Now Loading

Harapan Terakhir

Sesampainya di kamar di hotel, saya sudah tidak sabar untuk membaca surat dari Laila. Segera saya menghempaskan tubuh di tempat tidur dan membuka amplop berwarna putih itu.

Dengan mata nanar dan penasaran, saya membaca tulisan tangan yang goresannya lumayan akrab ini. Namun perasaan dan detak jantung kian menggebu karena merasa akan mendapat berita yang menggelegar.

“Bang Asep yang Tersayang,

Sudah hampir tiga minggu sejak pertemuan terakhir kita di Singapura. Muallif tampak marah sekali mengetahui kita masih berhubungan dan akhirnya Laila harus pulang ke Brunei. 

Pada mulanya dijanjikan saya boleh balik ke Singapura ketika pelajaran akan dimulai sekitar pertengahan Juni. Namun perkembangan terakhir sangat memukul Laila.

Muallif langsung melamar ke ayah dan meminta pernikahan dimajukan secepatnya untuk mencegah saya berhubungan lagi  dengan Abang.

Walau saya menolak, tetapi Muallif dan ayah tetap memaksa. Akhirnya mereka mengatur pernikahan sederhana  pada 14 Juni dengan hanya mengundang keluarga dekat termasuk Auntie Hamidah.

Hampir tiga hari tiga malam Laila menangis ketika tidak dapat membatalkan  atau menunda rencana pernikahan ini.

Laila juga tahu bahwa Abang sebenarnya tidak mencintai Laila sepenuh hati. Buktinya Keris Brunei yang Laila hadiahkan untuk Abang tidak dijaga dengan baik sehingga hilang lenyap.  Selain itu, Abang juga masih mencoba menghianati Laila dengan berhubungan dekat dengan gadis dari Melaka yang bernama Muthiah.

Mengenai Muthiah ini, sebenarnya dia masih adik sepupu Laila dan karenanya tidak mengherankan kalau wajahnya mirip dengan Laila. Saya tidak tahu apakah dia benar-benar suka sama Abang atau tidak, tetapi Laila sudah minta Muthiah untuk tidak lagi menghubungi Bang Asep.  Ini karena Abang hanyalah milik Laila seorang.

Lalu mengapa Laila tidak mengalah saja dan membiarkan Muthiah memiliki Abang kalau Laila akhirnya akan dikawinkan dengan Muallif?  Hal ini karena masih ada harapan terakhir bagi Abang untuk tetap memiliki Laila.

Bagaimana caranya?

Abang harus berani mengejar cinta Abang. Abang harus ke Brunei sebelum hari pernikahan. Saya rasa Abang masih punya waktu libur dan masih sempat pergi bertandang ke Brunei. Tunggu Laila di Perahu Mahligai. Nanti akan Laila kabarkan caranya.

Kalau Abang tidak bersedia datang. Artinya Abang memang tidak mencintai Laila. Dan mungkin ini adalah surat terakhir dari Laila.

Sekali lagi, pilihan di tangan Abang.  Masih cinta dengan Laila, datanglah ke Brunei. Abang sudah tidak cinta, Laila mengucapkan selamat tinggal.

Laila yang selalu berharap.

Bandar Seri Begawan, 3 Juni 1998 

Saya menutup surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop.  Terus terang, dalam hati kecil saya hanya ada Laila. Dia adalah gadis yang telah mencuri hati saya setelah pertemuan pertama di Perahu Mahligai.   Walau dalam hati saya juga mengakui kadang-kadang sedikit nakal mencoba bermain mata dengan Muthiah, hal ini semata-mata karena kasihan dengan gadis yang sangat mirip dengan Laila dan baru saja ditinggal kawin oleh sang pacar.

Malam itu, saya  bertekad untuk mengejar dan memperjuangkan cinta saya pada Laila. Besok saya akan mengatur keberangkatan saya ke Brunei. Biasanya ada hari-hari dimana saya punya dua hari libur, kalau perlu bisa diatur dengan Bang Zai atau yang lainnya.

Masih ada harapan, masih ada kesempatan.

Malam itu, saya bermimpi bertemu dengan Laila di Perahu Mahligai dan mendapat hadiah Keris Brunei yang baru.

Bersambung