Now Loading

Mohon Restu di Kota Batu

Setelah membeli suvenir di Jl. Mc Arthur saya segera kembali ke hotel. Istirahat sebentar dan kemudian berangkat jalan kaki ke Masjid Perahu sekitar 15 menit sebelum waktu Asar.

Saya berjalan santai dan menikmati suasana sepi yang kali ini benar-benar sepi. Biasanya saya ke sini bersama teman-teman, kali ini saya benar sendiri. Tetapi suasana siang di Bandar Seri Begawan tetap membuat hati dan jiwa merasa senang. Apalagi sebentar lagi akan bertemu dengan pujaan jiwa, Laila.

Azan belum menggema ketika saya sampai di halaman masjid. Masjid juga masih sepi. Saya langkahkan kaki dahulu ke perahu mahligai. Melihat-dan mengamati tempat yang sangat indah dan memiliki banyak kenangan. Di sinilah saya pertama kali bertemu dengan Laila, atau lebih tepatnya dengan bayang-bayang gadis itu.

Namun, tidak lama lagi, di sini pula saya akan bertemu dengannya lagi. Dan mendiskusikan keberlangsungan hubungan kami berdua. Sepotong cinta yang penuh tantangan dan perjuangan untuk dapat direguk bersama. Saya sendiri belum tahu bagaimana akhirnya, tetapi pantang bagi saya untuk menyerah.

Tidak lama kemudian, azan Asar bergema. Saya segera pergi ke masjid dan menunaikan salat berjamaah. Seperti biasa di Brunei, salat Asar juga tidak terlalu ramai. Namun kalau salat Jumat, masjid ini selalu penuh. Saya selalu dapat menikmati keindahan interior masjid dengan karpet hijaunya yang indah.

Selesai salat, saya berjalan kembali ke perahu mahligai. Masih kosong tidak ada siapa pun. Apakah Laila lupa? Ah mungkin dia hanya terlambat. Saya duduk di tepian perahu sambil memandang ke langit kota BSB dan kubah emas masjid nan indah ini. Pikiran saya melayang ke akhir tahun lalu ketika pertama kali ke sini. Terbayang akan petualangan bersama Laila naik perahu di Sungai Brunei, pertemuan di Kota Batu dan banyak tempat lain. Semuanya merupakan kenangan yang manis.

“Bang Asep,” tiba-tiba saja suara yang amat saya kenal memanggil. Dan Laila pun sudah berdiri di samping saya. Dia kemudian duduk di samping saya dan menanyakan kabar saya selama kita tidak bertemu. Dia juga mengucapkan turut bela sungkawa atas hilangnya Wawan saat kerusuhan di Jakarta bulan lalu.

Saya hanya mengucapkan kabar baik sambil berterima kasih atas ucapan bela sungkawa dari Laila. Dalam hati buat apa bertanya kalau Laila sudah tahu semuanya. Padahal saya tidak pernah bercerita tentang hal ini. Lalu saya yang gentian bertanya tentang apa saja yang sudah terjadi sejak kepulangan Laila ke Brunei. Pada hari yang sama saya pulang ke Jakarta bulan lalu.

“Baiklah, ayo kita ke dermaga di Waterfront dan naik perahu, nanti saya ceritakan sambil jalan,” jawab Laila.

Kami berdua berjalan beriringan meninggalkan Perahu Mahligai. Melewati jalan kecil di sepanjang Kampong Sungai Kedayan, Melihat banyak rumah-rumah kayu tua yang sebagian tampak rusak karena ditinggal penghuninya.

Sesampainya di dermaga, kami naik perahu dan Laila meminta tukang perahu untuk mengantar kami ke Kota Batu. Di perahu ini Laila bercerita bahwa dia sudah berusaha untuk menunda pernikahan sesuai janji Muallif yang akan menunggu sampai studinya selesai di Singapura.

Namun usaha ini gagal. Melalui ayah Laila, Muallif berhasil mempercepat pernikahan dan Laila harus melupakan studi di Singapura. Singkatnya minggu depan ini pernikahan harus berlangsung. Namun harapan itu ada ketika Irma dan Noor minggu lalu memperkenalkan Laila dengan seorang perempuan Tionghoa tua yang tinggal di Jalan Mc Arthur. Laila tidak mau menceritakan secara rinci. Dia hanya bilang ikuti saja prosesnya dan perjalanan ke Kota Batu ini merupakan salah satu proses yang harus dilalui bersama oleh Laila dan saya untuk menggagalkan rencana pernikahan minggu depan.

Perahu berhenti di dermaga di dekat Museum Teknologi Melayu, Kami berdua turun dan Laila meminta abang tukang perahu untuk menunggu.

“Kita akan ke Brunei Museum yang dulu?” tanya saya penuh penasaran.

“Bukan, ikuti Laila saja,” jawab Laila singkat.

Senja itu, suasana di tepian sungai Brunei di Kota Batu sangat sepi. Tidak ada satu pun manusia kecuali kami berdua. Kami menapaki jalan kecil menuju Situs Arkeologi Kota Batu dan akhirnya tiba di sebuah kompleks pemakaman.

"Ini adalah Mausoleum Sultan Bolkiah ke V,” kata Laila.

Kami masuk ke dalam cungkup dan mulai berdoa. Nisan Sultan Bolkiah kelima sangat gagah dengan ukiran khas Jawa. Sementara masih di dalam cungkup ada sebuah nisan kecil yang merupakan pusara Putri Laila Menchanai. Putri ini adalah istri kesayangan Sultan yang menurut legenda masih keturunan Sultan Sulu.

Saya hanya diam dan dengan khidmat berdoa bersama Laila. Sekitar 10 menit kami bersimpuh di tepi pusara. Tidak ada siapa-siapa di mausoleum ini. Sementara di sekitarnya banyak nisan dan pusara yang mungkin milik keluarga kerajaan.

Selesai berdoa, Laila mengajak saya kembali ke perahu. Suasana di kompleks pemakaman tampak lebih mencekam. Matahari senja masih menampakkan sinarnya. Kalau saja sudah magrib, tentunya suasana di sini sangat seram. Hanya pepohonan dan jalan setapak yang ada menemani. Dan saya lega ketika sudah kembali di perahu.

Di perahu, barulah Laila bercerita, bahwa kita berdua baru saja minta restu kepada Sultan Bolkiah. Semoga beliau merestui hubungan kita dan bisa menggagalkan rencana Muallif. Dalam perjalanan pulang itu, kami juga minta perahu berhenti di Brunei Arts and Handicraft Centre.

“Kita harus makan Ambuyat lagi untuk mempererat hubungan kita,” kata Laila memperjelas alasan mengapa mampir ke sini lagi.

Selesai makan, kami berdua kembali ke dermaga dan naik perahu menuju Waterfront. Di sini saya turun, namun Laila berkata ingin langsung pulang ke Kampong Ayer.

“Tunggu kejutan malam nanti dan kita akan tahu hasilnya.” Demikian kata Laila ketika perahunya mulai bergerak meninggalkan dermaga.

Saya kemudian berjalan santai kembali menuju hotel di senja hari di Bandar Seri Begawan. Banyak hal dan kejadian yang tidak saya mengerti. Namun biar lah nasib menentukan jalan dan kisah cinta saya. Sepanjang saya menikmatinya, akan terus saya jalani.

Azan Magrib menggema dari masjid Perahu.

Bersambung