Now Loading

Bab 47

Jenewa, 46° 12′ 23″ N, 6° 05′ 38″ E
Kantor WHO


Cecilia ingat dulu dia pernah memasuki kantor ini dengan menyamar sebagai wanita high profile yang menggelikan. Teringat juga dengan betapa tajamnya intuisi Dokter Adli Aslan yang menerimanya dengan senang hati meskipun menggunakan alasan yang paling tidak masuk akal. 1 milyar Euro? Cecilia geli ternyata dia tidak paham arti 1 milyar Euro.

Kali ini dia datang lagi bersama Akiko dan tidak perlu berbohong. Dokter Adli Aslan telah menunggu di ruangannya.

"Dokter, anda bilang kalau…” Cecilia menghentikan pertanyaannya. Dokter Adli yang nampak semakin kurus menempelkan telunjuknya di bibir. Hmm, ada telinga yang ikut mendengarkan rupanya.

"Kamu baik-baik saja Akiko?”Suara Dokter Adli terdengar normal.

Akiko mengangguk. Baru kali ini dia berjumpa langsung dengan orang yang selama ini mensupport habis-habisan misi yang sedang mereka kerjakan. Orang luar biasa! Jarang sekali orang berkedudukan tinggi mau berbuat seperti ini!

"Aku ikut prihatin dengan penyerangan yang terjadi kepadamu. Aku rasa itu juga bisa terjadi terhadap semua dari kita.” Dokter Adli tersenyum penuh simpati kepada dokter muda dari Jepang yang sangat pemberani itu. Akiko mengangguk lagi. Pikirannya sedang penuh dengan perkiraan apa sesungguhnya yang sedang mengancam Dokter Adli. Cecilia berpikiran sama.

Dokter Adli sepertinya tahu bahwa mereka saat sedang penasaran dengan apa yang terjadi dengannya. Direktur Jenderal WHO itu berdiri ke rak buku di belakang tempat duduknya. Menarik sebuah buku tebal, menjalankan mekanisme rahasia, dan sebuah pintu terbuka di belakang rak buku itu.

Dokter Adli memberi isyarat agar mereka mengikuti dirinya melalui pintu rahasia setelah mengunci pintu ruangan dan berpesan via telpon kepada sekretarisnya bahwa dia tidak bisa diganggu selama 2 jam ke depan.

Cecilia dan Akiko terheran-heran pada awalnya. Organisasi sekelas WHO tenyata juga punya bunker rahasia, tapi kemudian memahami setelah menyadari posisi Direktur Jenderal organisasi kesehatan sedunia itu memang cukup rawan dan rentan karena banyak sekali kepentingan masing-masing negara yang mengintai di belakangnya.

Aktifitas spionase sangat biasa terjadi. Tapi kali ini Dokter Adli merasa bahwa dirinya dimata-matai secara intens. Nyaris 24 jam sehari semua kegiatannya dimonitor dan disadap. Satu-satunya cara berkomunikasi paling aman adalah X-One dan ruang kecil di belakang kantornya.

"Marc, dan orang-orang kuat di belakangnya sekarang bergerak terang-terangan menentangku. Beberapa negara kuat mengajukan Mosi Tak Percaya dengan alasan aku menyembunyikan sebuah hal penting yang mesti diketahui dunia di Pandora.”Dokter Adli memandangi sebuah lukisan yang menampilkan ilustrasi Kematian Hitam abad 14 di dinding ruang rahasia ini. Lalu melanjutkan.

"Aku selalu melaporkan semua aktifitas termasuk laboratorium Pandora. Meskipun tentu aku tidak bisa membuka tentang penelitian Object X dan bayi Leopard dari Congo Basin. Belum saatnya. Akan menimbulkan kepanikan dan chaos di seluruh dunia.”

Cecilia dan Akiko bersamaan mengangguk.

"Aku bisa membayangkan itu Dokter. Bagaimanapun apa yang sedang dikerjakan Pandora justru sebaliknya. Berusaha meredam ledakan bahkan sebelum detonator terpasang. Aku pikir hal segawat ini memang harus dirahasiakan sampai kita bisa menemukan jawaban.”

Akiko menyampaikan pertanyaan yang sedari tadi berlarian dalam benaknya.

"Jadi si Marc ini. Apa yang harus kita lakukan terhadapnya?”

"Kita tidak mungkin menanggapi semua isu dan agitasi ini dengan kekerasan Akiko.”Dokter Adli sepertinya tahu apa yang ada dalam pikiran Akiko.

"Gerakan politis akan kita lawan dengan cara politis. Aku sedang mengumpulkan dukungan dari beberapa negara kuat yang masih independen dalam hal ini. Cina dan Jerman masih bisa diyakinkan bahwa WHO sedang dalam track yang benar. Hanya saja aku membutuhkan bukti untuk bisa meyakinkan mereka.”

"Bukti apa kira-kira yang bisa meyakinkan mereka Dokter?” Akiko bertanya.

"Bukti bahwa memang ancaman pandemi itu ada tapi tidak harus menyertakan Object X dan bayi Leopard. Aku ingin berdiskusi dengan kalian mengenai strategi ini.”

Sejenak Cecilia merenung. Lalu mengangkat wajahnya dengan wajah ragu-ragu.

"Kita adakan pertemuan dengan pemerintah China dan Jerman. Menjelaskan semua ini berikut kita hadirkan saksi-saksi dari titik nol di Congo Basin dan titik nol di Hantaa 01.”

Akiko menoleh.

"Jadi maksudmu kita membawa saksi-saksi seperti Fabumi, Kapten Shinji, Mualim Yoshido?”

Cecilia mengangguk.

"Mereka adalah saksi hidup yang bisa menguatkan narasi diplomasi yang kita bangun terhadap 2 negara tersebut.”

Dokter Adli memandang Cecilia dengan kagum. Tidak salah dia menunjuk wanita ini sebagai team leader.

"Jadi apa rencanamu Cecilia?”

"Aku dan Akiko akan pergi mencari Hantaa 05 dan kontak dengan Kapten Shinji Akira dan Mualim Yoshido. Andalas mempunyai tugas membebaskan Fabumi karena terakhir berita yang kudengar dia ditahan oleh GRU dan disembunyikan di suatu tempat. Andalas sangat mahir untuk itu.”

Akhirnya disepakati mereka akan menjalankan rencana Cecilia. Dokter Adli sendiri akan terus berdiplomasi dengan negara-negara yang masih memungkinkan untuk tetap mendukungnya sebagai Direktur Jenderal WHO.

Cecilia dan Akiko berpamitan. Dokter Adli menutup kembali ruang rahasia. Begitu pintu hampir tertutup, seekor serangga kecil seperti laba-laba ikut menyelinap mengikuti langkahnya lalu menghilang di bawah lemari buku.

Di sebuah ruangan masih di gedung yang sama, Marc melepaskan headset dari telinga dan menghubungi seseorang dengan gawainya.

"Pierre, kali ini jangan kalah cepat lagi. Minta agen-agen terbaik DGSE mengikuti jejak Cecilia dan Akiko. Juga seseorang bernama Andalas.”

* * * * *******