatuh cinta pada seorang pria. Si perempuan sangat menyukai pria itu, tapi dia memiliki sebuah kendala besar.”

“Apa?”

Lilian sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. “Eng- itu semua karena si pria kemungkinan besar sudah tidak ada di dunia ini.”

“Kenapa begitu?” Aku mulai terbawa ke dalam ceritanya.

“Si perempuan adalah penyuka film bergenre apa pun, dan dia sudah menonton ratusan film. Dari beberapa film yang dia tonton, suatu hari, dia menyadari ada seorang aktor yang sering muncul. Awalnya, dia tidak begitu peduli karena sang aktor bukanlah tokoh utama. Namun lama-lama, dia akhirnya mulai melupakan pemeran utama, dan hanya fokus pada si aktor pendamping tersebut.”

“Cukup unik. Lalu, kenapa dia bisa berpikir kalau si aktor bisa saja sudah meninggal?”

Lilian benar-benar sudah menghayati cerita buatannya sendiri. Sekarang, rautnya mendadak muram. “Semua film, yang terdapat si aktor di dalamnya, adalah film lama. Mungkin rilis dua atau tiga puluh tahun sebelumnya. Si aktor pun sudah tua.”

“Tapi, bukan berarti dia sudah meninggal, bukan?”

“Di sinilah cerita mengalir, kak Rui. Sang tokoh perempuan akan melakukan pencarian dengan sepenuh hati. Dia tidak hanya akan mencari di internet, melainkan di dunia nyata juga. Tokoh ini akan berkelana sebentar.”

“Untuk mencari si aktor? Baik. Lalu, bagaimana akhirnya?”

Masih dengan raut muram, Lilian berkata, “Si tokoh perempuan akan mengetahui kalau sang aktor memang sudah meninggal.”

Aku jadi gemas. “Ayolah. Aku tidak yakin kamu akan membuat mereka berakhir begitu saja, bukan?”

Lilian tertawa kecil. “Tentu saja! Aku bahkan belum memasukkan unsur supernatural.”

Aku ikut mencondongkan tubuh  ke depan. “Iya-iya. Kamu benar. Jadi?”

“Pemeran utama kita masih suka menonton film. Beberapa waktu setelah mengakhiri masa pencarian, aku berpikir untuk menuliskan kalau si protagonis malah dikejutkan oleh kemunculan sang tokoh pria di setiap film yang dia lihat. Aku ingin membuat pembaca berpikir, ‘ah! orang yang dia cintai ternyata membalas perasaannya dengan cara selalu muncul di dalam semua film yang dia tonton. Kemunculan itu tidak hanya terjadi di film yang rilis di tahun-tahun saat sang aktor masih aktif, namun juga di film yang baru saja tayang, yaitu setelah kematiannya. Dengan kata lain, si aktor hadir di dalam film dalam bentuk roh. Iya, aku ingin mereka saling bertemu, walaupun tidak secara langsung.”

Sungguh penjelasan yang panjang. Lilian sepertinya akan menjadi mesin pencerita untuk topik yang sangat dia sukai.

Kalau saja sebelumnya belum pernah bertemu dengan roh Jien Larga, aku pasti langsung mengatakan kalau cerita yang dibuat Lilian hanyalah tentang kondisi mental sang tokoh yang terganggu. Romance-psychological? Aku pasti akan bilang bahwa dua genre inilah yang sebenarnya dia gunakan. Tetapi, ini semua hanya fiksi, jadi apa saja bisa terjadi di dalamnya.

“Menarik. Walaupun sedih, tapi justru semua itu akan menjadikannya unik dan layak ditulis. Kebetulan, sejauh ini aku belum pernah menemukan cerita dengan ide yang sama di komunitas. Selama cara penulisannya tepat, aku yakin, ceritamu ini akan disukai oleh pembaca.”

Lilian tersenyum lebar. “Syukurlah. Aku akan berusaha keras!”

“Kak Mirza menyerahkan tugas ini kepadaku dan kak Feri. Jadi kalau perlu sesuatu, kamu bisa langsung menghubungiku. Proyek novelmu akan dimulai pekan depan. Sekarang sudah hari Kamis, dan Senin depan kamu sudah harus menyetorkan rangkuman cerita. Kalau memungkinkan, bab awal seharusnya sempat ditayangkan di pekan ketiga bulan ini.”

“Baik, kak Rui.”

“Ah iya! Dari mana kamu mendapatkan ide cerita?”

