Now Loading

Perjuangan Cinta

Sesuai tekad untuk memperjuangkan cinta bagi Laila, saya berangkat ke Brunei pada Senin, 8 Juni 1998. Siang hari, saya sudah mendarat di Lapangan Terbang Antar Bangsa Brunei di kawasan Berakas. Kali ini tidak ada yang menjemput saya. Namun saya sudah tahu ada bus no. 38 menuju Bandar, saya lebih baik menunggu sebentar karena naik bus ongkosnya hanya 1 Ringgit dan langsung sampai ke terminal di Jalan Cator dalam waktu sekitar 30 menit saja.

Kebetulan kali ini saya menginap kembali di Brunei Hotel yang letaknya sangat tekat dari Terminal. Ah, setelah sebulan lebih meninggalkan kota ini, terasa hati sangat senang melihat kembali bangunan-bangunan yang sudah akrab di pandangan mata di sekitar Bandar. Hotel Sheraton, Royal Regalia, Lapau, dan tentunya Masjid Omar Ali Syaifuddin dengan kubahnya yang selalu berkilau.

“Ini ada titipan surat,” demikian kata resepsionis di Brunei Hotel ketika saya cek ini. Melihat amplopnya saya sudah tahu bahwa surat ini berasal dari Laila. Saya juga tidak usah heran kalau Laila tahu bahwa saya akan datang hari ini dan menginap di hotel ini. Laila memang mempunyai mata batin yang bisa melihat sesuatu yang tidak kasat mata. Atau mungkin ada orang lain yang membantu Laila untuk mengetahui hal ini.

“Bilik 319,” Resepsionis memberi saya kunci sambil berkata bahwa makan pagi di resto lantai dasar dari pukul 6-10 pagi. Saya segera naik lift dan kemudian merebahkan tubuh di tempat tidur lalu membuka surat dari Laila:

Bang Asep yang tersayang,

Saya tahu bahwa Abang pasti datang. Seminggu lagi Laila akan menikah. Namun kita berdua masih punya kesempatan untuk menggagalkan rencana ini.

Temui Laila sore ini selepas Ashar di perahu mahligai.

Salam Rindu,

BSB, 8 Juni 1998

Baru saja saya memasukkan surat itu kembali ke dalam amplopnya, tiba-tiba saja bunyi khusus SMS terdengar dari hand phone saya. Mula-mula saya mengira dari Laila, namun setelah saya baca, SMS itu ternyata berasal dari Mbak Vera, sekretaris bos di Jakarta.

Kang Asep, tadi saya telepon Bang Zai di Office di Singapura. Ternyata Kang Asep libur dan pergi ke Brunei. Jangan lupa T Shirt seperti dulu dan juga gantungan kunci. Yang dulu belum saya pakai sudah diambil adik saya.”

Saya melirik jam tangan dan waktu baru menunjukkan sekitar pukul 13. Baiklah, saya masih punya banyak waktu sebelum tugas utama bertemu Laila di Perahu Mahligai selepas Asar.  Saya segera ke kamar mandi untuk wudu dan kemudian salat Zuhur sejenak di hotel. Hati menjadi kian tenang dan mantap untuk menyongsong apa yang akan terjadi nanti.

Dengan mantap saya berjalan meninggalkan hotel dan kemudian mampir sebentar di resto di sudut jalan Sultan Omar Ali Syaifuddin untuk menikmati Nasi Katok favorit saya. Selepas makan, baru saya menuju jalan Mc Arthur untuk membeli sedikit suvenir titipan Mbak Vera.

Saya mampir di toko suvenir kecil di Jalan Mc Arthur dan dengan cepat membeli beberapa pesanan Mbak Vera. Ketika keluar toko dan ingin kembali ke hotel lewat Lorong Bebatik, tiba-tiba saja sepatu dan kaki saya diendus oleh kucing hitam yang cantik. Saya ingat kucing ini dulu pernah melakukan hal yang sama.

Rasa penasaran membawa saya mengikuti kucing hitam itu. Menuju ke sebuah toko obat Cina yang sama. Saya ikut saja dan seperti sudah saya duga, perempuan tua yang sama sudah menyambut saya.

“Sila duduk Nak, siapa namanya? maaf saya lupa,” kata perempuan tua itu sambil menuangkan the hangat ke dalam cawan bergambar bunga-bunga.

“Asep,” kata saya sambil tetap penasaran akan hal apa yang akan diceritakan oleh perempuan ini.

“Nak Asep, benarlah pesan saya dulu bahwa kamu akan sering kembali ke Brunei. Ini akan menjadi kampung kamu yang kedua,” kata perempuan itu.

Saya hanya mengangguk karena ini hanya merupakan pengulangan yang dulu pernah dikatakan perempuan itu.

Namun perempuan itu kemudian berkata dengan lebih serius bahwa saya harus memperjuangkan cinta saya. Perempuan itu sendiri sangat mendukung agar semuanya berjalan dengan baik sesuai rencana. Saya sendiri bingung bagaimana perempuan itu tahu tujuan kunjungan saya ke Brunei kali ini.

Setelah selesai menghabiskan the hangat itu, saya mohon pamit. Namun tiba-tiba saja perempuan itu memberikan sebuah bungkusan kain kecil berwarna merah. Ukurannya hanya sebesar korek api. Dia tidak berkata apa-apa dan hanya tersenyum.

“Simpanlah benda ini, Ia akan bisa melindungi kamu dalam mengejar dan memperjuangkan cinta.”

Saya mengambil benda itu dan menaruhnya di dalam tas plastik belanjaan. Namun perempuan itu minta agar benda yang bagai jimat itu saya simpan di dalam kantung atau bisa juga dikalungkan karena memang ada tali dari kain yang membuat benda itu sebagai kalung.

Setelah mengucapkan terima kasih, saya pamit dan segera kembali ke hotel.

Bersambung