Now Loading

Pertemuan di Perahu Mahligai

Setelah beberapa kali hanya sempat mengagumi keindahan Masjid Omar Ali Syaifuddien dengan kubah emasnya yang berkilauan diterpa cahaya mentari di siang hari dan sinar lampu di malam hari. Akhirnya kami pun sempat mampir dan menunaikan sholat dzuhur di masjid itu. Kebetulan di hari Sabtu kita sedang off dan bisa sekedar jalan-jalan lebih lama.

Bang Zai, Azwar dan Eko, Kalau kalian mau makan siang di Yayasan, bisa pergi duluan, Saya mau melihat-lihat dan menikmati keindahan masjid ini dulu," ujar saya kepada 3 sobat saya selepas salat.

“Baiklah. Nggak ada cewek loh disini!,” tambah Azwar sambil berlari kecil melewati jembatan di atas laguna dan menuju keluar langsung ke food court di Yayasan.

“OK, sampai ketemu, saya gak lama kok," sahut saya lagi sambil berjalan perlahan menuju ke perahu batu yang ada di tengah laguna. Perahu yang selama ini saya nikmati keindahannya dari kejauhan. Perahu yang konon dibuat sebagai replika perahu Sultan Bolkiah, sultan kelima Brunei yang memerintah pada abad ke 16 dimana Brunei mencapai zaman keemasannya.

Nanti ditunggu di lantai 3 Yayasan ya!” teriak Bang Zai sambil mereka bertiga berjalan menjauh. Jemaah lain pun sudah mulai kembali ke rumah masing-masing.

Suasana di sekitar masjid mulai kian sepi di siang yang lumayan terik itu. Pandangan saya lemparkan ke air laguna yang membiru dan tampak bayang-bayang kubah masjid ikut beriak mengikuti gelombang kecil karena tiupan angin yang semilir.

Saya memandangi masjid dengan kekaguman dari relung atap perahu yang terbuat dari marmer. Keindahan yang sempurna tampak ada di depan mata. Perpaduan arsitektur Melayu, Islam dan Italia begitu menawan dan menyejukkan jiwa. Tidak percuma kalau masjid ini dinobatkan sebagai salah satu masjid paling indah di dunia.

Angin semilir terus bertiup, Tidak sengaja saya terus terduduk sambil setengah tertidur sambil menatap menara masjid di kejauhan. Sesekali saya lemparkan pandangan ke arah kanan dan melihat mal Yayasan Haji Hassanal Bolkiah serta Kampong Ayer di kejauhan. Inilah pusat kota Bandar Seri Begawan yang disebut bandar. Nampak sepi di Jumat siang itu.

"Bang, Bangun!" Sayup-sayup terdengar suara seorang perempuan dengan logat melayu yang kental. Saya terbangun dan terkaget-kaget ketika di hadapan saya berdiri seorang perempuan muda berusia sembilas belas atau dua puluh tahunan. Dengan baju kurung khas Melayu yang dipakai, wajahnya tampak sangat cantik menggoda. Wajahnya terlihat klasik dan matanya terlihat sayu.

Sejenak saya kaget dan kemudian memalingkan wajah melihat ke arah Yayasan serta jam tangan aya. Waktu sudah menunjukan pukul 1.45. Sudah hampir 30 menit saya di sana dan saya takut teman-teman menunggu lama.

"Siapa adik?” tanya saya sambil kembali membalikan pandangan ke arah masjid dimana gadis tadi sempat berdiri. Namun, Saya  kaget setengah mati karena  sekarang tidak ada siapa-siapa disana.

Saking terkejutnya saya mencubit tangan untuk meyakinkan saya tidak bermimpi.

“Ah mungkin tadi yang membangunkan saya adalah gadis dalam mimpi. Buktinya dia tidak ada di dunia nyata.”

Saya kemudian bergegas meninggalkan replika perahu, ke halaman masjid dan segera menuju ke food court di lantai 3 Yayasan.

Setibanya disana , sobat-sobat saya baru saja selesai makan sehingga saya cepat-cepat memesan makanan dan kemudian bercerita.

“Tadi saya tertidur diperahu dan dibangunan gadis cantik.

“Mana ceweknya? Kenapa gak diajak makan ke sini?” tanya Eko sambil tersenyum meledek. "Jangan-jangan kamu sudah kangen pacar di Jakarta sehingga mimpi ketemu gadis Brunei!.”

Benar!  Sumpah, tadi saya ketemu dan bukan mimpi, Tapi dia menghilang entah ke mana, jawabku lirih, seakan berkata kepada diri-sendiri.

Ayo kita balik ke hotel. Kita bisa istirahat sebentar sebelum sore nanti jalan-jalan ke Jerudong Park,” sambung Bang Zai lagi.

Kita berempat berjalan santai kembali ke hotel. Kali ini melewati jalan Sultan Omar Ali Syaifuddien dan hanya memandang masjid dan kubahnya di belakang Taman Sir Muda Omar Ali Syaifuddien di kejauhan.

Dalam hati saya masih penasaran. Kapan-kapan , aku akan kembali ke perahu mahligai dan mencari gadis itu, guman sayaGadis misterius yang telah mencuri hatiku.

 

Bersambung