Now Loading

Kembalinya Si Keris Brunei

Malam harinya, saya sejenak beristirahat di hotel sebelum akhirnya Mas Giri, teman Bang Zai mengirim SMS akan menjemput ke hotel untuk mengajak saya makan malam sekalian main ke rumahnya di Kampong Burong Pingai.  Memang sebelum berangkat kemarin saya juga sudah mengirim SMS ke Mas Giri bahwa saya akan datang ke Brunei. 

Sekitar jam 7.30, Mas Giri sudah datang dan mampir ke Hotel dengan mobil hitamnya yang gagah, saya  menunggu di lobi sehingga Mas Giri tidak usah parkir dan langsung naik saja serta ikut ke mana dia membawa.

“Kita ke Night Market saja,” kata Mas Giri sambil terus tancap gas menuju kawasan Gadong. Mobil kemudian meluncur lumayan cepat dan sekitar 10-15 menit kemudian, kami sudah duduk di salah satu gerai sambil menikmati berbagai jenis makanan favorit. Tidak lupa duren katok udang galah.

“Apa kabar dengan Bang Zai?” kata mas Giri membuka percakapan sambil kami makan.

“Baik-baik saja.” Kata saya setengah basa-basi. Saya juga tidak mau terlalu banyak bercerita tentang hubungan Bang Zai dengan Auntie Hamidah.  Apalagi istri Mas Giri, yaitu Mbak Titiek juga teman Auntie Hamidah. 

Setelah sejenak bercakap-cakap, Bang Zai mengajak saya kembali naik mobil ke rumahnya. Sekitar pukul 9 malam, kami tiba di Kampong Burong Pingai. Rupanya Mbak Titiek sudah siap menunggu. Tidak lama kemudian, Mbok Minah juga menyiapkan kopi hangat lengkap dengan hidangan goreng pisang dan kacang rebus.

“Wah, tidak usah repot-repot,” kata saya sambil menyerahkan bingkisan kecil untuk Sofia dan Sarah, anak-anak Mas Giri yang sedang bermain di ruang tengah sambil nonton TV.

Kami bertiga berbincang-bincang di beranda rumah sambil berbicara banyak hal: baik tentang kejadian di tanah air maupun rencana pernikahan Laila dengan Muallif. Rupanya walau tidak dirayakan, semua orang sudah tahu.

Saya sendiri bercerita bahwa datang ke Brunei untuk sekedar bertemu dengan Laila. Tentu saja saya tidak bisa menceritakan apa rencana Laila bahwa masih ada kesempatan untuk memperjuangkan cinta kami.

Sekitar pukul 11 malam, saya pamit dan kemudian diantar kembali oleh Bang Zai ke hotel di Jalan Pemancha.  Sesampainya di hotel, saya mengucapkan banyak terima kasih atas kepada Bang Zai dan keluarga atas dukungannya kepada saya dan sekaligus berharap dapat berjumpa lagi di lain waktu.

Ketika sampai di kamar, ternyata ada surat dari resepsionis bahwa saya mendapat kiriman paket. Saya segera kembali ke resepsionis untuk mengambil paket tersebut. Ternyata sebuah paket yang dibungkus bagai hadiah khusus dan sebuah surat kecil yang saya sudah tahu pengirimnya.

Di kamar saya segera membuka isi paket dan membaca suratnya:

Bang Asep yang tersayang,

Terima kasih sudah sejak sore hingga petang tadi sudah menemani Laila jalan-jalan di Sungai Brunei hingga ziarah ke Makam Sultan Bolkiah di Kota Batu.

Jawaban untuk permintaan kita sudah menampakkan hasil. Keris Brunei yang hilang dulu sudah kembali ke Laila dan karena nya saya kembalikan buat Abang.

Simpan keris ini baik-baik. Kita tunggu berita besok yang mungkin akan memberi harapan besar akan keberlangsungan hubungan kita.

Tunggu Laila di Lapangan Terbang sebelum abang berangkat esok sore.

Laila

Saya melihat dengan saksama Keris Brunei tersebut. Ternyata memang keris yang hilang di Singapura. Saya masih bisa melihat tanda lekuk dan goresan di sarungnya yang tidak mungkin dibuat sama bila Laila membeli yang baru.

Saya sangat senang malam itu mendapatkan kembali Keris yang hilang. Seakan mendapat kembali cinta yang sirna.

Bersambung