Lilian semakin tampak bersemangat. Sepertinya, dia memang sedang menungguku menanyakan hal ini. “Apa kak Rui tahu seorang aktor film bernama Mores Silkan?”

“Tentu saja! Sepuluh tahun yang lalu, kalau tidak salah, dia menjadi terkenal karena mendapat penghargaan sebagai Aktor Film Pendek Terbaik, bukan? Dia mendadak menjadi kebanggaan kota kita karena dia lahir dan besar di sini.”

“Iya. Waktu itu, aku belum terlalu peduli soal film. Tapi, hampir dua tahun belakangan ini, aku bahkan mulai tertarik untuk menonton karya-karya mahasiswa di kota kita. Mores adalah pria yang tampan dan berbakat. Aku mencari-cari informasinya, lalu baru tahu kalau Mores juga menerima cukup banyak tawaran untuk menjadi pemain film skala besar setelah lulus kuliah –bukan sebagai pemeran utama. Setelah tahu soal itu, aku juga menonton film-filmnya.”

“Sebenarnya, aku juga terlambat mengikuti berita perlombaan tahunan itu. Mungkin, empat atau lima tahun setelah program dimulai.”

Sepuluh tahun yang lalu, kampus terbesar di kota ini mengadakan lomba pembuatan film pendek. Lomba saat itu adalah tahun keenam mereka. Di sepanjang sejarah acara tahunan tersebut, agenda sepuluh tahun silam adalah yang terbesar karena cakupan peserta tidak dibatasi oleh asal kampus. Hadiah lomba bahkan ikut disponsori oleh wali kota dan Dinas Pariwisata Provinsi.

“Sayang sekali,” kata Lilian, “kenapa acara seheboh itu malah dirusak oleh kasus kematian dua orang peserta? Aku dengar, salah seorang dari mereka adalah peserta dari kampus luar kota.”

“Perempuan-perempuan malang.” Tragedi itu adalah salah satu faktor yang membuatku tertarik melihat-lihat berita seputar lomba bergengsi tersebut.

“Ah, benar juga. Semua korban adalah perempuan. Setahuku, kedua korban meninggal beberapa saat setelah pesta penutupan,” tambah Lilian.

“Iya. Acara penyerahan penghargaan memang besar. Musibah kebakaran sangat mungkin terjadi. Kematian dua orang? Ckckck, acara itu jadi lebih tepat disebut sebagai agenda terkutuk.”

Kami merenung sesaat; menatap ke meja tanpa kata. Karena kedua korban adalah orang asing, agak sulit membayangkannya dengan perasaan empati. Namun begitu, aku tetap saja melihatnya sebagai situasi yang mengerikan.

“Oh iya, apa kak Rui tahu kalau Mores Silkan juga sudah meninggal?”

“Eh?”  

“Kejadiannya belum lama. Dia meninggal karena kecelakaan.”

“Kecelakaan?” ulangku.

Lilian mengangguk. “Sekitar setengah tahun yang lalu, kabarnya, Mores berhenti bermain film dan hanya fokus mengelola bisnis restoran-restorannya. Lalu sekitar tiga pekan lalu, dia pergi mendaki gunung bersama dua orang temannya. Dalam kegiatan itu, dia meninggal karena jatuh dari tebing. Pemakaman Mores dilakukan di kota ini, tempat dia lahir.”

“Wahh, mengejutkan! Aku memang jarang melihat berita belakangan ini. Apalagi dengan tumpukan pekerjaan yang tidak habis-habisnya itu.”

***

Setelah berbicara lama dengan Lilian, setiba di rumah, aku segera membaca banyak berita tentang Mores Silkan. Sesuai dugaanku, topik berita tidak hanya tentang kronologi kematiannya, namun juga setiap prestasi yang pernah dia capai. Selain itu, cerita kematian dua orang peserta perempuan beberapa tahun lalu juga dibahas sedikit sebagai bumbu.

Kemudian, dari sekian banyak artikel daring yang kubaca, ada sebuah website yang sangat menggangguku. Di laman situs miliknya, dia beranggapan kalau kematian perempuan-perempuan itu terkait dengan Mores Silkan. Secara tidak langsung, si pemilik situs bahkan yakin kalau Mores-lah yang menyebabkan kematian mereka.

Dia menuliskan, “Talenta atau bisnis. Kejayaan yang tidak akan pernah setara dengan dua nyawa.”

_