Now Loading

Bab 49

Reykjavik, 64° 8′ 0″ N, 21° 56′ 0″ W
Gallery Fiskur


Cecilia dan Akiko memandangi kepiting rebus di meja mereka. Teringat betapa dahsyatnya perjuangan para nelayan untuk memperoleh kepiting dengan harga yang cukup mahal ini.

Mereka sedang menunggu Andalas. Komunikasi terakhir, Andalas telah mendarat 1 jam yang lalu dan sedang menuju ke Gallery Fiskur.

Cecilia meraih X-One dari saku bajunya. Ada pesan dari Cathy.

Posisi Hantaa 05 saat ini terlihat di Laut Barents. Koordinat terakhir yang tertangkap adalah 75° 22′ 44″ N, 37° 18′ 00″ E .

Cecilia menggeser X-One di depan Akiko yang sedang asik menarik kaki kepiting. Akiko mengangguk lalu kembali asik dengan kepiting.

Pengunjung Gallery Fiskur selalu ramai. Jarang sekali ada kursi kosong. Para penyuka seafood lebih senang menghabiskan hari liburnya dengan menikmati kepiting Alaska atau udang besar Laut Barents selain ikan-ikan lezat yang hanya bisa dihabiskan oleh 4 orang dalam setiap porsinya.

Pintu restoran terbuka. 4 orang bertopeng aneh masuk sambil menenteng AK 47. Salah satunya menembakkan senjatanya ke atas. Beberapa letusan keras itu otomatis mengejutkan seluruh pengunjung. Terdengar teriakan-teriakan ketakutan dari setiap sudut restoran.

"Tetap duduk di tempat masing-masing! Kami tidak akan segan menembak bagi yang membuat gerakan sekecil apapun!” Ancaman itu membuat beberapa orang yang panik dan hendak berlari terpaksa mengurungkan niatnya. Akiko pelan-pelan memasukkan tangannya ke dalam saku jaket.

Keempat orang itu berpencar. 1 orang berjaga di pintu depan, 1 orang masuk ke dapur dan menjaga pintu belakang, sedangkan 2 orang mulai berjalan berkeliling. Sepertinya ada misi khusus bagi mereka karena satu persatu orang disuruh mengangkat mukanya begitu mereka mendekati meja.

Saat tiba di meja Cecilia dan Akiko dan begitu melihat wajah 2 wanita itu, salah seorang berteriak keras.

"Ini mereka!” Salah seorang membidikkan moncong senjata untuk menembak.

Akiko bergerak cepat. Tangannya yang sedari tadi ada di dalam saku jaket terayun. Kaiken melayang dengan kecepatan tinggi dan menancap di tenggorokan orang yang hendak menembak.

Terdengar tembakan beruntun yang melubangi atap saat orang itu terhuyung jatuh sambil menekan pelatuk senjata. Temannya yang kaget bukan main mengarahkan senjata kepada Akiko. Putri Yakuza itu melemparkan piring kepiting di depannya. Orang itu agak jauh dari jangkauan. Satu-satunya cara adalah memanfaatkan barang-barang yang ada di dekatnya.

Orang itu mengaduh sambil tak kuasa lagi memegang senapan. Piring yang berat itu telak mengenai mukanya. Temannya yang berjaga di pintu mengokang senjata ke arah Akiko yang dalam posisi berdiri.

Namun sebuah dobrakan di pintu membuat tubuhnya terjengkang tak bisa menahan keseimbangan. Disusul masuknya seseorang yang segera saja mendaratkan pukulan ke selangkangan dan leher. Penyerang itu pingsan saat itu juga.

Andalas merebut AK 47 dan melemparkannya ke Akiko yang menghajar penyerang di depannya dengan terjangan kaki. Andalas langsung berlari dan mengendapkan tubuhnya di balik pintu masuk dapur.

Akiko menggenggam erat AK 47 dan menyelinap keluar restoran. Keduanya hendak menyergap orang terakhir yang tadi masuk dapur dan berjaga di pintu keluar belakang.

Cecilia yang sedari tadi terpaku di tempat duduknya, segera berdiri dan berjalan lalu meraba pergelangan tangan penyerang kedua dan ketiga. Masih hidup. Tapi melihat kondisinya, kedua orang itu akan pingsan cukup lama.

Andalas yang sedang menunggu penyerang keempat keluar dari dapur hanya mengangkat bahu saat Akiko masuk dari pintu depan dan menyeret seseorang yang mengaduh-aduh dengan lengan tertelikung di belakang punggung. Berontak sedikit saja maka kedua lengannya akan patah. Andalas menghampiri. Akiko semakin tangguh saja.

