Now Loading

Bab 48

Mogadishu, 2° 2′ 0″ N, 45° 20′ 0″ E
Old Mogadishu


Rem mobil pick up yang dimodifikasi menjadi kendaraan militer itu berdecit-decit saat mulai memasuki kawasan Old Mogadishu. Area inti kekuasaan Malaa`ig Mogadishu. Di daerah ini Abdelahi adalah raja. Tidak tersentuh. Bahkan Shaydaan Mogadishu tidak akan berani datang ke sini.

Andalas membetulkan penutup mukanya. Dia sedang berada di area yang sangat berbahaya. Sekali saja ketahuan dia bukan salah satu dari mereka, tidak ada siapapun yang bisa menyelamatkannya.

Abdelahi turun dari mobil sambil menyumpah-nyumpah. Biasanya Shaydaan Mogadishu tidak seberani itu. Mereka sangat menghormati Abdelahi. Tepatnya, mereka sangat takut kepada Abdelahi.

Abdelahi sama sekali tidak menduga bahwa keberanian Shaydaan Mogadhisu sebenarnya sangat beralasan. Mereka adalah bagian dari One World Consortium sekarang. Jadi kenapa harus takut lagi terhadap Abdelahi dan Malaa`ig Mogadishu. Di belakang mereka sekarang berdiri raksasa yang siap melahap siapa saja.

Andalas menilai situasi. Markas Malaa`ig Mogadishu berupa sebuah bangunan tua yang kokoh dan besar. Banyak sekali penjaga bersenjata di setiap sudutnya. Akan sulit melarikan diri dari tempat ini tanpa cedera atau bahkan mati.

Dia harus menahan diri untuk tidak bertindak gegabah. Paling penting sekarang adalah mengetahui posisi Sang Eksekutor. Selanjutnya dia akan melihat situasi. X-One di sakunya bergetar. Pasti ada berita penting dari Cecilia atau Akiko. Tapi saat ini tidak mungkin dia membukanya.

Abdelahi muncul kembali dari dalam rumah. Masih dengan wajah memerah karena marah. Di sampingnya seorang pria Kaukasian bertubuh tinggi kurus berkacamata berdiri dengan wajah tenang. Raut muka Andalas berubah. Sang Eksekutor ada di sini!

Andalas nyaris mengokang AK 47 di tangannya. Tapi kemudian mengurungkan niatnya. Ini bunuh diri dengan cara konyol jika dilakukan.

Andalas mendekati posisi Abdelahi dan Sang Eksekutor seolah sebagai anggota pasukan yang sangat taat dan sedang berpatroli melindungi mereka.

"Gila! Aku masih tak habis pikir mereka berani menyerang secara terang-terangan di depan umum. Benar-benar setan!”

Abdelahi masih terlihat geram.

"Tentu mereka berani sekarang. One World Consortium ada di belakang mereka.”

Sang Eksekutor menanggapi dengan santai.

"Kenapa kita tidak ikut OWC, sir?”Abdelahi menatap orang yang pintar sekali memicu peperangan di depannya.

"Tentu tidak! Kita lebih daripada mereka. Kau harus tahu, kekuatan mereka bahkan tak sampai separuh kekuatan Organisasi. Meskipun nampaknya jumlah mereka sangat besar dan ada di mana-mana.”Sang Eksekutor balas menatap. Abdelahi merasa tengkuknya dingin. Luar biasa sekali pengaruh orang ini. Entah sebesar apalagi orang-orang yang berada di belakangnya dan mengendalikan Organisasi.

"Jadi apa rencana kami selanjutnya sir? Apakah ada yang spesifik atau hanya seperti biasa yang kami lakukan?”

Sang Eksekutor memandang keluar halaman. Melihat para pasukan Malaa`ig Mogadishu berpatroli di mana-mana. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya tapi dia tidak tahu apakah itu buruk atau tidak. Anak buah Abdelahi banyak dan terlatih. Tapi tidak terlalu disiplin.

"Kau tetap lakukan apa yang selama ini kau lakukan. Bajak kapal-kapal besar dan mintalah tebusan setinggi-tingginya. Jangan sembarangan membunuh kecuali itu sangat tidak bisa dihindari.”

Sang Eksekutor melihat seorang anak buah Abdelahi yang bertugas di sudut teras diam tak bergerak sambil menatap jalanan dengan waspada. Hmm, ada juga satu dua yang punya gaya militer bagus. Tidak amburadul.

"Intinya teruslah timbulkan kekacauan di semenanjung ini. Sederhana bukan? Dan kau sangat menyukainya aku rasa.”

Abdelahi tertawa lebar. Kacau adalah nama tengahnya.

"Setelah ini anda mau kemana, sir? Apa yang bisa saya bantu selama di sini?”

"Besok aku harus terbang ke Qandahar. Ada yang harus kukerjakan di sana. Setelah itu aku mesti ke Kolombia.”Sang Eksekutor merasa ada sesuatu yang janggal di sekitar sini. Entah apa. Firasatnya mengatakan itu buruk.

Abdelahi mengekor di belakang Sang Eksekutor saat tangan kanan Organisasi itu masuk ke dalam rumah. Andalas membidikkan chip shooter dari jam tangannya. Setelah itu buru-buru menyelinap pergi melalui pintu kecil di samping rumah yang tembus langsung ke jalanan dan dijaga oleh 4 orang.

Andalas melambaikan tangan dengan ringan dan mengatakan akan mencari sesuatu yang disuruh oleh Abdelahi. 4 orang penjaga itu tidak menaruh perhatian dan terus saja berbicara sesama mereka.

Sesampainya di luar, Andalas melihat sebuah sepeda angin tergeletak. Tanpa pikir panjang Andalas menaikinya dan pergi menjauh dari markas besar Malaa`ig Mogadishu. Sang Eksekutor tadi kelihatannya mulai curiga kepadanya. Ah, aku terlalu ceroboh.

Andalas menggeletakkan lagi sepeda angin dan mencegat taksi yang lewat. Bandara. Ucapnya singkat. Aku harus mendahului ke Qandahar agar bisa mengintainya mulai dari bandara besok. Sang Eksekutor mudah sekali memobilisasi diri karena pesawat jet Gulf Streamnya selalu tersedia. Kalau dia besok bergerak berarti aku harus hari ini.

Andalas teringat pada X-One yang sedari tadi belum dibukanya. Dari Cecilia.

Andalas pergilah temui kami di Reykjavik. Ada pembagian tugas yang harus kau ketahui.

Sambil menjawab ok Andalas mengerutkan keningnya. Kenapa tidak langsung disampaikan lewat X-One saja? Kenapa dia harus terbang ribuan mil untuk informasi yang bisa disampaikan saat ini juga?

Andalas teringat sesuatu. Diperiksanya kembali X-One. Ah ini X-One Akiko. Kenapa harus pakai nama Cecilia?

Lelaki yang jarang sekali tersenyum itu melebarkan sudut mulutnya. Tipis.

Untunglah dia sudah tahu rute mana lagi yang harus dia tempuh untuk membuntuti Sang Eksekutor. Qandahar dan Kolombia. Kalaupun berubah, dia akan tetap bisa mengikuti pergerakan Sang Eksekutor dari sekarang.

Andalas membuka gawainya. Membuka sebuah aplikasi dan melihat sebuah titik merah kecil tak bergerak di Old Mogadishu.

* * * * ********