Cecilia meletakkan 200 Euro di meja dan berbicara dengan manajer restoran yang datang cepat begitu dia memanggilnya.

Cecilia keluar dari restoran dengan Akiko dan Andalas mengiringi dari belakang. Penyerang keempat itu diambil alih Andalas. Akiko juga dengan santainya telah mencabut Kaikennya dari leher penyerang pertama. Darah langsung mengucur dari penyerang yang telah tewas itu dan menggenangi lantai. Akiko memberi isyarat maaf kepada manajer restoran yang masih pucat mukanya.

Mobil yang mereka tumpangi dan dikemudikan Cecilia melesat meninggalkan restoran. Tepat saat beberapa mobil polisi datang dari arah berlawanan.

"Uh, darimana datangnya penyerang itu? Islandia negara super damai. Jarang sekali ada kekerasan di sini.” Akiko mengeluh pendek.

Andalas tidak merespon dari belakang. Dia sedang memborgol tawanan. Cecilia juga tidak. Matanya sedang fokus ke jalanan sembari sering melihat kaca spion. Dia takut polisi mengejar mereka. Islandia bukan negara dengan jumlah jalanan yang banyak. Mudah saja bagi mereka untuk tertangkap.

Penyerang keempat itu masih muda. Tidak lebih dari 30 tahun. Pandang matanya nampak nanar. Sungguh tidak terduga baginya tertangkap oleh target yang sepertinya mudah untuk dibereskan. 2 orang wanita yang terlihat lemah namun salah satunya malah bisa membekuk dirinya dengan mudah.

Andalas memeriksa database Si Konsultan. Wajah pemuda itu tidak muncul. Berarti pemuda ini anggota baru atau bukan kelompok pembunuh bayaran. Database Si Konsultan cukup lengkap. Mencakup perorangan dan organisasi.

Andalas sengaja membiarkan Akiko duduk di depan. Dia takut Akiko akan coba mengorek keterangan dari pemuda ini jika duduk di belakang. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi. Semenjak terus menerus berada dalam bahaya, Akiko sekarang lebih banyak memunculkan sikap Yakuzanya dibanding dirinya yang seorang dokter.

Andalas berbisik lirih di telinga pemuda bertampang Asia Tengah itu. Kelihatannya dari India, Bangladesh atau Pakistan.

"Kau tahu, wanita yang kau incar tadi dengan mudah akan membuatmu bicara. Dia Yakuza. Kau pasti pernah mendengar bagaimana cara mereka mengorek keterangan, bukan?”

Pemuda mengeluh dalam hatinya. Pantas saja wanita itu sangat tangguh. Seharusnya mereka mengumpulkan informasi detail terlebih dahulu. Siapa sangka mereka diperintahkan memburu dan membunuh anggota Yakuza.

Tapi organisasi tempatnya bernaung hanya memenuhi perintah dari OWC. Mereka berempat yang dikirim melakukan perburuan. Dan mereka gagal. Sangat gagal.

Melihat pemuda itu diam termangu dengan raut muka yang makin lama makin pucat, Andalas tahu umpannya termakan. Tinggal satu ancaman lagi pemuda itu pasti bicara.

"Aku tahu kau dari India. Kau anggota organisasi apa? Dan siapa yang menyuruh kalian?”

Pemuda itu merasa nada dingin dari lelaki di sebelahnya ini menyusup masuk ke tengkuknya. Lelaki ini sebenarnya lebih berbahaya dari wanita Jepang itu. Dia lebih takut kepada lelaki ini.

"Benar. Aku dari India. Aku anggota Maois India. Organisasi kami sekarang di bawah OWC. Perintah memburu 2 wanita itu dari datang dari OWC.”

Andalas mengangguk puas. Ada 1 hal yang masih mengganjal mengenai organisasi baru itu.

"Jadi di mana sebenarnya markas OWC itu?”

Pemuda itu menatap mata Andalas yang menusuk setajam pisau. Uhh, lelaki ini pasti jauh lebih kejam dari kelihatannya.

Jawaban pemuda itu luar biasa mengejutkan bagi Andalas dan juga Akiko yang sedari tadi menguping interogasi aneh ala Andalas yang menjelekkan namanya. Termasuk Cecilia yang sedang memasuki sebuah gang kecil dan memarkir mobil sewaannya di sana.

"Zurich.”

* * * * *********